IRGC Ancam Pangkalan AS di Timur Tengah: Neraka Menanti dalam Beberapa Hari! - Tribunnews
Komandan Angkatan Laut IRGC menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan akan menghadapi konsekuensi serius.
Tayang:
Press TV
PARADE DI LAUT - Kapal-kapal IRGC ikut serta dalam parade di lautan tanggal 27 Maret 2025 untuk mendukung Palestina.
IRGC Ancam Pangkalan AS di Timur Tengah: Neraka Menanti dalam Beberapa Hari!
Ringkasan Berita:
- Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah akan menghadapi "neraka" dalam beberapa hari mendatang.
- Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas rudal, drone, dan radar pantai Iran, dengan alasan Teheran melanggar gencatan senjata.
- Iran menyatakan telah membalas dengan serangan rudal dan drone ke pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, serta memperingatkan proses diplomatik dapat terhenti jika eskalasi berlanjut.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) melontarkan ancaman keras terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah menyusul saling serang yang terjadi setelah gencatan senjata.
Komandan Angkatan Laut IRGC menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan akan menghadapi konsekuensi serius.
Baca juga: IRGC Ultimatum AS: Serangan Berbalas Berlanjut, Iran Isyaratkan Tinggalkan Meja Perundingan
"Perhitungan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan adalah persoalan tersendiri. Mereka akan menghadapi neraka dalam beberapa hari mendatang," kata komandan tersebut, seperti dikutip Press TV.
Ia juga menegaskan bahwa tindakan terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar aturan di Selat Hormuz dimaksudkan sebagai peringatan bagi kapal lain agar tetap menggunakan jalur pelayaran yang dinilai aman.
Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata
IRGC menuduh Amerika Serikat telah melanggar ketentuan pertama dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani di Islamabad.
Menurut pernyataan IRGC yang dikutip media pemerintah Iran, pelanggaran terhadap gencatan senjata berpotensi menghentikan seluruh proses diplomatik yang sedang berlangsung.
"Pelanggaran terhadap gencatan senjata bertentangan dengan ketentuan pertama dalam nota kesepahaman dan akan menyebabkan penghentian total seluruh proses diplomatik," demikian pernyataan IRGC.
Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain
Sebagai respons atas serangan Amerika, IRGC mengklaim telah melancarkan operasi gabungan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan dua fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Menurut televisi pemerintah Iran, sasaran operasi tersebut meliputi:
- Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
- Pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Pelabuhan Salman, Bahrain.
- Iran juga memperingatkan akan memberikan "respons yang menghancurkan" apabila Washington kembali melakukan serangan terhadap wilayahnya.
Trump Akui Serangan ke Fasilitas Militer Iran
Di pihak lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah menyerang sejumlah target militer Iran.
Menurut Trump, sasaran operasi meliputi lokasi penyimpanan rudal, gudang drone, serta instalasi radar pantai di sekitar Kota Sirik dan Pulau Qeshm. Serangan juga dilaporkan menghantam wilayah pinggiran Bandar Lengeh.
Trump menyatakan operasi tersebut dilakukan karena Iran dianggap telah melanggar gencatan senjata.
Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap melakukan tindakan yang lebih besar apabila eskalasi terus berlanjut, termasuk ancaman "kehancuran total" terhadap Republik Islam Iran.
Insiden di Selat Hormuz
Media pemerintah Iran IRIB juga melaporkan adanya konfrontasi antara Angkatan Laut IRGC dengan sejumlah kapal di bagian selatan Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, kapal-kapal itu berupaya melintasi jalur yang disebut sebagai rute ilegal dan tidak aman, sehingga memicu tindakan langsung dari pasukan Iran.
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen mengenai rincian insiden maupun klaim serangan dari kedua belah pihak.
Pernyataan yang disampaikan masing-masing pihak juga belum dapat diverifikasi secara independen.