Irak Capai Kesepakatan dengan Perusahaan Minyak Barat, Bisa Ekspor Minyak Tanpa Lewat Selat Hormuz - Tribunnews

Ringkasan Berita:
- Irak dan Suriah menandatangani perjanjian kerja sama untuk membangun kembali jalur pipa minyak mentah.
- Kantor berita negara Irak melaporkan bahwa perusahaan energi besar AS, Chevron, akan melaksanakan proyek tersebut berdasarkan kesepakatan itu.
- Irak berupaya untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada Selat Hormuz, di mana transit telah sangat terganggu karena perang AS-Israel melawan Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Irak telah mencapai puluhan kesepakatan dengan perusahaan minyak Barat.
Kesepakatan itu termasuk untuk memulihkan jalur pasokan energi yang dapat digunakan Irak untuk mengekspor minyaknya tanpa melalui Selat Hormuz.
Kesepakatan awal, yang ditandatangani pada pertemuan puncak bisnis Amerika Serikat-Irak di Kamar Dagang AS di Washington pada Jumat (17/7/2026), muncul ketika Baghdad berupaya untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada Selat Hormuz, di mana transit telah sangat terganggu karena perang AS-Israel melawan Iran.
Irak dan Suriah menandatangani perjanjian kerja sama untuk membangun kembali jalur pipa minyak mentah Irak-Suriah yang telah lama tidak berfungsi, yang membentang dari wilayah Kirkuk yang kaya minyak di Irak utara ke pelabuhan Baniyas di Laut Mediterania, Suriah.
Kantor berita negara Irak melaporkan bahwa perusahaan energi besar AS, Chevron, akan melaksanakan proyek tersebut berdasarkan kesepakatan itu.
Dalam sebuah pernyataan, Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya menyambut baik rencana Irak dan Suriah untuk merehabilitasi jalur pipa tersebut, yang menurut mereka akan ditangani oleh "konsorsium internasional yang dipimpin AS" untuk "aspek teknis dan keuangannya".
“Setelah direhabilitasi, proyek inovatif ini akan memiliki kapasitas pengangkutan awal sebesar 2 juta barel minyak mentah per hari,” kata Departemen Luar Negeri AS, Jumat, dilansir Al Jazeera.
Mereka menyebut jalur pipa tersebut sebagai “koridor energi penting yang menghubungkan produksi minyak Irak ke pasar ekspor Mediterania dan sekitarnya”.
AS Blokade Selat Hormuz
Amerika Serikat sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa (14/7/2026) pagi.
Serangan terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington "memperbarui" blokade terhadap Iran di Selat Hormuz.
Donald Trump secara terpisah mengisyaratkan Amerika Serikat akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal lain untuk jalur aman, yang membalikkan kebijakan AS selama ratusan tahun yang mendukung kebebasan navigasi di seluruh dunia.
Baca juga: Iran Tuding Kapal Tanker Meledak Akibat Ranjau di Selat Hormuz, AS Sebut Klaim IRGC Tak Benar
Iran membalas dengan serangan yang menargetkan Bahrain dan dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab yang melintas di Selat Hormuz, menewaskan satu pelaut dan melukai delapan lainnya.
Serangan-serangan ini terjadi ketika Iran dan AS sama-sama bersaing untuk menguasai Selat Hormuz yang dulunya dilalui seperlima dari seluruh minyak mentah dan gas alam pada masa damai.
Harga minyak mentah Brent acuan naik ke level tertinggi satu bulan di atas $84 pada perdagangan Selasa pagi, masih jauh di bawah hampir $120 yang dicapai pada puncak perang tetapi mengancam akan membuat biaya di mana-mana menjadi lebih tinggi.

Pada Senin (13/7/2026), Trump mengatakan kepada pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt kesepakatan yang dicapai bulan lalu "dirancang untuk menguji" Iran.
“Mereka tidak menghormati hasil tes tersebut,” kata Trump, seperti diberitakan AP News.
Di sisi lain, Iran menegaskan mereka berhak mengatur lalu lintas melalui Selat Hormuz dan berpotensi mengenakan biaya sesuai dengan kesepakatan perdamaian sementara. Namun AS membantah hal itu.
Militer Amerika dan Organisasi Maritim Internasional PBB telah berupaya membangun jalur melalui selat di sepanjang pantai Oman yang berada di luar kendali Iran.
Iran telah menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur tersebut, dengan alasan AS melanggar kesepakatan perdamaian sementara.
AS kemudian menyerang Iran sebagai balasan, yang memicu serangan Iran terhadap negara-negara Arab sekutu AS.
Baku tembak dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan keraguan lebih lanjut terhadap kesepakatan perdamaian sementara.
AS telah mencabut blokade yang diberlakukannya pada pertengahan April 2026 sebagai bagian dari kesepakatan itu, yang juga menyerukan agar selat tersebut dibuka kembali sepenuhnya.
Namun, kini AS kembali menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran.
“Kami memberlakukan kembali blokade Iran,” kata Trump di media sosial.
“Semua negara lain akan memiliki hak penggunaan Selat yang adil dan terbuka," jelasnya.
(Tribunnews.com/Nuryanti)