Iran Bantah Pertemuan dengan Utusan Trump di Pakistan Terkait Perundingan Damai - Tribunnews
Iran Bantah Pertemuan dengan Utusan Trump di Pakistan Terkait Perundingan Damai
Pemerintah Iran secara resmi membantah klaim Gedung Putih mengenai adanya rencana pertemuan dengan utusan Presiden Donald Trump di Pakistan
YouTube Posbelitung.co
Pemerintah Iran secara resmi membantah klaim Gedung Putih mengenai adanya rencana pertemuan dengan utusan Presiden Donald Trump di Pakistan.
POSBELITUNG.CO - Pemerintah Iran secara resmi membantah klaim Gedung Putih mengenai adanya rencana pertemuan dengan utusan Presiden Donald Trump di Pakistan.
Meskipun pihak Amerika Serikat telah mengutus Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk menginisiasi perundingan damai pada Sabtu (25/4/2026), Teheran menegaskan bahwa kunjungan diplomatik mereka ke Pakistan tidak melibatkan agenda komunikasi sedikit pun dengan pihak Washington.
Sebelumnya, utusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, dilaporkan sudah berangkat ke Pakistan.
Keberangkatan mereka ke Pakistan disebut untuk menggelar perundingan damai dengan Iran, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: SPPG Ditutup Jika 3 Kali Dapat Komplain, Zulhas: Kalau Makanan Dikirim Tidak Sesuai Standar
Keberangkatan Witkoff dan Kushner diungkapkan Gedung Putih, Jumat (24/4/2026).
“Pihak Iran ingin berbicara,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt
Ia juga menambahkan Wakil Presiden AS JD Vance sudah siap jika harus melakukan perjalanan ke Pakistan, jika pembicaraan terbukti berhasil.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, Esmail Baghaei, membantah pernyataan Gedung Putih.
Di media sosial X, Baghaei menegaskan kedatangan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi ke Pakistan untuk melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan pejabat setempat.
“Tak ada rencana pertemuan antara Iran-AS yang akan dilakukan,” tulisnya.
“Pengamatan Iran akan disampaikan ke Pakistan,” sambung Baghei.
Sebelum pernyataan Baghaei keluar, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan Iran memiliki peluang membuat kesepakatan yang bagus.
“Yang harus mereka lakukan hanyalah meninggalkan senjata nuklir, dengan cara yang bermakna dan dapat diverifikasi,” katanya.
Saat ini, gencatan senjata Iran-AS telah diperpanjang oleh Trump. Gencatan senjata itu seharusnya berakhir pertengahan pekan ini.
Namun, gencatan senjata yang rapuh ini, belum cukup untuk menurunkan tensi kedua negara.
AS hingga saat ini masih melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang akan masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.
Konflik Iran-AS terjadi setelah serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat lainnya
Iran langsung membalas dengan menyerang Israel, serta pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di negara-negara Timur Tengah. Teheran kemudian menutup Selat Hormuz, yang berujung kenaikan harga minyak global.
(Kompas/Tribunnews)