2 Teknisi Angkatan Udara Israel Didakwa Jadi Mata-mata untuk Iran, Dituduh Bantu Musuh Selama Perang - Tribunnews
2 Teknisi Angkatan Udara Israel Didakwa Jadi Mata-mata untuk Iran, Dituduh Bantu Musuh Selama Perang
Ringkasan Berita:
- Anggota Angkatan Udara Israel dituduh membantu musuh selama masa perang Iran.
- Salah satu tersangka berpotensi menghadapi tuduhan yang setara dengan pengkhianatan.
- Tersangka diduga diminta untuk mengumpulkan informasi tentang Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan mantan Kepala Staf Herzi Halevi.
TRIBUNNEWS.COM - Dua teknisi pesawat yang bertugas di militer Israel akan didakwa melakukan spionase untuk Iran, Rabu (22/4/2026) waktu setempat.
Spionase merupakan aksi memata-matai untuk mengumpulkan informasi mengenai sebuah organisasi atau lembaga yang dianggap rahasia tanpa mendapatkan izin dari pemilik yang sah dari informasi tersebut.
Stasiun televisi pemerintah Israel, KAN, melaporkan bahwa para tersangka adalah anggota Angkatan Udara Israel yang bekerja sebagai teknisi F-15 di Pangkalan Udara Tel Nof dekat Ashdod, Israel.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa mereka dituduh "membantu musuh selama masa perang," dengan salah satu tersangka berpotensi menghadapi tuduhan yang setara dengan pengkhianatan.
Laporan itu menambahkan bahwa delapan tentara lain di pangkalan tersebut sedang diselidiki karena dicurigai gagal melaporkan aktivitas yang diduga tersebut meskipun mereka mengetahuinya.
Menurut laporan tersebut, para tersangka diduga diminta untuk mengumpulkan informasi tentang Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan mantan Kepala Staf Herzi Halevi.
Mereka juga dituduh memberikan dokumen yang berkaitan dengan skema mesin pesawat Israel serta foto seorang instruktur penerbangan.
Tuduhan Spionase di Iran
Sementara itu, Iran menggantung seorang pria pada Rabu setelah dinyatakan bersalah karena memiliki hubungan dengan badan intelijen Israel, Mossad, kata pihak kehakiman.
Dua LSM yang berbasis di luar negeri mengatakan bahwa pria tersebut bekerja untuk organisasi energi atom Iran.
Eksekusi Mehdi Farid adalah yang terbaru dari sejumlah hukuman gantung terhadap narapidana kelas kakap dalam tren yang semakin meningkat dan telah membuat kelompok hak asasi manusia khawatir.
“Mehdi Farid digantung pagi ini karena kerja sama yang luas dengan badan intelijen teroris Mossad setelah kasusnya diperiksa dan putusan akhir disetujui,” demikian pernyataan situs web Mizan Online milik lembaga peradilan, menambahkan bahwa ia telah dinyatakan bersalah atas tindak pidana berat “korupsi di muka bumi”.
Baca juga: Blokade AS Dipertanyakan, 34 Kapal “Hantu” Iran Lolos Angkut Minyak Rp15,6 Triliun
LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia, yang memantau eksekusi di Iran, mengatakan bahwa Farid bekerja untuk Organisasi Energi Atom Iran ketika dia ditangkap pada 31 Mei 2023.
Disebutkan bahwa awalnya ia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, tetapi kemudian, dalam persidangan baru pada Juli 2025, dijatuhi hukuman mati atas tuduhan memata-matai Israel.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS juga mengatakan bahwa Farid, 55 tahun, adalah seorang karyawan organisasi energi atom dan bahwa persidangan baru tersebut merupakan hasil dari banding yang diajukan oleh jaksa penuntut.

Sejak eksekusi dilanjutkan pada 19 Maret 2026 di tengah perang melawan AS dan Israel, otoritas Iran telah mengeksekusi delapan pria atas tuduhan terkait protes massal awal tahun ini dan delapan pria lainnya yang merupakan anggota Mujahidin Rakyat, sebuah kelompok oposisi yang dilarang di Iran.
Iran juga mengeksekusi seorang warga negara Iran-Swedia atas tuduhan memata-matai Israel.
Dua anggota MEK dieksekusi atas tuduhan memata-matai serupa, tuduhan yang oleh kelompok tersebut digambarkan sebagai tidak masuk akal.
“Sejak konflik dimulai, pelaksanaan hukuman mati telah memasuki tahap baru dan mengkhawatirkan yang ditandai dengan fokus penuh pada tahanan dengan tuduhan politik dan keamanan serta percepatan yang nyata dalam pelaksanaan hukuman,” kata HRANA.
Baca juga: Iran dan AS Saling Balas Dendam: Tembaki dan Sita Kapal di Selat Hormuz hingga Pertahankan Blokade
Mizan mengatakan Farid adalah seorang manajer di Organisasi Pertahanan Pasif, sebuah badan pertahanan sipil, yang mengeluarkan pernyataan yang menyangkal bahwa dia memiliki "keanggotaan, tanggung jawab, atau posisi apa pun" di sana.
Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa tidak akan ada keringanan hukuman bagi siapa pun yang dianggap telah berkolaborasi dengan Israel.
Sejumlah pejabat tinggi tewas dalam serangan yang ditargetkan selama perang Israel melawan Iran pada Juni 2025 dan perang AS-Israel terbaru, termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari, hari pertama konflik saat ini.
Sejak perang dimulai, setidaknya 3.375 orang telah tewas di Iran, menurut pihak berwenang.
Lebih dari 2.290 orang tewas di Lebanon, 23 orang tewas di Israel, dan lebih dari selusin orang tewas di negara-negara Teluk Arab.
Lima belas tentara Israel di Lebanon dan 13 anggota militer AS telah tewas.
(Tribunnews.com/Nuryanti)
Berita lain terkait Iran Vs Amerika Memanas