Iran Rilis Peta Jalur Aman Selat Hormuz, Israel Terus Serang Lebanon - Lombok Post
LombokPost - DI tengah momentum jelang negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan, Israel justru tetap berulah yang bisa membahayakan upaya perdamaian.
Negeri Yahudi itu terus melancarkan serangan ke Lebanon dan menewaskan ratusan orang.
Mengutip Euro News, tanda awal meredanya ketegangan terlihat dari mulai dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga: Selat Hormuz Jadi Kunci, Dua Kapal RI Belum Bisa Melintas
Tanker NJ Earth berbendera Yunani dan Daytona Beach berbendera Liberia menjadi yang pertama melintas setelah kesepakatan gencatan senjata dua pekan Iran-AS diumumkan Rabu (8/4) lalu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, pelayaran dibuka dengan pengaturan ketat.
“Kapal-kapal akan diizinkan melewati selat tersebut dengan aman selama dua minggu melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” ujarnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Baca Juga: Baru Damai Sebentar, Selat Hormuz Kembali Ditutup Iran usai Serangan Israel ke Lebanon
Sebagai bentuk tanggung jawab, Korps Garda Revolusi Iran bahkan merilis peta jalur aman untuk membantu kapal menghindari ranjau laut.
Kapal diarahkan mengambil rute lebih utara yang mendekati wilayah Iran.
Meski demikian, Lloyd’s List melaporkan, lebih dari 800 kapal masih tertahan di kawasan Teluk. Pelaku industri memperkirakan lalu lintas belum akan kembali normal dalam waktu dekat. Kepala Divisi Kelautan dan Penerbangan Lloyd’s Market Association Neil Roberts menyebut, gencatan senjata memang kabar baik, tetapi belum cukup.
“Dari sudut pandang asuransi, gencatan senjata tentu saja disambut baik. Tetapi, sangat tidak mungkin perdagangan ke Teluk akan langsung berlanjut,” ujarnya, seperti dikutip dari France24.
Perbedaan Narasi
Sementara itu, perbedaan narasi antara Iran dan AS muncul. Iran menyebut, pembukaan jalur Selat Hormuz dilakukan dengan keterbatasan teknis. Sedangkan Presiden AS Donald Trump mengklaim adanya pembukaan yang lengkap, segera, dan aman. Hingga kini, belum jelas detail teknis, termasuk soal kemungkinan biaya transit.
Di level diplomasi global, upaya mengamankan Selat Hormuz juga menemui jalan buntu. Dilansir News UN, Dewan Keamanan PBB gagal mengesahkan resolusi terkait keamanan jalur tersebut. Sebanyak 11 negara mendukung, namun diveto Rusia dan Tiongkok, sementara Kolombia dan Pakistan abstain.
Resolusi yang diajukan Bahrain bersama negara Teluk itu dinilai berat sebelah karena hanya menyoroti Iran. Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menilai resolusi itu sebagai upaya menyudutkan negaranya. “Untuk menghukum korban karena membela kedaulatan dan kepentingan nasional vitalnya di Teluk Persia dan Selat Hormuz,” katanya.
Korban Berjatuhan
Di tengah dinamika tersebut, situasi di Lebanon justru memburuk. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, serangan ke Lebanon akan terus berlanjut karena kesepakatan gencatan tak termasuk Lebanon. “Kami akan terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, presisi, dan tekad,” ujarnya Kamis (9/4).
Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine menyebut, korban terus berjatuhan. Sedikitnya 203 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka.
Hizbullah dan pemerintah Lebanon menilai Israel kerap menyasar warga sipil ketika gagal mencapai target militer. Dalam situasi ini, Hizbullah disebut sangat bergantung pada Iran untuk mendorong tercapainya gencatan senjata di Lebanon. Dan, Iran dilaporkan sudah menambahkan klausul penghentian serangan ke Lebanon ini dalam negosiasi dengan AS.
Kecaman juga datang dari PBB. Dilansir Tasnim News Agency, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan, serangan Israel mengancam proses damai. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi