Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Araghchi Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Selat Hormuz Spesial

    Araghchi: Selat Hormuz Tetap di Bawah Kendali Iran, Tidak Ada Campur Tangan Asing - Tribunnews

    5 min read

     

    Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan Selat Hormuz akan tetap berada di bawah administrasi Iran usai perang.

    Tayang:

    Dok. Pertamina

    KAPAL MT GAMSUNORO - Kapal tanker minyak MT Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping berhasil melintasi jalur perairan rawan konflik Selat Hormuz menuju wilayah laut aman berkat strategi perlinar dan diplomasi. 

    Ringkasan Berita:
    • Iran menegaskan Selat Hormuz tetap berada di bawah pengelolaan penuh Teheran pascakonflik.
    • Araghchi memperingatkan intervensi asing dapat menunda normalisasi jalur pelayaran dan memperburuk situasi regional.
    • Iran menyerukan kerangka keamanan baru di Teluk Persia tanpa campur tangan negara di luar kawasan.


    TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah administrasi Iran.

    Pernyataan tersebut disampaikan saat konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, di Baghdad, Minggu (28/6/2026).

    Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas hubungan bilateral Iran-Irak, perkembangan kawasan, situasi di Selat Hormuz, serta agresi Israel terhadap Lebanon. 

    Araghchi mengatakan kunjungannya bertujuan memperkuat hubungan strategis antara Teheran dan Baghdad.

    “Hubungan strategis antara Republik Islam Iran dan Irak sangat berharga, dan kami bertekad, insya Allah, untuk melanjutkan dan memperkuat hubungan ini,” ujar Araghchi.

    Baca juga: AS dan Iran Lanjutkan Negosiasi di Qatar Usai Ketegangan Hormuz Memanas

    Ia menegaskan bahwa kondisi di Selat Hormuz pada akhirnya akan kembali seperti sebelum perang. 

    Namun, Araghchi memperingatkan bahwa campur tangan pihak mana pun selain Iran dalam pengelolaan jalur air tersebut hanya akan memperlambat pembukaan kembali dan meningkatkan ketegangan di kawasan.

    “Intervensi apa pun oleh pihak selain Iran dalam mengelola selat tersebut akan menunda pembukaannya kembali dan meningkatkan ketegangan di kawasan itu,” katanya.

    Menurut Araghchi, berdasarkan nota kesepahaman yang berlaku, Selat Hormuz akan kembali beroperasi penuh dalam 

    30 hari setelah seluruh hambatan dihilangkan oleh Iran.

    Ia juga menyinggung insiden yang terjadi dua malam sebelumnya di Selat Hormuz sebagai bukti rapuhnya stabilitas kawasan. 

    Menurutnya, insiden tersebut telah memperburuk konfrontasi dan meningkatkan risiko eskalasi.

    “Seperti yang kita saksikan selama dua malam terakhir, insiden di Selat Hormuz telah berkontribusi pada meningkatnya ketegangan dan konfrontasi,” jelasnya.

    Lebih jauh, Araghchi menilai dinamika geopolitik terbaru mengharuskan negara-negara kawasan meninjau ulang sistem keamanan regional, khususnya di Teluk Persia.

    “Saya percaya bahwa, dengan keadaan baru yang muncul, keamanan Teluk Persia dan keamanan kawasan ini harus dipertimbangkan kembali oleh semua negara di kawasan tersebut,” kata Araghchi.

    Ia menambahkan, kawasan membutuhkan kerangka keamanan baru yang melibatkan seluruh negara regional, tanpa kehadiran atau campur tangan kekuatan dari luar kawasan. 

    Menurut Iran, pendekatan tersebut menjadi kunci untuk menjaga stabilitas jangka panjang di Teluk Persia.

    (Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

    Komentar
    Additional JS