0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Selat Hormuz Spesial

    Draf Kesepakatan Gencatan 60 Hari AS-Iran: Teheran Mau Bersihkan Ranjau Hormuz, Trump Belum Putuskan - Tribunnews

    6 min read

     

    Draf Kesepakatan Gencatan 60 Hari AS-Iran: Teheran Mau Bersihkan Ranjau Hormuz, Trump Belum Putuskan

    Tribunnews.com/Tangkap Layar/WN A-A+ PENUH RANJAU - Tangkap layar WN yang menunjukkan posisi kapal-kapal di Selat Hormuz. Selat yang menjadi jalur penting perdagangan dunia itu dipenuhi ranjau laut yang dipasang Iran dalam perang melawan serangan Amerika Serikat dan Israel. 

    Draf Kesepakatan Gencatan 60 Hari AS-Iran: Teheran Mau Bersihkan Ranjau Hormuz, Trump Belum Putuskan

    Ringkasan Berita:
    • AS dan Iran disebut telah menyusun nota kesepahaman yang mencakup gencatan senjata 60 hari dan pembicaraan program nuklir Iran.
    • Iran berjanji menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz dan membersihkan ranjau di jalur strategis tersebut dalam 30 hari.
    • Meski negosiasi disebut mengalami kemajuan besar, masih ada perbedaan soal pengayaan uranium dan keputusan akhir tetap menunggu Donald Trump.

    TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah mencapai titik penting dalam proses negosiasi terbaru mereka. 

    Media Axios, mengutip sejumlah pejabat AS, menyebut kedua negara sudah menyusun nota kesepahaman yang dapat menjadi dasar meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

    Namun, kesepakatan itu belum resmi berlaku karena masih menunggu persetujuan akhir Presiden AS Donald Trump.

    Baca juga: Tujuh Senjata yang Disebut Bisa Menenggelamkan Kapal Induk USS Abraham Lincoln: Iran Bisa Punya?

    Dalam draf yang dibahas, AS dan Iran disebut sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

    Pada periode tersebut, kedua pihak akan memulai kembali negosiasi mengenai program nuklir Iran.

    Teheran juga dikabarkan memberikan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, isu yang selama bertahun-tahun menjadi sumber utama konflik dengan Washington dan sekutunya.

    Baca juga: Hal-Hal yang Perlu Diketahui Soal Ranjau Laut Selat Hormuz: Iran Pun Bingung Membersihkannya

    RANJAU LAUT - Gambar tangkap layar WN, Rabu (15/4/2026) yang menunjukkan ilustrasi dari AI terkait ranjau laut. Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan unit pembersih ranjau untuk menangkal ranjau laut yang ditanam Iran di perairan Selat Hormuz.
    RANJAU LAUT - Gambar tangkap layar WN, Rabu (15/4/2026) yang menunjukkan ilustrasi dari AI terkait ranjau laut. Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan unit pembersih ranjau untuk menangkal ranjau laut yang ditanam Iran di perairan Selat Hormuz. (HO/IST/Tangkap Layar/WN)

    Iran Janji Bersihkan Ranjau Laut di Selat Hormuz

    Salah satu poin penting dalam nota kesepahaman itu adalah soal Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.

    Iran disebut menjamin kebebasan navigasi tanpa pembatasan maupun biaya tambahan.

    Selain itu, Teheran juga berjanji membersihkan seluruh ranjau di wilayah selat tersebut dalam waktu 30 hari.

    Isu Selat Hormuz menjadi perhatian global karena sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati jalur ini.

    Ketegangan di kawasan tersebut sebelumnya sempat memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok energi internasional.

    Karena itu, jika kesepahaman ini benar-benar dijalankan, dampaknya bisa membantu menurunkan tekanan geopolitik sekaligus menenangkan pasar energi global.

    Nota kesepahaman tersebut juga mencakup aspek kemanusiaan dan ekonomi. Washington disebut bersedia membahas kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Iran, termasuk pelepasan sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan.

    Sebagai imbalannya, Iran akan membuka akses distribusi barang dan bantuan kemanusiaan.

    Bola di Tangan Trump

    Wakil Presiden AS JD Vance mengakui pembicaraan kedua negara mengalami kemajuan besar dalam beberapa pekan terakhir. 

    Meski demikian, ia mengatakan belum bisa memastikan kapan Trump akan menandatangani nota kesepahaman tersebut.

    Menurut Vance, proses negosiasi berjalan dengan pola “saling memberi dan menerima” dari kedua pihak.

    Ia menilai Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang juga menjadi kepentingan utama Washington.

    Namun, masih ada isu sensitif yang belum sepenuhnya disepakati, yakni mengenai pengayaan uranium Iran dan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi yang dimiliki Teheran.

    Persoalan ini selama ini menjadi garis merah bagi AS dan negara-negara Barat karena dianggap berpotensi membuka jalan bagi pengembangan senjata nuklir.

    Meski begitu, pernyataan pejabat AS menunjukkan bahwa situasi saat ini dinilai jauh lebih positif dibanding lima atau enam minggu lalu.

    Hal itu menandakan peluang tercapainya kesepakatan baru antara Washington dan Teheran mulai terbuka, meski keputusan akhirnya tetap sangat bergantung pada langkah politik Donald Trump.

    (oln/khbrn/axs/*)

    Komentar
    Additional JS