Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Lintas Peristiwa Spesial Venezuela

    Ayah dan Anak Ditemukan Selamat setelah 4 Hari Tertimbun Reruntuhan Akibat Gempa Venezuela - Tribunnews

    7 min read

     


    11:33 Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia
    Ringkasan Berita:
    • Seorang ayah dan putranya berhasil diselamatkan setelah empat hari terjebak di reruntuhan akibat gempa kembar Venezuela.
    • Operasi penyelamatan dilakukan tim Amerika Serikat dan Prancis setelah 12 jam pencarian. 
    • Sementara itu, pemerintah Venezuela menutup sekolah dan mengalihfungsikannya menjadi pusat bantuan bagi para korban.

    TRIBUNNEWS.COM - Seorang ayah dan putranya berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup dari reruntuhan bangunan yang ambruk, empat hari setelah dua gempa bumi dahsyat mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) malam waktu setempat atau Kamis pagi waktu Indonesia.

    Mengutip TRT World, petugas penyelamat membawa keduanya, yang tampak lemah dan sama-sama mengenakan masker, menggunakan tandu darurat melewati jalan-jalan yang dipenuhi puing menuju ambulans yang telah menunggu.

    Sejumlah warga tampak berkumpul di sekitar kendaraan darurat di La Guaira, Minggu.

    Negara bagian pesisir La Guaira menjadi wilayah yang paling parah terdampak gempa kembar tersebut.

    Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 itu dilaporkan telah menewaskan 1.450 orang, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.

    Keberhasilan penyelamatan itu terjadi setelah 12 jam operasi yang dilakukan tim penyelamat dari Amerika Serikat dan Prancis yang menyisir reruntuhan menggunakan kamera pencarian khusus.

    Tim bekerja dengan sangat hati-hati melewati puing-puing yang tidak stabil untuk mencapai para korban yang terjebak.

    "Mereka sangat lemah, seperti halnya pasien yang terjebak di bawah reruntuhan selama empat hari. Jadi kami melakukan segala yang mungkin untuk menghidrasi mereka dan memberikan berbagai obat selama proses evakuasi, yang berjalan sangat lambat," kata seorang anggota Keamanan Sipil Prancis.

    Baca juga: Citra Satelit Ungkap Skala Kerusakan Gempa Venezuela

    GEMPA DI VENEZUELA - Tangkap layar YouTube Sky News 28 Juni 2026, memperlihatkan tim penyelamat mencari korban gempa di bawah reruntuhan. Hingga kini gempa menewaskan 1.450 orang, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.
    GEMPA DI VENEZUELA - Tangkap layar YouTube Sky News 28 Juni 2026, memperlihatkan tim penyelamat mencari korban gempa di bawah reruntuhan. Hingga kini gempa menewaskan 1.450 orang, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang. (Tangkapan layar dari Sky News)

    Berpacu dengan Waktu

    Tim penyelamat terdiri atas anggota Keamanan Sipil Prancis dan tim penyelamat Amerika Serikat dari Tim Pencarian dan Penyelamatan Perkotaan Fairfax County di Virginia. 

    Sehari sebelumnya, mereka juga berhasil menyelamatkan seorang ibu bersama bayinya yang berusia sembilan bulan.

    Sebelum mengevakuasi kedua korban, tim penyelamat memasang infus intravena dan terlebih dahulu membersihkan puing-puing di sekitar lokasi.

    Sementara itu, anggota tim lainnya tetap berada di sekitar reruntuhan untuk mencari tanda-tanda kehidupan serta berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka yang berada di dalam area bangunan yang ambruk.

    Setidaknya 33 orang berhasil diselamatkan sepanjang akhir pekan.

    Namun, puluhan ribu orang masih dinyatakan hilang, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa waktu untuk menemukan korban selamat semakin sempit.

    Menurut para ahli, setelah 72 jam pascagempa, peluang menemukan korban dalam keadaan hidup di bawah reruntuhan akan menurun drastis.

    "Kita berada di saat-saat yang sangat krusial untuk terus menyelamatkan nyawa dan membangun kamp bagi warga yang kehilangan rumah atau tidak dapat kembali ke tempat tinggal mereka karena berbagai alasan," kata Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, mengutip Guardian.

    Semua Sekolah di Venezuela Tetap Ditutup

    Sementara itu, seluruh sekolah di Venezuela masih ditutup hingga setidaknya 6 Juli karena kerusakan parah akibat gempa, kata Kementerian Pendidikan Venezuela.

    Pemerintah mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi melalui saluran resmi guna memperoleh perkembangan terbaru.

    Kementerian Pendidikan juga menyatakan bahwa sekolah-sekolah akan dialihfungsikan menjadi pusat bantuan darurat dan tempat penampungan sementara bagi keluarga yang terdampak gempa bumi.

    Kata Pakar

    Venezuela bagian utara memiliki sejarah panjang mengalami gempa bumi yang merusak.

    Salah satunya adalah gempa berkekuatan magnitudo 6,3 yang mengguncang Caracas pada 1967 dan menewaskan lebih dari 200 orang serta melukai ratusan lainnya, menurut USGS.

    Meski gempa bumi besar relatif jarang terjadi di wilayah yang terdampak gempa kembar pada Rabu (24/6/2026), kawasan tersebut juga pernah diguncang dua gempa berkekuatan magnitudo 6,2 dan 6,3 pada September 2025.

    Menurut USGS, bencana itu melukai lebih dari 110 orang dan menyebabkan kerusakan struktural yang meluas di Venezuela bagian barat.

    Dilansir northeastern.edu, sejumlah ahli menilai banyak bangunan yang runtuh dibangun menggunakan beton non-ulet atau beton rapuh. 

    Penilaian tersebut juga disampaikan oleh Mehrdad Sasani, profesor Teknik Sipil dan Lingkungan di Universitas Northeastern.

    "Kemampuan sebuah bangunan untuk bertahan dari gempa bumi sangat bergantung pada seberapa besar bangunan tersebut dapat bergerak," jelas Sasani.

    "Struktur yang lebih ulet mampu menyerap lebih banyak energi dan mengalami deformasi tanpa runtuh. Sebaliknya, struktur yang rapuh hanya mampu menoleransi sedikit pergerakan sebelum akhirnya gagal," lanjutnya.

    Sasani, yang merupakan pakar keruntuhan bangunan serta ketahanan bangunan dan komunitas terhadap bencana, mengatakan kode bangunan tahan gempa di Venezuela saat ini berasal dari 1982.

    Saat itu, pemerintah mengadopsi standar bangunan tahan gempa yang lebih modern untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terungkap dalam peristiwa seismik sebelumnya.

    "Bangunan yang dirancang sebelum penerapan kode tersebut jauh lebih rentan mengalami keruntuhan," ujar Sasani.

    "Bahkan di Amerika Serikat, sebelum pertengahan 1970-an, banyak bangunan belum dirancang dengan baik untuk menahan gempa bumi," tambahnya.

    Pejabat USGS menyatakan banyak bangunan yang hancur dibangun menggunakan batu bata tanpa tulangan dan konstruksi blok adobe, yakni material bangunan berbahan tanah yang dikeringkan tanpa penguatan baja seperti pada bangunan modern.

    Menurut Sasani, bangunan dengan konstruksi seperti itu jauh lebih rentan terhadap guncangan tanah yang kuat karena bobotnya lebih berat dan kemampuannya menyerap energi gempa jauh lebih rendah.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

    Komentar
    Additional JS