Mirip Gaza, Israel Berlakukan Garis Kuning di Lebanon Selatan Sementara Hizbullah Terus Melawan | Republika Online
Mirip Gaza, Israel Berlakukan Garis Kuning di Lebanon Selatan Sementara Hizbullah Terus Melawan | Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Tentara Israel mengumumkan pada Sabtu (18/4/2026) mereka telah menetapkan garis pemisah berwarna kuning di selatan Lebanon.
Garis ini mirip dengan garis yang memisahkan pasukannya dari wilayah-wilayah yang dikuasai Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di Jalur Gaza.
Baca Juga :
Tentara Israel mengklaim telah menyerang para militan yang dicurigai mencoba mendekati pasukannya di sepanjang garis tersebut.
Dilansir Aljazeera, Sabtu, Tentara Israel mengatakan selama 24 jam terakhir, pasukan Israel yang beroperasi di selatan garis kuning di selatan Lebanon memantau orang-orang yang mereka gambarkan sebagai “teroris”.
Baca Juga :
Mereka mengklaim bahwa para pejuang tersebut melanggar perjanjian gencatan senjata dan mendekati bagian utara Garis Kuning dalam bentuk yang merupakan ancaman langsung, sebagai referensi pertama terhadap garis tersebut sejak dimulainya gencatan senjata.
Tentara Israel menambahkan otoritasnya berwenang bertindak melawan ancaman tersebut, meskipun gencatan senjata berlaku.
Baca Juga :
Sebelumnya hari ini, jaringan “CNN” mengutip pejabat militer Israel yang menyatakan Tel Aviv akan melarang penduduk kembali ke 55 kota dan desa yang terletak di wilayah tersebut.
Halaman 2 / 5
Data ini, menurut sumber yang sama, menunjukkan upaya Israel untuk mengukuhkan realitas lapangan permanen di selatan Lebanon, melampaui batas gencatan senjata sementara.
Hal tersebut melalui pembentukan zona yang berada di bawah kendali militer atau tembakan, yang membatasi kembalinya penduduk atau aktivitas lapangan di masa depan.
Dalam konteks ini, Direktur Kantor Aljazeera di Palestina, Walid Al-Omari, mengatakan bahwa militer Israel berbicara tentang penguasaan sekitar 55 kota dan desa di selatan Lebanon.
Al-Omari menjelaskan sekitar 20 di antaranya, terutama yang dekat dengan garis kontak, mengalami kerusakan total atau sebagian.
Dia menambahkan, data ini sejalan dengan usulan Israel mengenai penerapan zona perbatasan yang kosong dari penduduk.
Hal karena tujuannya tidak hanya untuk penyebaran militer, tetapi juga mencakup pencegahan kembalinya warga sipil, sehingga mengukuhkan realitas demografis baru di wilayah-wilayah tersebut.
Pembentukan zona keamanan
Al-Omari menambahkan bahwa langkah ini terkait dengan apa yang dikenal di Israel sebagai “garis rudal anti-perisai”, yaitu zona keamanan yang ingin ditetapkan Tel Aviv dengan kedalaman hingga sekitar 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon.
Halaman 3 / 5
Dia mencatat gagasan ini mencerminkan upaya untuk meniru model serupa dengan yang dikenal sebagai “garis kuning” di Jalur Gaza.
Ini dilakukan dengan mempertahankan wilayah luas di bawah kendali Israel untuk jangka waktu yang lama, baik melalui kehadiran militer langsung maupun melalui kendali tembakan.
Al-Omari menjelaskanvisi Israel meluas hingga mencakup wilayah yang berbatasan dengan Sungai Litan.
Israel berusaha mencegah adanya kehadiran bersenjata di sana, atau menjadikannya berada di bawah ancaman terus-menerus, sehingga memaksakan persamaan pencegahan jangka panjang di perbatasan.
