0
News
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Selat Hormuz Spesial

    Trump Mau Akhiri Operasi Militer ke Iran Meski Selat Hormuz Belum Dibuka, Apa Alasannya? - Viva

    4 min read

     

    Trump Mau Akhiri Operasi Militer ke Iran Meski Selat Hormuz Belum Dibuka, Apa Alasannya?

    VIVA –Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan bersedia menghentikan operasi militer terhadap Iran, meskipun Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup. Pernyataan ini disampaikannya kepada para asistennya, menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat pemerintahan Trump.

    Pernyataan ini muncul beberapa hari setelah Trump mengancam Iran bahwa AS akan menghancurkan pembangkit listriknya jika Teheran tidak mengizinkan operasi pelayaran melalui selat tersebut.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Menurut laporan itu, Trump mengatakan bahwa ia akan menunda ‘operasi kompleks’ untuk membuka kembali jalur sempit yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia, ke waktu yang dianggap lebih tepat.

    Menurut laporan itu, Trump mengatakan bahwa ia akan menunda ‘operasi kompleks’ untuk membuka kembali jalur sempit yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia tersebut ke tanggal yang lebih tepat.

    Trump dilaporkan menilai bahwa misi untuk membuka jalur tersebut bisa memperpanjang konflik melebihi perkiraan waktunya, yaitu empat hingga enam minggu.

    Melansir laman NDTV, Rabu 1 April 2026, Trump memutuskan bahwa AS sebaiknya mencapai tujuan utamanya terlebih dahulu, yakni melemahkan angkatan laut Iran dan persediaan misilnya, sambil menurunkan eskalasi permusuhan saat menekan Teheran secara diplomatik agar perdagangan kembali berjalan lancar. Laporan itu menambahkan, jika upaya ini gagal, Washington akan mendorong sekutu-sekutunya di Eropa dan Teluk untuk memimpin pembukaan kembali Selat Hormuz.

    Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia ke Teluk Oman dan Laut Arab, merupakan jalur penting bagi sekitar 25 persen pasokan minyak dunia. Iran diketahui menutup jalur tersebut untuk pelayaran, terutama bagi kapal-kapal AS dan negara-negara yang mendukung perang dan hampir menghentikan transit ratusan kapal setiap hari, termasuk kapal kontainer, kapal kargo curah kering, dan kapal kargo cair.

    Perang ini dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi ke seluruh Iran setelah pembicaraan nuklir yang mandek dan klaim bahwa Teheran telah melanjutkan aktivitas nuklirnya. Serangan yang dinamai Operation Epic Fury ini menargetkan banyak kota di Iran dan menewaskan sejumlah pemimpin penting, termasuk Ayatollah Ali Khamenei. Iran pun melancarkan serangan balasan, banyak di antaranya merusak wilayah Teluk, termasuk Dubai, Kuwait, Abu Dhabi, Qatar, dan Bahrain.

    Trump disebut tertarik untuk meminta negara-negara Arab menanggung biaya perang terhadap Iran, kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, kepada wartawan pada hari Senin. Ia menambahkan bahwa ia yakin Trump kemungkinan akan berbicara lebih banyak soal ini di kemudian hari.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Ketika ditanya dalam konferensi pers apakah negara-negara Arab akan bersedia membantu membiayai perang, Leavitt mengatakan ia tidak ingin mendahului Trump, namun menyebut bahwa gagasan ini memang muncul dari presiden.

    “Saya pikir ini sesuatu yang akan sangat menarik bagi presiden. Saya tidak akan mendahului dia, tapi tentu saja ini adalah sebuah gagasan, sesuatu yang saya pikir nantinya akan Anda dengar lebih banyak dari beliau,” ujarnya.


    Komentar
    Additional JS