Presiden Iran: Kami akan Patuhi Nota Kesepahaman jika AS Juga Melakukannya - Tribunnews

Ringkasan Berita:
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran akan mematuhi nota kesepahaman dengan Amerika Serikat jika Washington juga memenuhi seluruh komitmennya.
- Pernyataan itu disampaikan di tengah upaya diplomatik setelah kedua negara menyepakati penghentian sementara serangan balasan.
- Sementara itu, Iran membantah akan menggelar negosiasi baru dengan AS di Doha dan menegaskan kunjungan delegasinya hanya untuk membahas implementasi nota kesepahaman.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran akan tetap berkomitmen menjalankan nota kesepahaman dengan Amerika Serikat (AS) selama Washington juga memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan.
Dalam unggahan di akun X miliknya, Pezeshkian mengatakan pemahaman bersama hanya dapat berjalan apabila kedua negara sama-sama mematuhi komitmen yang telah disepakati.
"Kami akan memenuhi komitmen kami jika pihak Amerika juga mematuhi nota kesepahaman," tegas Pezeshkian, Senin (29/6/2026).
Ia menambahkan bahwa kebijakan Iran dalam menghadapi ancaman didasarkan pada rasionalitas, penghormatan terhadap martabat manusia, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Namun, ia menegaskan negaranya tidak akan ragu untuk membela diri apabila diperlukan.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya upaya diplomatik antara Washington dan Teheran setelah kedua negara sepakat menghentikan sementara serangan balasan yang kembali terjadi pada akhir pekan lalu, lapor Al Arabiya.
Trump Sebut Iran Meminta Delegasi AS-Iran Bertemu di Doha
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran telah meminta pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Doha, Qatar.
Menurut Trump, pertemuan tersebut berpotensi menjadi pembahasan yang penting, meski hasilnya baru akan diketahui setelah pertemuan berlangsung.
Gedung Putih kemudian menyatakan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertolak ke Doha untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi pekan ini.
Seorang diplomat yang mengetahui jalannya pembahasan juga menyebut saluran komunikasi antara kedua negara masih terbuka, sementara pejabat AS mengatakan pembicaraan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman direncanakan berlanjut.
Baca juga: Araghchi Tegaskan Selat Hormuz Tetap di Bawah Kendali Iran: Beri Ancaman Jika Ada yang Ngeyel
Iran: Bukan Negosiasi Baru, Kami akan Bahas Implementasi Nota Kesepahaman
Meski demikian, pemerintah Iran membantah adanya rencana perundingan baru dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan delegasi yang akan berkunjung ke Doha bukan untuk melakukan negosiasi, melainkan menindaklanjuti pelaksanaan komitmen yang telah disepakati dalam nota kesepahaman.
Menurut Baghaei, salah satu agenda utama delegasi Iran adalah memastikan implementasi Pasal 11 dalam nota kesepahaman yang berkaitan dengan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Ia juga menegaskan bahwa dalam beberapa hari ke depan tidak akan ada pertemuan negosiasi dengan Amerika Serikat di tingkat mana pun, lapor IRNA.
Sementara itu, isu Selat Hormuz masih menjadi salah satu pokok perbedaan pandangan antara kedua negara.
Selain pembahasan mengenai keamanan jalur pelayaran tersebut, Iran dan Oman juga disebut tengah mempertimbangkan penerapan biaya layanan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Wacana tersebut menuai perhatian karena dinilai bertentangan dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut yang menjamin kebebasan navigasi di selat internasional, meskipun Iran sendiri belum meratifikasi konvensi tersebut.
Di tengah berbagai perbedaan itu, pernyataan Pezeshkian menunjukkan bahwa Iran masih membuka ruang bagi penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Namun, Teheran menegaskan komitmennya terhadap nota kesepahaman hanya akan berjalan apabila Amerika Serikat juga menunjukkan kepatuhan yang sama terhadap seluruh isi kesepakatan.
Latar Belakang Perang AS-Israel VS Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran menyusul gagalnya perundingan nuklir di Jenewa.
Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan damai dan sipil.
Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai balasan atas serangan yang diterimanya, Iran meluncurkan serangan ke sejumlah wilayah di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.
Teheran juga memperketat pengawasan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Konflik semakin meluas ketika Hizbullah membuka front pertempuran dari Lebanon. Israel merespons dengan menggempur Beirut dan sejumlah wilayah di Lebanon selatan melalui serangan udara.
Setelah hampir 40 hari pertempuran, upaya mediasi yang dipimpin Pakistan membuahkan kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026.
Kesepakatan tersebut menjadi pintu masuk bagi dimulainya kembali jalur diplomasi antara Washington dan Teheran.
Perundingan kemudian terus berlanjut hingga kedua negara secara terpisah menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani dokumen itu saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis di Paris, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani dokumen serupa di Teheran.
Meski demikian, kesepakatan tersebut kembali diuji setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz pada 28 Juni 2026.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan kapal komersial Kiku diserang saat melintasi selat tersebut, sehingga mendorong Washington melancarkan serangan terhadap 10 sasaran di Iran.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.
Kedua pihak kemudian sepakat untuk menghentikan sementara serangan militer dan melanjutkan diplomasi.
Pada 29 Juni, Presiden AS Donald Trump menyatakan pejabat Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan bertemu di Doha, Qatar, setelah Teheran disebut meminta pembicaraan, lapor Al Jazeera.
Namun, Iran membantah akan menggelar negosiasi dan menegaskan delegasinya hanya membahas implementasi nota kesepahaman, termasuk pembebasan aset yang dibekukan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan Teheran akan mematuhi nota kesepahaman jika AS juga memenuhi komitmennya.
Sementara itu, Iran menegaskan pengamanan Selat Hormuz menjadi tanggung jawabnya, sedangkan Lebanon melaporkan sekitar 400.000 warga yang mengungsi telah kembali ke rumah.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)