0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Selat Hormuz Spesial

    Aksi Balasan atas Blokade AS, Iran Mulai Tangkap Kapal Asing di Selat Hormuz - Viv6

    6 min read

     

    Aksi Balasan atas Blokade AS, Iran Mulai Tangkap Kapal Asing di Selat Hormuz

    Ilustrasi militer AS blokade Selat Hormuz

    Teheran, VIVA – Ketegangan di jalur energi paling vital dunia tengah memuncak. Setelah saling serang dan blokade laut, Iran kini mengambil langkah berani dengan menangkap kapal-kapal asing di Selat Hormuz, Kamis 23 April 2026.

    Baca Juga

    Langkah ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata rapuh antara Iran dan Amerika Serikat, yang justru diwarnai aksi saling intersepsi di laut. Selat Hormuz, yang selama ini dikenal sebagai “urat nadi” distribusi energi global, kini berubah menjadi arena adu kekuatan militer.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Selat Hormuz: Jalur Sempit, Dampak Global

    Baca Juga

    Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Meski lebarnya hanya sekitar 39 kilometer di titik tersempit, perairan ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.

    Sejak awal Maret, Iran melalui Garda Revolusi (IRGC) menyatakan mengontrol penuh lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Artinya, setiap kapal yang melintas harus mendapatkan izin. 

    Baca Juga

    Iran beralasan, karena sebagian wilayah selat berada dalam perairan teritorialnya dan Oman, mereka berhak mengatur lalu lintas. Namun, langkah ini memicu kekhawatiran global karena berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.

    Dari Sistem Berbayar hingga Penangkapan Kapal

    Awalnya, Iran hanya membatasi kapal dari negara yang dianggap musuh, seperti Amerika Serikat dan sekutunya. Kapal dari negara lain masih diizinkan lewat, asalkan mengikuti sistem verifikasi, bahkan disebut-sebut harus membayar “toll” dalam beberapa kasus.

    Namun situasi berubah drastis setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran pada 13 April. Sejak saat itu, kontrol Iran semakin ketat.

    Puncaknya terjadi pada 22 April, ketika Iran menangkap dua kapal kargo asing dan menembaki kapal lainnya yang mencoba keluar dari Selat Hormuz. Menurut laporan, kapal-kapal tersebut dianggap melanggar aturan karena tidak berkoordinasi dengan otoritas Iran.

    Salah satu kapal yang ditangkap adalah MSC Francesca berbendera Panama, sementara kapal lainnya adalah Epaminondas yang dimiliki perusahaan Yunani. Meski sempat ditembaki, seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

    Aksi Balasan Atas Blokade AS

    Langkah Iran tidak bisa dilepaskan dari aksi sebelumnya oleh Amerika Serikat. Beberapa hari sebelum insiden itu, militer AS menembaki dan menyita kapal kontainer berbendera Iran bernama Touska di Laut Arab.

    Washington menyebut tindakan itu sebagai bagian dari penegakan sanksi. Namun Teheran mengecamnya sebagai “pembajakan”.

    Sejak blokade dimulai, militer AS dilaporkan telah memaksa puluhan kapal yang terkait Iran untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan asal.

    Iran pun merespons dengan memperketat aturan di Selat Hormuz. Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menegaskan bahwa keamanan di selat tersebut tidak lagi gratis.

    “Tidak mungkin ekspor minyak Iran dibatasi, sementara pihak lain menikmati keamanan tanpa biaya,” ujarnya. Ia menambahkan, dunia harus memilih antara pasar energi yang bebas atau risiko lonjakan biaya global.

    Meski gencatan senjata secara formal masih berlaku, kenyataannya konflik antara kedua negara terus berlangsung dalam bentuk lain—terutama di laut.

    Pengamat dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai bahwa aksi penangkapan kapal ini adalah bagian dari pola “balas-membalas”.

    “Yang terjadi di Selat Hormuz bukan penguasaan strategis, melainkan permainan saling tekan. Kedua pihak menguji batas kekuatan masing-masing,” ujar Ali Vaez seperti dikutip Al Jazeera. 

    Ia memperingatkan bahwa situasi ini sangat berbahaya.

     “Tidak ada pihak yang mau mundur. Setiap insiden kecil berpotensi memicu eskalasi yang lebih besar,” tambahnya.

    Senada, akademisi dari University of York, Chris Featherstone, menyebut konflik ini seperti permainan poker berisiko tinggi.

    “Ini seperti dua pemain yang saling menatap dan menunggu siapa yang berkedip lebih dulu. Dengan menangkap kapal, Iran justru menekan AS untuk mengambil langkah berikutnya,” katanya.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Di balik konflik ini, ada kepentingan ekonomi yang sangat besar. Sekitar 80 persen ekspor minyak Iran melewati Selat Hormuz. Dalam sebulan terakhir, Iran bahkan meraup pendapatan miliaran dolar dari ekspor minyak, didorong harga yang tetap tinggi.

    Namun di sisi lain, ketegangan ini juga meningkatkan risiko gangguan pasokan global. Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup atau konflik meningkat, dampaknya bisa terasa hingga ke harga BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia.

    Kapal-kapal tertahan di Selat Hormuz

    Butuh Waktu Enam Bulan Bersihkan Selat Hormuz dari Ranjau Iran

    Departemen Pertahanan AS atau Pentagon menilai butuh waktu enam bulan untuk sepenuhnya membersihkan Selat Hormuz dari ranjau yang ditanam Iran, harga minyak sulit turun

    img_title

    VIVA.co.id

    23 April 2026

    Komentar
    Additional JS