Skenario Perang Iran-AS: Damai di April atau Memanas hingga November - Kompas TV
Skenario Perang Iran-AS: Damai di April atau Memanas hingga November
JAKARTA, KOMPAS.TV – Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran belum tentu menjadi jalan menuju perdamaian.
Di balik jeda sementara ini, para analis justru melihat konflik masih sangat cair dan berpotensi bergerak ke berbagai arah—dari damai cepat hingga perang berkepanjangan.
Peneliti senior keamanan Indo-Pasifik, Aisha Kusumasomantri menilai, arah konflik ke depan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor ekonomi, politik, hingga dinamika aktor regional.
Baca Juga: AS Dinilai Terpojok tapi Menang Taktis atas Iran, Pakar: Gencatan Senjata Hanya “Tactical Pause”
Aisha menyoroti pola komunikasi Presiden Donald Trump yang kerap berdampak langsung pada pasar global.
Menurutnya, setiap kali harga minyak naik dan pasar saham melemah, Trump cenderung mengeluarkan pernyataan yang berbalik arah, sehingga harga minyak turun dan pasar kembali menguat.
“Nah, ini kan tren yang sebenarnya tidak biasa di dalam keadaan perang. Dan kita sebenarnya saat ini masih menebak-nebak nih di mana sebenarnya tujuan dari Trump ke depannya,” ujarnya dalam dialog Kompas Petang, Rabu (8/4/2026).
Gencatan senjata ini dinilai menguntungkan kedua pihak dalam jangka pendek.
Bagi Amerika Serikat, jeda ini memberikan waktu untuk menekan harga energi dan menjaga stabilitas ekonomi global.
Termasuk sektor penting seperti pupuk berbasis nitrogen dan material industri seperti helium yang berperan dalam produksi semikonduktor.
Sementara itu, Iran memanfaatkan jeda untuk merapikan kembali strategi dan memperkuat kapasitas militernya setelah mengalami tekanan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Israel Tidak Terlibat, Risiko Sabotase Terbuka
Salah satu celah terbesar dalam gencatan senjata ini adalah tidak dilibatkannya Israel secara penuh dalam kesepakatan.
Menurut Aisha, hal ini membuka kemungkinan terjadinya sabotase atau eskalasi baru yang dapat menggagalkan proses perdamaian.
Baca Juga: Kemlu RI: Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran dan AS
“Tetapi ini kita juga harus waspada apakah di masa depan nanti akan ada sabotase-sabotase yang dilakukan oleh Israel atau bahkan worst case scenario itu adalah kemudian mundurnya Amerika Serikat karena tadi ya pengaruh dan tekanan diplomatik dari Israel," paparnya.
Aisha menilai Washington, khususnya Trump, sedang mencari exit strategy dari konflik tanpa terlihat kalah secara politik.
Hal ini terlihat dari narasi kemenangan yang terus dibangun di dalam negeri, meski realitas di lapangan menunjukkan situasi yang lebih kompleks.
“Yang namanya perang itu kita tidak hanya bicara tentang kemenangan taktikal saja, tetapi kita harus melihat apakah political goal yang di awal ini bisa terpenuhi atau tidak,” ujarnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam negosiasi adalah rendahnya tingkat kepercayaan Iran terhadap Amerika Serikat.
Pengalaman masa lalu, di mana AS beberapa kali mundur dari kesepakatan, membuat Iran lebih berhati-hati dalam menerima komitmen baru.
Akibatnya, proses menuju kesepakatan final menjadi jauh lebih sulit.
Tiga Skenario Masa Depan Konflik
Aisha memetakan tiga kemungkinan utama yang dapat terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Isi Proposal Gencatan Senjata 10 Poin Tuntutan Iran, Jaminan Tak Ada Agresi Baru-Bayar Kompensasi
1. Skenario Terbaik: Damai di April
Konflik berakhir dalam waktu dekat jika kedua pihak mampu mencapai kesepakatan dalam masa gencatan senjata.
Faktor kunci dalam skenario ini adalah terbentuknya kepercayaan antara kedua negara.
2. Skenario Menengah: Berlanjut hingga Juli
Perang berpotensi berlanjut hingga musim panas, dengan intensitas yang terbatas.
Faktor cuaca dan kemampuan tempur menjadi pertimbangan penting dalam skenario ini.
3. Skenario Terburuk: Konflik Panjang hingga November
Jika negosiasi gagal, konflik bisa berlarut hingga akhir tahun, dipengaruhi oleh dinamika politik domestik di Amerika Serikat, termasuk menurunnya tingkat dukungan publik terhadap pemerintahan.
"Jadi saya rasa kita harus menyiapkan kemungkinan tiga skenario itu meskipun lagi-lagi yang paling best scenario itu adalah di bulan April," ucapnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Drastis usai Gencatan Senjata AS-Iran