Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Hizbullah Israel Konflik Timur Tengah Lebanon Spesial

    Israel Masih Duduki Wilayah Lebanon, Hizbullah Yakin Iran Tak akan Tandatangani Kesepakatan Nuklir - Tribunnews

    14 min read

     

    Israel Masih Duduki Wilayah Lebanon, Hizbullah Yakin Iran Tak akan Tandatangani Kesepakatan Nuklir

    01:13 Timnas Inggris Kemalingan Jelang Tampil Piala Dunia di AS, Sepatu Para Pemain Tiba-tiba Hilang
    Ringkasan Berita:
    • Pasukan Israel masih menduduki sebagian besar wilayah di Lebanon selatan.
    • Pertempuran di Lebanon telah mereda secara signifikan setelah nota kesepahaman Iran-AS.
    • Namun kini belum berhenti sepenuhnya, dan Israel mengatakan pasukan akan tetap berada di selatan negara itu.

    TRIBUNNEWS.COM - Kelompok militan Hizbullah mengatakan mereka yakin Iran tidak akan menandatangani kesepakatan nuklir final dengan Amerika Serikat (AS) kecuali Israel menarik diri dari Lebanon, Selasa (16/6/2026).

    Diplomat utama Iran mengatakan kehadiran pasukan Israel yang berkelanjutan di Lebanon akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman AS-Iran.

    Sementara itu, pasukan Israel masih menduduki sebagian besar wilayah di Lebanon selatan yang mereka rebut dalam kampanye udara dan darat selama tiga bulan melawan Hizbullah, yang dimulai setelah kelompok yang didukung Iran itu menembaki Israel pada 2 Maret 2026 sebagai bentuk dukungan kepada Teheran.

    Pertempuran di Lebanon telah mereda secara signifikan setelah nota kesepahaman Iran-AS, tetapi belum berhenti sepenuhnya, dan Israel mengatakan pasukan akan tetap berada di selatan negara itu.

    Saat ini, Hizbullah telah menentang pendudukan Israel yang berkelanjutan.

    Kantor media kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka memahami bahwa Iran akan menuntut penarikan Israel sebagai bagian dari putaran pembicaraan AS-Iran berikutnya, yang akan dimulai setelah keduanya secara resmi menandatangani nota kesepahaman mereka pada Jumat (19/6/2026) mendatang.

    Pembicaraan tersebut dijadwalkan untuk membahas isu-isu sulit seperti masa depan program nuklir Iran.

    “Kami yakin tidak akan ada kesepakatan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat jika Israel tidak menarik diri,” kata kantor media Hizbullah kepada Reuters, ini adalah kali pertama kelompok tersebut mengaitkan penarikan Israel dengan kemungkinan kesepakatan nuklir.

    Pernyataan itu juga menyebutkan telah menerima jaminan dari Iran bahwa setiap pelanggaran gencatan senjata Lebanon oleh Israel akan memengaruhi negosiasi yang akan datang tersebut.

    Baca juga: Iran akan Diizinkan Jual Minyak Sesuai Kesepakatan dengan AS, Sanksi Dicabut setelah Ada Perjanjian

    Kata Iran

    Menteri Luar Negeri IranAbbas Araghchi, mengatakan pada hari Selasa bahwa berakhirnya perang regional harus mencakup berakhirnya konflik di Lebanon, termasuk "berakhirnya pendudukan" atas tanah Lebanon.

    “Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka duduki dalam perang ini, pengakhiran perang secara penuh belum tercapai,” katanya.

    Araghchi menambahkan bahwa setiap serangan Israel terhadap Lebanon atau pendudukan berkelanjutan atas tanah Lebanon “menurut pandangan kami, akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman.”

    Kesepakatan antara AS dan Iran ini belum dipublikasikan, dan para pejabat terkadang memberikan interpretasi yang kontradiktif mengenai isinya.

    Meskipun Israel bukan pihak dalam perjanjian tersebut, Israel tetap terlibat dalam perang setelah bergabung dengan AS dalam melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

    Israel juga telah memerangi kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon dan merebut sebagian besar wilayah negara tersebut.

