Hal-Hal yang Perlu Diketahui Soal Ranjau Laut Selat Hormuz: Iran Pun Bingung Membersihkannya - Tribunnews
Hal-Hal yang Perlu Diketahui Soal Ranjau Laut Selat Hormuz: Iran Pun Bingung Membersihkannya
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) berencana melakukan operasi anti-ranjau di Selat Hormuz setelah Iran memasang ranjau dalam perang yang dimulai pada 28 Februari 2024.
Ranjau apa saja yang mungkin tersembunyi di bawah perairan selat tersebut?
Siapa atau apa yang dapat menyingkirkannya?
Apa dampak operasi penambangan ini terhadap pelayaran dan keamanan global?
Baca juga: Selat Hormuz Dijejali Ranjau Laut Iran, Bagaimana Cara Angkatan Laut AS Membersihkannya?
Seperti diketaui, Iran telah menutup sebagian besar jalur air strategis tersebut untuk lalu lintas maritim sejak perang AS-Israel dimulai akhir Februari.
Pembersihan ranjau adalah tugas yang sulit.
Baik Iran maupun AS tidak dapat menjamin penghapusan sepenuhnya bahan peledak mematikan ini.
Artinya, kedua kubu tak bisa memberi jaminan kalau pembersihan 100 persen ranjau laut bisa dilakukan.
Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda ketahui.
Bagaimana Iran Memasang Ranjau di Selat Hormuz?
Menurut laporan, Iran telah menggunakan kapal permukaan kecil untuk memasang ranjau di sepanjang jalur sempit Selat Hormuz setelah kehilangan kapal angkatan laut yang ukurannya lebih besar akibat serangan AS-Israel.
Tidak diketahui berapa banyak ranjau yang mungkin telah dipasang Iran, dengan beberapa laporan mengklaim jumlahnya bisa mencapai puluhan.
Iran dilaporkan mengatakan bahwa mereka tidak dapat menemukan atau memindahkan semuanya.
Ranjau Bagian dari Perangkat Persenjataan Iran
Iran telah menggunakan taktik perang asimetris dalam konflik yang sedang berlangsung.
Taktik asimetris ini termasuk penggunaan drone, rudal anti-kapal, dan kapal serang cepat. Pemasangan ranjau di sepanjang Selat Hormuz adalah strategi lain.
Meskipun mengalami kerugian, Iran masih mempertahankan sebagian besar kapal kecil dan kemampuan pemasangan ranjaunya, menurut Garda Revolusi Iran (IRGC).
Jenis Ranjau Apa yang Ditanam Iran di Selat Hormuz?
Iran diyakini telah menggunakan dua ranjau modern yang dipicu sensor: Maham 3 dan Maham 7.
Maham 3 adalah ranjau yang ditambatkan, dengan berat sekitar 300 kg. Ranjau ini beroperasi pada kedalaman hingga 100 meter.
Maham 7 adalah ranjau yang berada di dasar laut, dengan berat sekitar 220 kg.
Dirancang untuk perairan dangkal, ranjau berbentuk kerucut ini dapat menghindari deteksi sonar, demikian laporan dari The Guardian.
Baik Maham 3 maupun Maham 7 menggunakan sensor magnetik dan akustik, bukan pemicu kontak sederhana.
Bagaimana Cara AS Membersihan Ranjau?
Membersihkan ranjau jauh lebih sulit daripada memasangnya.
Pasukan AS akan menghadapi risiko ranjau meledak atau serangan dari kapal IRGC.
Kapal penyapu ranjau berawak rentan di selat yang sempit. Oleh karena itu, metode yang lebih disukai melibatkan sistem tanpa awak.
Ini termasuk drone selam Knifefish dan kapal permukaan tak berawak MCM (Mine Countermeasures) yang mirip perahu cepat.
Mereka juga dapat menggunakan sistem udara seperti AN/ASQ-235 atau Archerfish. Diterbangkan dari helikopter MH-60S, sistem ini menggunakan perangkat berpemandu sonar untuk menghancurkan ranjau.
Risiko Bagi AS
Bahkan dengan menggunakan drone, kapal dan pesawat AS harus beroperasi di dekat Selat Hormuz, sehingga menjadi sasaran rudal atau kawanan drone jika pertempuran kembali terjadi.
Terdapat laporan bahwa dua kapal perusak AS kemungkinan sedang bersiap untuk operasi pembersihan ranjau.
USS Frank E Petersen dan USS Michael Murphy melewati selat tersebut pada tanggal 11 April.

Keuntungan Strategis Bagi Iran
Ranjau darat murah namun memiliki kekuatan strategis, karena bahkan sejumlah kecil bahan peledak tersembunyi ini dapat menutup jalur pelayaran utama.
Beberapa ranjau dapat meledak setelah beberapa kapal lewat, meningkatkan ketidakpastian dan gangguan.
Hal ini memberi Iran pengaruh yang tidak proporsional atas perdagangan global.
Blokade Selat Hormuz dan Hukum Internasional
Iran mengklaim sebagian selat tersebut sebagai perairan teritorialnya, meskipun hukum internasional umumnya melarang pemblokiran selat yang digunakan untuk pelayaran non-militer.
Namun, baik Iran maupun AS belum menandatangani Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1994.
Saat perundingan perdamaian berlanjut, masih belum jelas apakah Iran akan memberikan peta ladang ranjau kepada AS.
Penggunaan ranjau laut canggih oleh Iran, ditambah dengan ketidakpastian tentang jumlah dan lokasinya, telah membuat Selat Hormuz sangat berbahaya.
AS memiliki teknologi untuk membersihkan ranjau tersebut, tetapi prosesnya tidak akan cepat, karena penyapuan ranjau lambat, berisiko, dan berpotensi meningkatkan ketegangan.