Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Featured Spesial

    AS Hadapi Dilema Besar, Stok Rudal Menyusut saat Konflik dengan Iran Terus Memanas. - Tribunnews

    7 min read

      

    Ringkasan Berita:
    • Analis menilai AS akan menghadapi tantangan logistik karena persediaan rudal pertahanan udara dan rudal jarak jauh terus berkurang seiring meningkatnya operasi militer terhadap Iran
    • Kondisi ini memaksa Amerika terus menguras stok rudal untuk mempertahankan pangkalan serta sekitar 50.000 personelnya di kawasan.
    • Jika konflik terus berlangsung tanpa penyelesaian diplomatik, Washington dapat menghadapi tekanan besar terhadap logistik, rantai pasok amunisi, dan kesiapan militernya.

    TRIBUNNEWS.COM – Kemampuan militer Amerika Serikat (AS) untuk mempertahankan operasi perang skala penuh melawan Iran kembali menjadi sorotan.

    Sejumlah analis menilai Washington menghadapi tantangan besar karena persediaan rudal pertahanan udara dan rudal serang jarak jauhnya mulai menyusut di tengah konflik yang terus bereskalasi.

    Kondisi tersebut muncul ketika pemerintahan Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan perluasan operasi militer terhadap Iran.

    Namun, sejumlah pakar pertahanan mengingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi menghadapi kendala logistik apabila konflik berlangsung dalam jangka panjang.

    Salah satu peringatan datang dari peneliti senior bidang pertahanan dan kebijakan luar negeri di Cato Institute, Katherine Thompson. Menurutnya, faktor waktu akan menjadi penentu utama kemampuan Amerika Serikat mempertahankan operasi militer berskala besar.

    Thompson menilai stok amunisi Amerika masih dapat menopang operasi jika konflik segera mereda melalui kesepakatan gencatan senjata, akan tetapi apabila perang berlangsung hingga satu atau dua tahun, tekanan terhadap persediaan rudal diperkirakan akan semakin besar.

    "Waktu adalah faktor utama. Jika konflik berakhir dalam beberapa minggu, situasinya mungkin masih bisa dikendalikan. Namun jika perang berlangsung satu atau dua tahun, saya rasa persediaan amunisi Amerika tidak akan berada dalam kondisi yang baik," ujar Thompson, dikutip dari New York Post.

    Serangan Iran Jadi Tantangan AS

    Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah serangan Iran pada akhir pekan lalu menewaskan dua tentara Amerika Serikat di Yordania.

    Menurut Thompson, insiden itu memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi Washington dalam melindungi sekitar 50.000 personel militer AS yang ditempatkan di berbagai pangkalan di Timur Tengah.

    Baca juga: Nyawa 50 Ribu Tentara AS Terancam, Media Sebut Trump Kesulitan Hadapi Serangan Iran

    Besarnya jumlah pasukan di kawasan membuat kebutuhan terhadap rudal pencegat dan sistem pertahanan udara terus meningkat. Di sisi lain, Iran dinilai masih memiliki kemampuan meluncurkan rudal balistik, roket, dan drone dalam jumlah besar sehingga mampu terus memberikan tekanan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika.

    Ia menilai kondisi tersebut membuat Amerika harus terus menguras stok persenjataannya hanya untuk mempertahankan keamanan pangkalan dan personel militernya di kawasan.

    "Serangan-serangan tersebut menunjukkan bahwa besarnya kehadiran militer AS di Timur Tengah telah menjadi beban tersendiri. Persediaan rudal terus digunakan untuk melindungi pangkalan-pangkalan itu, sementara Iran masih mampu melancarkan serangan balasan," jelas Thompson.

    Ribuan Rudal Sudah Digunakan

    Kekhawatiran mengenai menipisnya stok rudal juga disampaikan sejumlah lembaga kajian pertahanan.

    Berdasarkan analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebelum konflik kembali memanas pada Juli 2026, militer Amerika telah menggunakan lebih dari 3.000 rudal, termasuk rudal Tomahawk, Patriot, dan JASSM dalam berbagai operasi terhadap Iran.

    Selain itu, Amerika Serikat juga telah mengerahkan ratusan sistem persenjataan canggih lainnya, termasuk Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) untuk menghadapi ancaman rudal balistik.

    CSIS memperkirakan sebagian besar persediaan tersebut baru dapat dipulihkan ke tingkat sebelum perang pada akhir dekade ini. Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi kemampuan Amerika apabila harus mempertahankan operasi militer dalam waktu yang panjang atau menghadapi konflik di kawasan lain.

    Thompson juga menjelaskan bahwa sebagian besar rudal tersebut digunakan pada enam hari pertama Operasi Epic Fury, ketika Washington meyakini serangan awal telah berhasil melemahkan kemampuan rudal Iran.

    Namun perkembangan di lapangan menunjukkan situasi berbeda. Iran masih mampu meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone sehingga ancaman terhadap pangkalan militer Amerika belum sepenuhnya berkurang.

    "Iran memang tidak lagi menyerang dengan intensitas seperti pada awal perang, tetapi mereka masih menunjukkan kemampuan untuk terus melancarkan serangan," katanya.

    Pentagon Pastikan Persenjataan Masih Memadai

    Di tengah berbagai analisis tersebut, Pentagon menegaskan bahwa militer Amerika Serikat masih memiliki persenjataan yang cukup untuk menjalankan operasi apabila konflik terus berlanjut.

    Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan militer AS tetap mampu melaksanakan berbagai operasi di sejumlah wilayah sekaligus memastikan kesiapan persenjataannya.

    "Kami telah melaksanakan berbagai operasi yang sukses di seluruh wilayah komando tempur sambil memastikan militer Amerika tetap memiliki persenjataan yang memadai untuk melindungi rakyat serta kepentingan nasional kami," ujar Parnell.

    Ia menambahkan Departemen Pertahanan AS juga terus mempercepat peningkatan kapasitas industri pertahanan untuk memperkuat produksi amunisi, memperluas rantai pasok, serta memastikan kebutuhan persenjataan militer tetap terpenuhi.

    Meski Pentagon menyatakan persediaan senjata masih aman, sejumlah pejabat Amerika justru menyampaikan kekhawatiran mengenai kemampuan logistik militer apabila konflik terus meluas.

    Dikutip dari laporan The Washington Post, seorang pejabat Amerika yang mengetahui perencanaan operasi militer mengatakan Washington menghadapi keterbatasan sumber daya untuk mempertahankan operasi jangka panjang secara aman.

    Menurutnya, tantangan logistik tersebut belum sepenuhnya dipahami oleh Gedung Putih.

    "Kami tidak memiliki cukup sumber daya untuk mempertahankan operasi ini dengan aman, dan saya rasa Gedung Putih belum sepenuhnya menyadari kondisi tersebut," ujar pejabat tersebut.

    Perbedaan pandangan antara optimisme Pentagon dan kekhawatiran sejumlah analis serta pejabat internal menunjukkan bahwa keberlanjutan operasi militer Amerika terhadap Iran masih menjadi perdebatan.

    Jika konflik terus berlangsung tanpa penyelesaian diplomatik, Washington diperkirakan harus menghadapi tantangan besar, baik dari sisi kesiapan logistik, kemampuan pertahanan, maupun keberlangsungan operasi militernya di kawasan Timur Tengah.

    (Tribunnews.com / Namira)

    Komentar
    Additional JS