0
News
    Home Berita China Featured Spesial

    China Tiba-tiba Tutup Langit 40 Hari, Larang Terbang Tanpa Penjelasan - Kompas

    7 min read

     

    China Tiba-tiba Tutup Langit 40 Hari, Larang Terbang Tanpa Penjelasan

    BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China memicu tanda tanya besar di dunia penerbangan internasional. Pasalnya, Beijing menetapkan zona larangan terbang di lepas pantainya dalam durasi yang tidak biasa. 

    Tanpa penjelasan resmi, Beijing mencadangkan petak ruang udara selama 40 hari berturut-turut, sebuah langkah yang dinilai luar biasa dibandingkan latihan militer biasanya.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Langkah ini dilakukan melalui penerbitan Notice to Airmen (Notam). "Negeri Panda" memperingatkan otoritas penerbangan mengenai bahaya atau pembatasan ruang udara sementara.

    Baca juga: China Rencanakan Sistem Energi Baru, Hadapi Krisis Minyak akibat Perang Iran

    Peringatan ruang udara ini berlaku mulai 27 Maret hingga 6 Mei 2026, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Senin (6/4/2026). 

    China Pamer Robot Kung Fu, Sekedar Atraksi atau Pasukan Perang Masa Depan?

    Berbeda dengan latihan militer standar yang biasanya hanya berlangsung beberapa hari, durasi 40 hari ini dianggap sebagai anomali.

    Hingga saat ini, Kementerian Pertahanan maupun otoritas penerbangan sipil China belum memberikan pernyataan resmi.

    "Apa yang membuat ini sangat menonjol adalah kombinasi status SFC-UNL (permukaan hingga ketinggian tak terbatas) dengan durasi luar biasa 40 hari dan tanpa adanya pengumuman latihan," ujar Ray Powell, Direktur Proyek SeaLight di Universitas Stanford.

    Menurut Powell, hal ini menunjukkan adanya postur kesiapan operasional yang berkelanjutan, bukan sekadar latihan militer terpisah. 

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Jika terkonfirmasi terkait dengan latihan, maka peringatan ini merepresentasikan pergeseran signifikan dalam cara Beijing menggunakan kontrol ruang udara sebagai alat sinyal militer.

    Baca juga: AS Dicap Arogan dan Melemah, Begini Cara China Membingkai Perang Iran

    Cakupan wilayah yang luas

    Berdasarkan data dari Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS), zona yang dicadangkan China ini mencakup total area yang lebih luas daripada pulau utama Taiwan.

    Wilayah tersebut meliputi ruang udara lepas pantai di utara dan selatan Shanghai.

    Lalu dari wilayah membentang dari Laut Kuning yang berhadapan dengan Korea Selatan, hingga Laut China Timur yang menghadap Jepang.

    Christopher Sharman, Direktur Institut Studi Maritim China di US Naval War College, menilai zona ini bisa menjadi ajang simulasi konflik. 

    Dia menambahkan, ruang udara tersebut dapat memberikan kesempatan untuk melatih jenis manuver pertempuran udara yang akan diperlukan dalam skenario seperti konflik.

    Baca juga: Iran Tembak Jatuh Drone China, Tuding UEA-Saudi Ikut Perang

    Ketegangan geopolitik

    Penetapan zona ini muncul di tengah jeda penerbangan militer China di sekitar Taiwan yang sebelumnya terjadi hampir setiap hari.

    Seorang pejabat keamanan senior Taiwan berpendapat bahwa China sedang memanfaatkan pengalihan perhatian AS ke konflik Timur Tengah untuk meningkatkan kehadiran militernya.

    Pejabat tersebut menambahkan, penetapan zona saat ini jelas ditujukan kepada Jepang, sebagai upaya China untuk menakut-nakuti sekutu AS dan mengikis pengaruh militer Amerika di kawasan Indo-Pasifik.

    Di sisi lain, situasi regional memang sedang memanas. 

    Jepang baru-baru ini mengerahkan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau daratan China.

    Sementara itu, delegasi Kongres AS mengunjungi Taiwan untuk mendorong persetujuan anggaran militer besar guna pembelian senjata dari AS.

    Baca juga: DK PBB Berselisih soal Perang Iran, Rusia-China Bentrok dengan AS

    Antara latihan dan diplomasi

    Ben Lewis, peneliti dari organisasi PLATracker, mencatat bahwa China setidaknya telah mengeluarkan Notam serupa empat kali dalam 18 bulan terakhir, namun biasanya hanya dalam blok waktu tiga hari.

    "Jendela waktu yang lebih lama kemungkinan berarti militer China sedang memberikan fleksibilitas penjadwalan bagi dirinya sendiri untuk pelatihan musim semi," kata Lewis.

    Meski demikian, Lewis meragukan akan terjadi eskalasi besar dalam waktu dekat mengingat adanya agenda diplomatik penting. 

    Agenda tersebut antara lain rencana kunjungan tokoh oposisi Taiwan, Cheng Li-wun dari Partai Kuomintang, ke Beijing serta rencana pertemuan puncak antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan pada pertengahan Mei.

    "Mengingat kunjungan Cheng Li-wun minggu ini dan Presiden Trump bulan depan, untuk saat ini saya tidak mengantisipasi adanya latihan besar atau lonjakan ketegangan," tutur Lewis.

    Baca juga: Sengkarut Kepentingan Beijing di Laut China Selatan

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS