Menhan AS Sebut Iran Memohon Gencatan Senjata, Klaim Teheran Takut Ancaman Trump - Kompas
WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengeklaim bahwa Iran “memohon” kesepakatan gencatan senjata menjelang tenggat ancaman dari Presiden Donald Trump.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers pada Rabu (7/4/2026) pagi, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara sejak operasi militer gabungan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari.
Hegseth juga menegaskan bahwa tekanan militer AS menjadi faktor utama yang mendorong Iran menerima kesepakatan tersebut.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Turun Tangan, Jadi Kunci Gencatan Senjata AS-Iran
Klaim Iran “memohon” gencatan senjata
Dalam pernyataannya, Hegseth memuji kepemimpinan Trump dalam mendorong tercapainya kesepakatan tersebut.
“Tidak ada presiden lain yang menunjukkan keberanian dan ketegasan seperti panglima tertinggi ini,” ujar Hegseth, seperti dikutip The Independent.
“Presiden Trump menciptakan momen ini. Iran memohon gencatan senjata ini, dan kita semua tahu itu.”
Baca juga: Jelang Pidato Tump, Presiden Iran Kirim Surat Terbuka untuk Warga AS
Ia menyebut bahwa ancaman keras dari Trump, termasuk peringatan untuk “menghapus peradaban Iran dari peta,” menjadi tekanan utama di balik keputusan Teheran.
Klaim kehancuran kekuatan militer Iran
Hegseth juga mengeklaim bahwa program rudal Iran telah “secara fungsional dihancurkan,” sementara angkatan lautnya “berada di dasar laut.” Ia menambahkan bahwa angkatan udara Iran juga telah “dimusnahkan.”
“Kami menguasai langit mereka,” kata Hegseth.
Menurutnya, militer AS melancarkan lebih dari 800 serangan ke Iran pada Selasa malam, yang ia klaim sepenuhnya menghancurkan basis industri pertahanan Iran.
“Mereka tidak lagi bisa membangun roket, peluncur, atau UAV. Pabrik mereka telah diratakan dengan tanah. Mundur secara historis,” ujarnya.
Baca juga: Netanyahu Kena Amuk Usai AS-Iran Gencatan Senjata, Perang Diklaim Gagal Total
Ancaman serangan infrastruktur

Hegseth menyebut, jika Iran menolak proposal gencatan senjata dua minggu dari Trump, target berikutnya adalah infrastruktur vital negara tersebut.
“Targetnya adalah pembangkit listrik, jembatan, serta infrastruktur minyak dan energi mereka,” kata Hegseth.
Baca juga: Trump Ancam Serang Keras Iran, Bawa Teheran ke Zaman Batu
Ia menambahkan bahwa target-target tersebut tidak akan mampu dipertahankan Iran.
“Target yang tidak bisa mereka pertahankan, dan tidak realistis untuk dibangun kembali. Akan butuh puluhan tahun, dan kami sudah siap sepenuhnya. Mereka tidak bisa melawannya,” lanjutnya.
Peran Pemimpin Baru Iran

Baca juga: Bela Serangan ke Iran, Trump: Ini Investasi Sejati untuk Masa Depan Anak
Hegseth juga menyinggung peran pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam menerima kesepakatan tersebut. Ia mengeklaim bahwa Mojtaba memahami konsekuensi jika Iran menolak tawaran tersebut.
“Pemimpin baru itu memahami bahwa kesepakatan jauh lebih baik daripada nasib yang menunggu mereka,” ujar Hegseth.
Ia juga menyebut bahwa rezim baru Iran “kehabisan pilihan dan waktu,” sehingga memilih untuk menyepakati gencatan senjata.
“Mereka tahu kesepakatan ini berarti mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Berdasarkan ketentuan, setiap material nuklir yang tidak seharusnya mereka miliki akan dihapus,” katanya.
Baca juga: Trump Ngamuk CNN Beritakan Klaim Iran Menang Perang, Desak Permintaan Maaf
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang