China dan Rusia Kerahkan Senjata Canggih Masa Depan, AS Tertinggal, / detik
China dan Rusia Kerahkan Senjata Canggih Masa Depan, AS Tertinggal
Jakarta -
Amerika Serikat menghabiskan waktu lama berpacu mengembangkan senjata hipersonik untuk bersaing dengan China dan Rusia. Namun penundaan, perubahan program, dan terbatasnya kapasitas pengujian memunculkan kekhawatiran AS masih tertinggal dalam teknologi yang dapat mengubah wajah peperangan modern ini.
Dikutip detikINET dari Fox news, kombinasi masalah tersebut meningkatkan kekhawatiran di internal Pentagon, terutama karena China dan Rusia telah lebih dahulu mengerahkan sistem hipersonik.
"Mengerahkan dan mengeskalasi senjata hipersonik adalah prioritas utama Departemen Pertahanan dan kami bergerak sangat cepat. 'Scaled Hypersonics' telah ditetapkan sebagai salah satu area teknologi kritis Departemen oleh Chief Technology Officer Emil Michael guna memusatkan sumber daya untuk memberikan solusi hipersonik hemat biaya sekaligus mematikan," ungkap pejabat Pentagon.
Senjata hipersonik melesat dengan kecepatan sangat tinggi sembari melakukan manuver, menjadikannya jauh lebih sulit dideteksi dan dicegat. Berbeda dengan rudal balistik dengan jalur yang dapat diprediksi, senjata hipersonik dapat mengubah arah di penerbangan dan terbang di ketinggian lebih rendah, membuatnya lebih sulit dilacak oleh sistem pertahanan.
Rusia telah menggunakan senjata jenis hipersonik dalam perangnya melawan Ukraina. Di AS, kemajuannya tidak merata. Beberapa program terus melaju menuju tahap pengerahan, sementara yang lain sempat dibatalkan lalu dihidupkan kembali.
Sebagian dari tantangan bersifat teknis. Sistem hipersonik harus mampu bertahan dari suhu dan tekanan ekstrem saat melesat melintasi atmosfer sehingga lebih kompleks untuk dibuat dibanding rudal tradisional. Dalam beberapa kasus, Pentagon juga mengejar pendekatan lebih canggih yang makin menambah kerumitan.
Upaya tersebut makin dipersulit satu kendala mendasar: kapasitas pengujian. Dengan terbatasnya jumlah fasilitas yang mampu mensimulasikan atau mempertahankan kecepatan hipersonik, berbagai program sering kali harus tertunda karena menunggu giliran uji coba.
Mark Bigham, mantan eksekutif Raytheon, mengatakan kendala tersebut menjadi penghambat utama. "Orang-orang bisa berinovasi dan berkreasi dengan sangat cepat. Dan satu-satunya cara menyaring karya mereka adalah dengan benar-benar mengujinya," sebutnya.
Hanya segelintir fasilitas yang bisa menguji sistem hipersonik, sehingga sulit untuk meningkatkan laju pengembangan. Di luar tantangan teknik dan pengujian, upaya AS juga dipengaruhi oleh pergeseran prioritas.
Setelah memimpin penelitian awal hipersonik tahun 2000-an, pengeluaran pertahanan sempat bergeser ke arah operasi kontraterorisme dan kemampuan lain, sementara pendanaan untuk senjata berkecepatan tinggi terus tidak konsisten.
Di saat yang sama, persyaratan keselamatan dan keandalan yang ketat dapat memperlambat transisi dari fase pengujian ke pengerahan, sehingga memperpanjang linimasa dibandingkan dengan negara-negara pesaing.
Upaya Pentagon yang paling canggih, yakni senjata hipersonik jarak jauh milik Angkatan Darat yang dikenal sebagai "Dark Eagle" baru-baru ini menunjukkan kemajuan. Meski begitu, portofolio hipersonik secara keseluruhan masih terus berubah.
Angkatan Udara telah menghidupkan kembali senjata cepat yang diluncurkan dari udara setelah sebelumnya menangguhkan program tersebut akibat rentetan kegagalan uji coba. Mereka kini mengajukan sekitar USD 387 juta untuk memulai tahap pengadaannya.
Pada saat yang sama, AS gencar berinvestasi menangkal ancaman hipersonik. Badan Pertahanan Rudal memberikan dana tambahan ke Northrop Grumman untuk mempercepat pengembangan pencegat Glide Phase Interceptor untuk menghancurkan senjata hipersonik di tengah perjalanan. Kemudian AS berencana membuat jaringan pelacakan berbasis ruang angkasa untuk mendeteksi rudal yang melesat dengan kecepatan ekstrem.
Urgensinya bermula dari fakta bahwa China dan Rusia telah mengerahkan senjata hipersonik. "Naluri saya mengatakan kita harus menginjak pedal gas dan bergerak lebih cepat," ujar Bigham.
(fyk/afr)