    MENLU IRAN - Foto ini diambil dari laman Presiden Rusia pada Kamis (7/8/2025), memperlihatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (tidak terlihat dalam foto) di Moskow pada 23 Juni 2025.
    MENLU IRAN - Foto ini diambil dari laman Presiden Rusia pada Kamis (7/8/2025), memperlihatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (tidak terlihat dalam foto) di Moskow pada 23 Juni 2025. (Foto: Sergei Karpukhin, TASS/Kremlin)

    Mempersulit Kesepakatan

    Dilansir AP News, Pakistan mengatakan kesepakatan itu menyerukan penghentian operasi militer, termasuk di Lebanon.

    Namun, seruan Araghchi untuk penarikan Israel menambah kerumitan baru.

    Hal ini menempatkan Israel dalam dilema karena mereka berupaya melemahkan kemampuan militer Hizbullah tanpa merusak kesepakatan yang didukung oleh sekutu terpentingnya, Amerika Serikat.

    Israel menginvasi Lebanon selatan setelah Hizbullah menembakkan rudal melintasi perbatasan selama minggu pertama perang.

    Sejak itu, mereka telah memperluas jejak militer mereka ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade dan menyerang target jauh di dalam Beirut.

    Baca juga: Masalah Iran Dianggap Rampung, Trump Balik Fokus ke Perang Ukraina-Rusia

    Meskipun Hizbullah telah melemah, mereka tetap memiliki kemampuan untuk menyerang Israel, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kampanye Israel.

    Hingga Selasa malam, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum melihat nota kesepahaman antara AS dan Iran, kata seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas detail tertutup.

    Sumber lain, yang juga berbicara dengan syarat anonim untuk membahas percakapan pribadi antara Israel dan AS, mengatakan bahwa para pejabat Israel belum meminta nota kesepahaman tersebut kepada para negosiator AS.

    Sementara, Gedung Putih menolak berkomentar apakah Netanyahu atau pejabat Israel telah meninjau perjanjian tersebut.

    Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, mengatakan kepada NPR bahwa meskipun Israel tidak mengetahui detail kesepakatan tersebut, keterlibatan Lebanon yang tampak jelas adalah "tidak perlu dan tidak membantu."

    Besarnya serangan Israel terkadang memicu keretakan publik antara para pemimpinnya.

    Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa bahwa dia "tidak senang dengan cara Israel menangani masalah Lebanon dan Hizbullah."

    “Strategi Israel ini seolah tak akan pernah berakhir,” katanya.

    Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan hampir 4.000 orang, termasuk ratusan warga sipil, dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi.

    “Israel sudah terlalu lama memerangi Hizbullah, dan terlalu banyak orang yang tewas,” kata Trump.

    Israel Tak akan Menarik Diri

    Israel tidak akan menarik diri dari apa yang disebut "zona keamanan" di Lebanon selatan sebagai bagian dari kesepahaman yang diharapkan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

    Hal ini sebagaimana disampaikan sumber keamanan Israel pada Sabtu (13/6/2026).

    Baca juga: Reaksi Pasar Global Atas Kesepakatan Damai AS-Iran: Harga Emas Naik, Minyak Turun, NYSE Positif

    Tentara Israel terus melancarkan serangan mematikan di Lebanon sejak 2 Maret 2026, menewaskan lebih dari 3.700 orang, melukai 11.600 lainnya, dan menyebabkan lebih dari 1,5 juta orang mengungsi, menurut pejabat Lebanon.

    Militer Israel juga maju lebih dari 10 kilometer (6 mil) ke wilayah Lebanon, menciptakan apa yang disebut Tel Aviv sebagai "zona keamanan."

    “Lembaga keamanan sedang bersiap menghadapi kemungkinan instruksi dari kepemimpinan politik untuk menghentikan serangan darat di Lebanon selatan, mengingat kesepakatan yang muncul antara Washington dan Teheran,” kata lembaga penyiaran publik KAN, mengutip sumber-sumber tersebut.

    Menurut sumber-sumber tersebut, Tel Aviv juga bersiap untuk mengurangi serangannya jauh di dalam wilayah Lebanon karena khawatir hal itu dapat membahayakan kesepakatan AS-Iran.

    “Namun, operasi militer akan terus berlanjut dengan fokus yang lebih besar di wilayah selatan,” kata sumber tersebut.

    “Tentara Israel tidak akan mundur dari zona keamanan di Lebanon selatan,” tambah mereka.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Komentar
    Additional JS