Pertahanan Udara Iran Berbunyi di Tengah Gencatan Senjata, Teheran Kembali Diserang? - Tribunnews
Pertahanan Udara Iran Berbunyi di Tengah Gencatan Senjata, Teheran Kembali Diserang?
Ringkasan Berita:
- Sistem pertahan udara Iran kembali berbunyi ditengah gencatan senjata yang diumumkan Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu.
- Teheran dan beberapa kota di Iran siaga penuh setelah sistem pertahanan udara memecah keheningan malam.
- Ternyata yang membuat sistem pertahanan udara berbunyi adalah kemunculan kendaraan udara mikro dan drone kecil jenis "Orbiter".
TRIBUNNEWS.COM - Sistem pertahanan udara Iran kembali berbunyi di tengah gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Suara itu memecah keheningan di Teheran dan sejumlah kota di Iran belakangan ini memicu tanda tanya besar.
Berdasarkan laporan dari berbagai sumber, ternyata yang membuat sistem pertahanan udara berbunyi adalah kemunculan kendaraan udara mikro dan drone kecil jenis "Orbiter".
Keduanya terdeteksi menyusup di beberapa titik wilayah Iran.
Meski status saat ini adalah gencatan senjata, militer Iran tampaknya tidak mau kecolongan dan tetap berada dalam status siaga satu.
Seorang pakar militer mengungkapkan bahwa dalam kondisi gencatan senjata, operator pertahanan udara justru diperintahkan untuk jauh lebih sensitif.
"Setiap ada cahaya aneh, objek mencurigakan, atau sinyal sekecil apa pun di langit, mereka harus langsung merespons," ujarnya, mengutip WANA News Agency.
Tak hanya sistem rudal di darat, jet tempur MiG-29 juga dikabarkan terus berpatroli di perimeter udara ibu kota.
Suara gemuruh yang didengar warga kemungkinan besar berasal dari aktivitas intersepsi rutin pesawat tempur ini terhadap drone-drone liar yang mencoba masuk.
Selain faktor ancaman, suara-suara tersebut juga dipicu oleh kegiatan teknis.
Masa gencatan senjata ini dimanfaatkan militer Iran untuk melakukan overhaul atau perbaikan besar-besaran pada sistem radar dan alutsista mereka.
Baca juga: Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara di Teheran pada Kamis Malam, Ada Serangan Drone?
Pemasangan alat baru tentu memerlukan uji coba lapangan yang menimbulkan suara operasional.
Menariknya, Iran kini tengah mengubah strategi pertahanan udara mereka.
Jika dulu mereka menggunakan sistem "Laba-laba" yang terpusat, kini mereka beralih ke struktur "Mosaik".
Strategi "Mosaik" ini mengandalkan unit-unit lokal yang bisa bekerja secara mandiri tanpa harus menunggu komando pusat.
Langkah ini diambil agar pertahanan tetap kokoh meski jaringan komunikasi utama lumpuh.
Jadi, aktivitas yang terjadi belakangan ini merupakan kombinasi antara pengusiran drone penyusup, perawatan teknis, sekaligus latihan pemantapan strategi baru di tengah tensi kawasan yang masih panas.
AS Siaga Tempur
Militer AS dilaporkan sedang mematangkan rencana serangan terhadap posisi pertahanan Iran di Selat Hormuz.
Langkah ini disiapkan sebagai langkah darurat jika gencatan senjata yang tengah berlangsung saat ini kolaps.
Dikutip dari CNN, Jumat (24/4/2026), militer AS kini membidik sejumlah titik strategis.
Target utamanya adalah menetralisir kapal-kapal cepat, ranjau laut, hingga baterai rudal di pesisir pantai yang dianggap mengancam jalur perdagangan minyak dunia.
Baca juga: Perang Iran-AS Bikin Eropa Terancam Kehabisan Bahan Bakar Jet, Lufthansa Pangkas 20.000 Penerbangan
"Semua opsi ada di meja. Kami terus memberikan berbagai pilihan strategi kepada Presiden," ungkap seorang pejabat Pentagon.
Selat Hormuz adalah "urat nadi" energi dunia.
Sebagian besar pasokan minyak global melewati jalur sempit ini.
Jika Iran benar-benar menutup jalur tersebut, krisis energi hebat bisa melanda dunia.
Trump kabarnya tidak mau ambil risiko.
Ia telah memberikan instruksi tegas kepada Angkatan Laut AS untuk mengambil tindakan destruktif terhadap kapal Iran yang mencoba menyebar ranjau laut di kawasan tersebut.
Tak hanya target fisik berupa alutsista, bocoran informasi menyebutkan bahwa intelijen AS juga mempertimbangkan untuk menargetkan tokoh-tokoh kunci di militer Iran.
Mereka yang dianggap sebagai "penghambat" upaya damai atau otak di balik sabotase pelayaran masuk dalam radar pantauan.
Di sisi lain, Teheran tetap bersikap keras.
Meski gencatan senjata masih berlaku secara teknis, gesekan di lapangan terus terjadi.
Iran membantah tuduhan AS soal ambisi nuklir dan balik menuduh Washington melakukan provokasi di wilayah kedaulatan mereka.
(Tribunnews.com/Whiesa)