AS Lancarkan Gelombang Serangan Baru ke Iran, Ketegangan Selat Hormuz Memanas dan Gencatan Senjata Kian Terancam - Jawa Pos
JawaPos.com — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Washington melancarkan gelombang serangan militer terbaru ke sejumlah sasaran Iran di tengah sengketa mengenai Selat Hormuz. Eskalasi ini memicu serangkaian serangan balasan dari Teheran ke kepentingan militer AS di kawasan Teluk sekaligus memperbesar ancaman terhadap kelangsungan gencatan senjata sementara yang baru disepakati beberapa pekan lalu.
Perkembangan terbaru tersebut juga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur transit sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global. Gangguan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga energi sekaligus menambah tekanan terhadap perekonomian dunia yang masih menghadapi inflasi tinggi.
Dilansir dari The Guardian, Senin (13/7/2026), Komando Pusat Militer AS (US Central Command/CENTCOM) menyatakan serangan terbaru dimulai sekitar pukul 21.00 GMT pada Minggu (12/7) malam. Operasi tersebut disebut bertujuan terus melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal sipil maupun kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
CENTCOM juga menyebut Presiden Donald Trump telah memerintahkan operasi tersebut untuk meminta pertanggungjawaban Iran atas berbagai serangan terhadap jalur pelayaran internasional. Trump bahkan menegaskan operasi militer itu akan terus berlanjut. "Kami sedang menghajar mereka," kata Trump mengenai rangkaian serangan akhir pekan terhadap Iran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS di kawasan. Militer Yordania menyatakan berhasil mencegat empat rudal Iran, sementara Angkatan Bersenjata Kuwait mengatakan tengah menghadapi sejumlah sasaran udara yang mereka sebut sebagai ancaman.
Sebelumnya pada Minggu, Iran juga memperluas serangan hingga ke Qatar, negara yang selama ini berperan sebagai mediator dalam pembicaraan gencatan senjata. Uni Emirat Arab juga melaporkan sistem pertahanan udaranya mencegat rudal dan drone Iran.
Sementara itu, media Iran melaporkan ledakan dan serangan rudal terjadi di sekitar Kota Sirik, Bandar Abbas, serta Pulau Qeshm yang menjadi lokasi sejumlah fasilitas militer penting di sekitar Selat Hormuz. CENTCOM menyebut pihaknya melancarkan sekitar 140 serangan pada Sabtu malam, sedangkan sehari sebelumnya militer AS mengklaim telah menghantam lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga malam berturut-turut.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim menyerang sasaran di Yordania, Kuwait, Oman, dan Qatar, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras operasi terbaru AS. Dalam pernyataannya, Teheran menilai tindakan Washington telah menggagalkan seluruh upaya diplomasi yang selama beberapa bulan terakhir ditempuh untuk meredakan ketegangan di kawasan Asia Barat.
"Pemerintah AS telah membuat seluruh upaya beberapa bulan terakhir untuk menurunkan ketegangan dan mewujudkan perdamaian di kawasan Asia Barat menjadi sia-sia," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.
Iran juga menuduh AS secara terbuka ikut mengganggu pengaturan yang sedang disiapkan Teheran di Selat Hormuz sehingga memicu kembali ketidakamanan di jalur perdagangan internasional tersebut. Menurut Teheran, pembicaraan dengan Oman di Muscat pada Sabtu mengenai pengelolaan selat dan jalur pelayaran juga gagal mencapai kesepakatan akibat tekanan AS terhadap Oman, baik secara terbuka maupun tertutup.
Di tengah situasi itu, peluang penyelamatan gencatan senjata sementara semakin mengecil. Dalam beberapa hari terakhir Trump menyatakan dirinya menganggap kesepakatan tersebut praktis telah berakhir, meski masih membuka peluang perundingan baru. Namun, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan sikap negaranya melalui media sosial X.
"Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan: tepati janji Anda atau bersiap menanggung konsekuensinya. Kenyataan kini sedang mengetuk pintu," tulis Ghalibaf.
Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari itu terus memunculkan guncangan terhadap perekonomian global. Harga minyak yang sebelumnya sempat turun setelah pengumuman gencatan senjata kembali melonjak lebih dari 3,5 persen saat perdagangan berjangka dibuka di Tokyo. Minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) juga kembali diperdagangkan di atas USD 74 per barel, setara sekitar Rp1,3 juta per barel dengan asumsi kurs sekitar Rp18.073 per dolar AS.
Di sisi lain, Iran tetap berupaya menerapkan sistem permanen pemungutan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz serta memperingatkan seluruh kapal agar tidak berlayar tanpa otorisasi dari Teheran. Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk bahkan menyatakan pelayaran di selat tersebut untuk sementara tidak memungkinkan akibat aktivitas militer AS yang mereka sebut ilegal.
Sebaliknya, Washington menegaskan pasukannya akan terus menjaga kebebasan navigasi, sementara Joint Maritime Information Centre yang dipimpin Angkatan Laut AS menyatakan jalur selatan dekat Oman masih dapat digunakan kapal komersial meski tingkat ancaman keamanan tetap sangat tinggi.