Iran Ancam AS-Israel jika Menyerang saat Pemakaman Ali Khamenei - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Iran memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melancarkan serangan selama pemakaman Ali Khamenei pada 4-9 Juli 2026, seraya mengancam akan membalas dengan keras jika hal itu terjadi.
- Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengajak rakyat menghadiri prosesi pemakaman sebagai simbol persatuan dan penghormatan.
- Pemakaman Khamenei diperkirakan menjadi yang terbesar dalam sejarah Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel agar tidak melakukan serangan apa pun selama rangkaian pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Teheran menegaskan akan memberikan respons tegas apabila kedua negara melancarkan aksi militer di tengah prosesi yang diperkirakan menjadi pemakaman terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran.
Peringatan tersebut disampaikan Komandan Markas Gabungan Khatam al-Anbiya Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi.
Ia menegaskan bahwa Iran siap memberikan "pembalasan keras" jika Israel atau AS melakukan "kesalahan perhitungan" selama berlangsungnya upacara pemakaman.
Prosesi pemakaman Ali Khamenei dimulai pada Sabtu (4/7/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga Rabu (9/7/2026).
Rangkaian acara digelar di sejumlah kota penting bagi umat Islam Syiah, yakni Teheran, Qom, dan Mashhad di Iran, serta Najaf dan Karbala di Irak.
Puncak prosesi akan berlangsung pada 9 Juli 2026 ketika Ali Khamenei dimakamkan di kompleks makam Imam Reza di Kota Mashhad, salah satu situs suci paling penting bagi umat Islam Syiah yang setiap tahun dikunjungi jutaan peziarah.
Pemerintah Iran juga menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Berbagai acara penghormatan akan terus digelar hingga peringatan 40 hari wafatnya Ali Khamenei, lapor SNN TV.
Dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026, Ali Khamenei terbunuh bersama putrinya, menantunya, cucunya yang berusia 3 tahun, dan Zahra Haddad-Adel, istri putranya, Mojtaba Khamenei yang kini menjadi Pemimpin Tertinggi Iran.
Baca juga: Momen Pejabat Asing Hadiri Pemakaman Ali Khamenei di Iran, Beri Penghormatan Terakhir
Ghalibaf Serukan Persatuan dan "Balas Dendam"
Menjelang dimulainya prosesi pemakaman, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengajak rakyat Iran berpartisipasi secara besar-besaran dalam upacara tersebut.
Menurutnya, kehadiran masyarakat merupakan bentuk penghormatan sekaligus jawaban atas terbunuhnya Ali Khamenei.
"Rakyat Iran diundang untuk menciptakan halaman gemilang dalam sejarah negara melalui partisipasi luas mereka, dan untuk menunjukkan persatuan bangsa serta kesetiaannya kepada kepemimpinan," kata Ghalibaf, Jumat (3/7/2026).
Ia menambahkan bahwa rakyat Iran tidak akan tinggal diam menghadapi apa yang disebutnya sebagai ketidakadilan.
"Rakyat Iran tidak akan tinggal diam menghadapi ketidakadilan dan kesombongan, serta tidak akan mengabaikan darah pemimpin mereka. Seruan bangsa untuk balas dendam harus bergema di seluruh dunia," ujarnya.
Dalam prosesi penghormatan terakhir untuk Ali Khamenei, Ghalibaf terlihat menangis sambil mendoakan jenazah Pemimpin Tertinggi Iran itu.
Pemerintah Iran mengusung slogan "Kita Harus Bangkit" sebagai tema resmi rangkaian pemakaman, yang disertai simbol kepalan tangan terangkat sebagai lambang persatuan dan perlawanan, lapor Euro News.
Latar Belakang Perang AS-Israel VS Iran
Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas strategis Iran menyusul kegagalan perundingan program nuklir di Jenewa.
AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan damai, termasuk riset ilmiah dan pengembangan energi sipil.
Konflik semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut. Kepemimpinan Iran kemudian beralih kepada putranya, Mojtaba Khamenei, yang mengambil alih jabatan di tengah kondisi keamanan yang masih belum stabil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah wilayah di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Teheran juga memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Konflik meluas ketika Hizbullah membuka front pertempuran dari Lebanon. Israel kemudian meningkatkan operasi militernya dengan melancarkan serangan udara ke Beirut dan sejumlah wilayah di Lebanon selatan.
Setelah hampir 40 hari pertempuran, Pakistan memediasi perundingan yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Kesepakatan itu membuka kembali jalur komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran.
Proses diplomasi berlanjut pada 17 Juni 2026 ketika kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara terpisah.
Presiden AS Donald Trump menandatangani dokumen tersebut di Paris, Prancis, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani dokumen serupa di Teheran.
Meski ketegangan kembali meningkat setelah Washington menuding Iran berada di balik serangan terhadap kapal dagang Kiku di Selat Hormuz, kedua negara tetap menyatakan komitmen untuk melanjutkan dialog sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik pascaperang.
Qatar sebelumnya mengumumkan bahwa pembicaraan lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat akan kembali digelar setelah rangkaian pemakaman Ali Khamenei yang berlangsung pada 4-9 Juli 2026.
Sebagai bagian dari prosesi tersebut, peti jenazah Ali Khamenei dibawa ke Grand Mosalla, Teheran, pada Jumat (3/7/2026) pagi untuk menjalani upacara penghormatan terakhir yang dihadiri para pejabat asing dan tokoh agama sebelum dibuka bagi masyarakat.
Selanjutnya, jenazah dijadwalkan diarak ke sejumlah kota di Iran dan Irak hingga prosesi pemakaman berakhir pada 9 Juli 2026.
Di tengah persiapan pemakaman, Jenderal Ahmad Vahidi, salah satu tokoh senior Garda Revolusi Iran, kembali tampil di hadapan publik setelah sebelumnya tidak terlihat selama beberapa waktu.
Berdasarkan foto yang dirilis media pemerintah Iran, Vahidi menghadiri upacara penghormatan pada Kamis (2/7/2026) malam dan tampak duduk di samping peti jenazah Ali Khamenei.
Sementara itu, Qatar dan Pakistan selaku mediator menyatakan perundingan lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat akan segera dijadwalkan setelah seluruh rangkaian pemakaman selesai sebagai bagian dari upaya melanjutkan proses diplomasi di tengah situasi kawasan yang masih tegang.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)