Al-Omari mengatakan realitas ini—jika dibiarkan berlanjut—secara praktis berarti mengosongkan wilayah luas dari penduduknya, yang menimbulkan dampak lapangan dan demografis yang melampaui dimensi militer langsung.
Di sisi lain, dia mencatat tentara Israel berusaha memperkuat citra ini melalui operasi lapangan yang bersifat pameran, termasuk pendaratan pasukan elite di wilayah-wilayah strategis, yang dipromosikan menjelang berlakunya gencatan senjata.
Dia menjelaskan langkah-langkah ini dilakukan dalam konteks mendukung narasi resmi yang berusaha menggambarkan kendali saat ini sebagai pencapaian di lapangan, meskipun terdapat perdebatan internal di Israel mengenai penilaian hasil-hasil tersebut.
Halaman 4 / 5
Al-Omari juga mencatat peta lapangan ini diusung dalam konteks politik yang sensitif, di mana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berusaha memperkuat keberadaan pasukan Israel di wilayah-wilayah tersebut selama mungkin.
Tidal layak huni
Dalam konteks ini, koresponden Aljazeera di Lebanon, Ihab Al-Aqdi, mengatakan kondisi di lapangan mencerminkan tren yang sejalan dengan apa yang diusung pihak Israel, yaitu menjadikan wilayah perbatasan tidak layak huni.
Dia mencatat Kota Al-Khayam yang terletak dekat garis demarkasi sedang mengalami penghancuran sistematis.
Dia menambahkan tentara Lebanon telah menutup akses masuk ke kota tersebut dan melarang warga sipil untuk masuk di tengah keberadaan pasukan Israel di dalamnya.
Ledakan berulang telah menghancurkan sejumlah besar rumah dalam beberapa jam terakhir.
Dia menjelaskan, operasi ini tidak terbatas pada Al-Khayam, melainkan mencakup wilayah luas di selatan Lebanon.
Halaman 5 / 5
Pasukan Israel terus melakukan penggusuran tanah dan penghancuran infrastruktur, dalam konteks yang tampaknya bertujuan untuk mengosongkan wilayah tersebut dari sarana kehidupan.
Koresponden Aljazeera itu mencatat skala kerusakan di wilayah yang terkena serangan udara dan artileri sangat parah, dengan ribuan unit perumahan hancur dan kerusakan luas pada infrastruktur, yang memperkuat kekhawatiran akan kesulitan penduduk untuk kembali dalam waktu dekat.
Di mencatat lebih dari 35 kota dan desa kini berada di luar jangkauan akses akibat penyebaran pasukan Israel di dalamnya.
Sementara Pasukan Darurat PBB (UNIFIL) bergerak untuk memantau situasi, di tengah pertanyaan mengenai perannya pada fase mendatang.
Dia menjelaskan realitas lapangan ini membuka peluang bagi kompleksitas politik terkait fase pasca-gencatan senjata, terutama di tengah perbedaan posisi antara pemerintah Lebanon dan Hizbullah mengenai penarikan pasukan Israel dan masa depan senjata partai tersebut.
Dia menegaskan wilayah-wilayah yang mengalami serangan Israel telah berubah menjadi lingkungan yang hancur total, sehingga rekonstruksi dan kembalinya penduduk bergantung pada perkembangan politik dan keamanan yang belum jelas arahnya.
Sementara itu, Hizbullah Lebanon telah mengumumkan telah melakukan 2.184 serangan militer terhadap sasaran-sasaran Israel, mulai dari selatan Lebanon hingga Tel Aviv dengan jangkauan sejauh 160 kilometer, selama 45 hari sejak dimulainya perang.
Sejak 2 Maret lalu, Israel melancarkan serangan terhadap Lebanon, yang menewaskan sekitar 2.300 orang, melukai lebih dari 7.500 orang, dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi, menurut data resmi terbaru.
Pada Kamis malam, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata di Lebanon selama 10 hari mulai tengah malam.
Pengumuman ini muncul setelah dimulainya negosiasi antara Lebanon dan Israel di Washington.