Pajak Rakyat Dipakai Perang, Jutaan Rakyat Amerika Serikat Tuntut Donald Trump Lengser! -
Pajak Rakyat Dipakai Perang, Jutaan Rakyat Amerika Serikat Tuntut Donald Trump Lengser!
AMERIKA SERIKAT, Radar Jember – Dunia internasional tengah diguncang oleh gelombang protes besar-besaran yang menargetkan kebijakan militer Presiden Amerika Serikat (AS) ke-47, Donald Trump.
Tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump semakin memuncak. Pada Sabtu (28/3/2026), gelombang protes raksasa pecah di seluruh penjuru Amerika Serikat, melibatkan sekitar 8 juta warga yang turun ke jalan di 50 negara bagian.
Demonstrasi ini merupakan salah satu aksi massa terbesar dalam sejarah modern AS.
Dalam aksinya, massa mengecam keras kebijakan militer Trump yang dinilai terlalu agresif melakukan invasi bersama Israel terhadap Iran.
Para demonstran juga menyoroti penggunaan uang pajak rakyat senilai ratusan miliar dolar yang justru dialokasikan untuk membiayai perang, alih-alih untuk kesejahteraan masyarakat domestik.
Aksi yang dikenal dengan gerakan "No Kings" ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti New York, Atlanta, dan San Diego, tetapi juga meluas hingga ke kota-kota kecil.
Di Washington DC, ribuan orang memadati National Mall dengan membawa berbagai atribut anti-Trump, termasuk balon udara raksasa yang menyindir sang presiden AS ke-47 tersebut.
Menariknya, aksi ini juga mendapat dukungan dari tokoh-tokoh ternama.
Aktor legendaris Robert De Niro terpantau ikut turun ke jalan dalam aksi di New York untuk menyuarakan protesnya.
Salah satu demonstran, Sara Carlson, mengungkapkan rasa lelahnya terhadap kondisi pemerintahan saat ini.
"Saya lelah. Kami kelelahan. Ini memberi saya harapan. Saya memiliki begitu banyak harapan di sini dan kita dapat mengubah ini," ujarnya dengan penuh emosi, dikutip Minggu (29/03/2026).
Senada dengan Sara, Jennifer Amaya, demonstran lainnya, menegaskan bahwa Trump harus segera meletakkan jabatannya. "Saya benar-benar merasa Trump harus pergi. Dia menyebabkan begitu banyak kehancuran dalam segala hal," cetusnya.
Tak hanya di dalam negeri, solidaritas terhadap gerakan ini juga menjalar hingga ke Eropa.
Aksi serupa dilaporkan terjadi di Amsterdam, Madrid, dan Roma. Menjelang pemilihan paruh waktu (Midterm Election) pada November 2026 mendatang, posisi politik Trump diprediksi akan semakin tersudut oleh tekanan massa yang terus membesar.