Iran Sebut Amerika Alami Kelelahan Strategis, IRGC Ancam Inggris Jika Bantu Serangan AS - Tribunnews
Iran Sebut AS Alami Kelelahan Strategis, IRGC Ancam Inggris Jika Bantu Serangan AS
Ringkasan Berita:
- Iran menyatakan menghentikan serangan balasan setelah Amerika Serikat menghentikan serangan udara selama dua malam berturut-turut.
- Meski terdapat sinyal deeskalasi, Pentagon disebut tetap menyiapkan opsi operasi militer, sementara Iran mengancam akan menyerang negara yang membantu kampanye AS.
- Teheran juga menilai konflik telah meluas dari Selat Hormuz ke Bab al-Mandab, meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran global.
TRIBUNNEWS.COM - Iran mengumumkan menghentikan operasi serangan balasan setelah Amerika Serikat menghentikan serangan udara terhadap wilayahnya selama dua malam terakhir.
Meski demikian, berbagai pernyataan dari Washington dan Teheran menunjukkan risiko meluasnya konflik di Timur Tengah masih tinggi.
Baca juga: AS Mendadak Setop Serang Iran, Isu Amunisi Menipis Bikin Heboh, Trump Gentar Berbuat Nekat
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan penghentian operasi dilakukan karena strategi militer Teheran bersifat responsif terhadap tindakan lawan.
"Karena strategi kami pada dasarnya bersifat pembalasan, kami juga telah menghentikan operasi pembalasan," kata Akraminia, Sabtu (26/7/2026).
Laporan CBS, yang mengutip pejabat regional tanpa menyebut nama, menyatakan Amerika Serikat menghentikan sementara gelombang serangan udara guna menghindari gangguan terhadap jalur diplomatik langsung antara Iran dan Oman.
Menurut sumber yang dikutip Axios, Presiden AS Donald Trump memerintahkan penghentian sementara operasi udara pada 25 Juli setelah rangkaian serangan selama 13 hari.
Namun, militer AS disebut tetap menyiapkan rencana darurat apabila operasi skala besar perlu kembali dilanjutkan.
Sejumlah media AS juga melaporkan Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine telah membahas risiko eskalasi konflik dalam pertemuan di Gedung Putih.
Seorang pejabat Pentagon kemudian menyatakan operasi ofensif untuk sementara "ditangguhkan".
Diplomasi Hormuz Berjalan
Di tengah jeda operasi militer, Iran dan Oman melanjutkan pembicaraan mengenai keamanan Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut kedua negara menggelar beberapa putaran dialog pada 24-25 Juli di Teheran pada tingkat wakil menteri luar negeri untuk membahas prinsip-prinsip umum dan mekanisme praktis menjamin keselamatan pelayaran di jalur energi paling strategis di dunia tersebut.
Meski disebut menghasilkan sejumlah kemajuan, situasi keamanan di Selat Hormuz dinilai masih rapuh.
Iran: Konflik Kini Meluas ke Bab al-Mandab
Dalam pernyataan terpisah yang dikutip CNN, Akraminia menilai penghentian serangan udara AS merupakan indikasi bahwa Washington mengalami "kelelahan strategis".
"Serangan udara AS tidak dapat membantu mereka mengendalikan Selat Hormuz maupun melemahkan kemampuan pertahanan Iran," ujarnya.
Ia juga mengatakan dinamika konflik kini tidak lagi terbatas di Teluk Persia.
"Cakupan konflik kini telah meluas ke Selat Bab al-Mandab," katanya, merujuk pada meningkatnya konfrontasi antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi di kawasan Laut Merah.
Dalam beberapa hari terakhir, Houthi mengumumkan blokade terhadap pelayaran yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah. Sebagai balasan, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran Houthi di Hodeidah.
Perkembangan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa jalur pelayaran global kini menghadapi tekanan di dua titik strategis sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab, yang menjadi koridor utama distribusi minyak dan gas dunia.
Iran Ancam Inggris
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Barat.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi memperingatkan bahwa Inggris maupun negara lain yang memberikan dukungan militer kepada Amerika Serikat akan diperlakukan sebagai target militer yang sah.
"Jika Inggris bekerja sama dengan Amerika Serikat, mereka akan menjadi target yang pasti dan sah bagi kami. Kami memiliki skenario khusus untuk setiap kemungkinan situasi. Iran tidak akan mundur," kata Mohebbi.
Ia juga menuduh Israel berupaya mempertahankan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan dengan memberikan informasi yang keliru kepada Presiden Donald Trump.
Meski terdapat sinyal deeskalasi melalui penghentian sementara serangan udara dan pembicaraan diplomatik Iran-Oman, pernyataan saling mengancam dari berbagai pihak menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis.
Ancaman terhadap keamanan jalur pelayaran internasional serta kemungkinan keterlibatan lebih banyak negara tetap menjadi perhatian utama.