0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Featured Spesial Gencatan Senjata Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    AS Krisis Stok Rudal, Rentan Jika Berurusan dengan China, Alasan Trump Perpanjang Gencatan Senjata? - Tribunnews

    7 min read

     

    AS Krisis Stok Rudal, Rentan Jika Berurusan dengan China, Alasan Trump Perpanjang Gencatan Senjata?

    Pengeluaran amunisi yang tinggi untuk perangi Iran menciptakan kerentanan bagi AS, jika konflik skala besar kembali pecah atau meluas ke pasifik.

    HO/IST/Tangkap Layar/mediasosial/sc.AP

    KESEHATAN TRUMP - Gambar tangkap layar di media sosial yang menunjukkan kelainan pada wajah Presiden AS, Donald Trump. Sejumlah penampilan janggal Trump di depan publik telah memicu spekulasi seputar kesehatannya. 

    Ringkasan Berita:
    • Militer AS dilaporkan menghabiskan sedikitnya 45 persen stok rudal precision strike, separuh dari inventaris rudal pertahanan THAAD, serta hampir 50 persen rudal pencegat Patriot. Stok rudal Tomahawk juga telah menyusut sekitar 30 persen
    • Situasi krisis amunisi AS bertepatan keputusan Presiden Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran
    • Pengamat menilai jeda ini menjadi krusial bagi AS untuk mengatur ulang logistik militernya

    TRIBUNNEWS.COM - Di balik keputusan Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, ada analisis yang menunjukkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer Amerika Serikat

    Analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa persediaan rudal utama AS telah terkuras signifikan akibat intensitas pertempuran selama tujuh minggu terakhir.

    Mark Cancian, pensiunan Kolonel Korps Marinir AS sekaligus salah satu penulis laporan CSIS, memperingatkan bahwa Washington kini menghadapi risiko jangka pendek kehabisan amunisi, jika konflik skala besar kembali pecah atau meluas ke wilayah lain, seperti Pasifik Barat.

    "Pengeluaran amunisi yang tinggi ini telah menciptakan kerentanan. Butuh waktu satu hingga empat tahun hanya untuk mengisi kembali inventaris ini, dan bertahun-tahun setelahnya untuk mengembangkannya ke tingkat yang ideal," ujar Cancian kepada CNN dikutip Rabu (22/4/2026).

    Baca juga: AS Isi Ulang Senjata di Tengah Gencatan, Trump: Siap Hajar Iran Jika Kesepakatan Gagal

    Analisis CSIS mengungkapkan angka penyusutan stok yang drastis. Militer AS dilaporkan telah menghabiskan sedikitnya 45 persen stok rudal precision strike, separuh dari inventaris rudal pertahanan THAAD, serta hampir 50 persen rudal pencegat Patriot. Stok rudal Tomahawk juga telah menyusut sekitar 30 persen.

    Meskipun Pentagon telah menandatangani kontrak baru untuk mempercepat produksi, proses penggantian sistem persenjataan ini membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun.

    Kondisi ini menempatkan AS pada posisi sulit, seandainya harus menghadapi lawan seimbang seperti China dalam waktu dekat.

    Situasi krisis amunisi ini bertepatan dengan keputusan Presiden Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran

    Secara resmi, Trump menyatakan penundaan serangan dilakukan atas permintaan mediasi dari Pakistan agar Iran dapat mengajukan proposal damai yang terpadu.

    Namun, pengamat menilai jeda ini menjadi krusial bagi AS untuk mengatur ulang logistik militernya.

    Meski begitu, Trump tetap bersikap keras dengan mempertahankan blokade angkatan laut di wilayah Iran.

    "Saya telah menginstruksikan militer kita untuk melanjutkan blokade dan tetap siap. Gencatan senjata diperpanjang sampai proposal mereka diajukan," tulis Trump melalui platform Truth Social.

    Kontras dengan penipisan stok di kubu AS, Iran diyakini masih memiliki napas panjang untuk berperang.

    Laporan dari Business Insider dan Badan Intelijen Pertahanan (DIA) menyebutkan bahwa Teheran berhasil mempertahankan ribuan rudal dan drone serang satu arah meskipun telah dibombardir selama lebih dari lima minggu.

    Letnan Jenderal James Adams dari Korps Marinir AS menyatakan bahwa Iran masih memiliki persenjataan yang sangat besar yang menjadi ancaman bagi pangkalan AS dan sekutunya.

    Senada dengan itu, Senator Arizona Mark Kelly menyebut konflik ini telah menjadi "masalah matematika" yang rumit bagi AS.

    "Iran punya kemampuan memproduksi banyak drone Shahed dan rudal balistik. Pada satu titik, ini menjadi masalah perhitungan: dari mana kita akan memasok kembali amunisi pertahanan udara kita?" tegas Kelly.

    Dengan kondisi Iran yang masih memiliki sekitar setengah dari peluncur rudalnya dan ribuan drone yang utuh, meja negosiasi di Islamabad menjadi satu-satunya jalur yang memungkinkan untuk menghindari perang atrisi atau perang urat saraf jangka panjang yang bisa melumpuhkan cadangan persenjataan Amerika Serikat.

    Komentar
    Additional JS