0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Jepang Konflik Timur Tengah Spesial

    Efek Perang Iran Makin Terasa, Industri Pariwisata Jepang Kehilangan Ribuan Turis Eropa - Viva

    4 min read

     

    Efek Perang Iran Makin Terasa, Industri Pariwisata Jepang Kehilangan Ribuan Turis Eropa

    Jakarta, VIVA – Industri pariwisata Jepang mulai merasakan dampak serius dari perang yang melibatkan Iran serta konflik Amerika Serikat-Israel. Meski jumlah wisatawan asing sempat mencetak rekor pada Maret 2026, tekanan geopolitik global kini mulai memukul sektor inbound tourism, terutama dari pasar Eropa.

    Penutupan Selat Hormuz serta melonjaknya harga minyak dunia membuat biaya perjalanan udara dari Eropa ke Jepang semakin mahal. Banyak maskapai yang sebelumnya melayani rute populer Eropa-Jepang melalui Timur Tengah juga terpaksa membatalkan penerbangan, sehingga wisatawan harus beralih ke penerbangan langsung yang jauh lebih mahal.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Akibatnya, sejumlah destinasi favorit wisatawan Eropa di Jepang mulai mengalami gelombang pembatalan besar-besaran. Scroll untuk info lebih lanjut... 

    Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah kawasan Hida-Takayama di Prefektur Gifu, yang terkenal dengan keindahan Pegunungan Alpen Jepang dan dekat dengan desa bersejarah Shirakawa-go yang berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO.

    Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar 4.000 pembatalan hotel dan penginapan tercatat di wilayah tersebut, dan mayoritas berasal dari tamu asal Eropa. Pejabat Hida-Takayama Ryokan and Hotel Cooperative, Minoru Nakahata, mengatakan, hilangnya wisatawan Eropa secara mendadak menjadi pukulan besar karena sulit digantikan oleh turis negara lain.

    “Sulit untuk melihat seperti apa masa depan dalam waktu dekat. Tidak seperti wisatawan Jepang, yang mungkin memutuskan bepergian secara mendadak karena kamar tiba-tiba tersedia, wisatawan asing tidak bisa melakukan itu,” kata Nakahata, sebagaimana dikutip dari Japan Times, Senin, 20 April 2026.

    Pada 2025, Kota Takayama termasuk kawasan Hida-Takayama berhasil menarik 978.312 wisatawan asing yang menginap setidaknya satu malam. Angka itu naik 27,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 220.141 wisatawan berasal dari Eropa, meningkat 21,6 persen dibanding 2024.

    Menurut Nakahata, wisatawan dari Spanyol, Inggris, Italia, Prancis, Jerman, Belanda, hingga Israel menjadi penyumbang besar kunjungan ke kawasan tersebut. “Kami memiliki jumlah pengunjung yang sangat besar dari Spanyol, Inggris, Italia, Prancis, Jerman dan Belanda. Kami juga memiliki banyak pengunjung dari Israel. Mereka semua tertarik pada keindahan alam kawasan ini dan suasana tradisional Shirakawa-go di dekatnya,” ujarnya.

    Peneliti dari Sumitomo Mitsui Trust Research Institute, Saki Iwata, memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan jumlah wisatawan jarak jauh, terutama dari Eropa dan Timur Tengah, akan terus menurun. “Namun, mayoritas besar wisatawan asing ke Jepang saat ini berasal dari Asia. Dari perspektif jangka pendek, jika terjadi penurunan signifikan wisatawan Asia, ini bisa berdampak lebih besar terhadap belanja wisata inbound dibandingkan penurunan besar wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah,” katanya.

    Iwata menjelaskan Jepang masih sangat bergantung pada wisatawan berulang dari Korea Selatan, China, Taiwan, dan Hong Kong. Namun wisatawan baru dari Asia Selatan dan kawasan lain juga berpotensi menunda perjalanan mereka karena kondisi geopolitik global yang belum stabil.

    “Orang-orang yang belum pernah mengunjungi suatu negara kemungkinan memiliki keterikatan emosional yang kecil terhadap negara tersebut dan mungkin tidak memiliki alasan kuat untuk berkunjung, terutama mengingat kondisi geopolitik saat ini,” ujar Iwata.

    Meski penerbangan jarak pendek dari Asia Timur jauh lebih murah dibanding penerbangan jarak jauh dari Eropa, pasar China justru menunjukkan penurunan tajam. Pada Maret 2026, Jepang mencatat total 3,6 juta wisatawan asing atau naik 3,5 persen secara tahunan dan menjadi rekor baru untuk bulan tersebut.

    Namun, jumlah wisatawan asal China turun hingga 56 persen akibat ketegangan bilateral yang membuat Beijing mendorong warganya untuk mengurangi kunjungan ke Jepang. Sementara itu, wisatawan asal Korea Selatan menjadi penyumbang terbesar kunjungan sejak Januari 2026.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Iwata menilai masih ada peluang dari wisatawan asal Amerika Serikat dan negara Barat lainnya yang mungkin mengalihkan rencana liburan mereka dari Timur Tengah atau Eropa ke Jepang. Di sisi lain, pemerintah Kota Takayama bersama asosiasi perhotelan setempat kini tengah mencari cara untuk menarik lebih banyak wisatawan asing selama musim panas.

    Nakahata menambahkan wisatawan Eropa memiliki pola liburan yang berbeda dibanding wisatawan Asia karena mereka cenderung tinggal lebih lama untuk menikmati pengalaman budaya secara menyeluruh. “Tidak seperti pengunjung jangka pendek dari Asia, beberapa wisatawan Eropa menginap selama dua bahkan tiga malam untuk benar-benar menikmati kawasan ini dan Pegunungan Alpen Jepang di sekitarnya,” tutupnya.


    Komentar
    Additional JS