Produsen Kapal Militer Jerman Bakal Buka Layanan Kapal Selam di Singapura - Tribunnews
Produsen Kapal Militer Jerman Bakal Buka Layanan Kapal Selam di Singapura
Pendirian pusat layanan ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) di Singapura memungkinkan terbentuknya hub yang menguatkan negara mitra…
ThyssenKrupp Marine Systems produsen kapal militer yang berbasis di Kiel, Jerman menandatangani nota kesepahaman dengan mitra lokal Singapura, ST Engineering, di sela-sela kunjungan Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius.
"Kerja sama dengan ST Engineering menjadi landasan untuk memastikan kesiapan operasional jangka panjang kapal selam Angkatan Laut Singapura serta kapal selam milik angkatan laut dari negara mitra lainnya yang mengoperasikan kapal selam TKMS,” kata CEO TKMS Oliver Burkhard dalam sebuah pernyataan.
"Sederhananya, perjanjian ini berarti bahwa di Singapura akan memiliki pusat pemeliharaan kapal selam TKMS dan pasokan suku cadangnya yang tidak hanya menguntungkan Singapura, Jerman, tetapi juga negara mitra lainnya di kawasan yang menggunakan kapal selam TKMS,” kata Menhan Jerman dalam konferensi pers seusai pertemuan dengan Menhan Singapura, Chan Chun Sing.
Lebih lanjut menteri pertahanan Jerman mengatakan kerja sama urusan kapal selam ini ini menjadi batu landasan yang memungkinkan terbentuknya sebuah hub bagi para pengguna kapal TKMS yang beroperasi di kawasan Indo-Pasifik terutama negara-negara dengan visi serupa yang ekuivalen dengan NATO. "Kerjasama ini menunjukkan kepada mitra kami di kawasan bahwa Jerman turut hadir memastikan keamanan Indo-Pasifik,” tegasnya
Singapura merupakan pusat ekonomi regional Asia Tenggara dan menjadi mitra penting bagi industri pertahanan Jerman. Dalam kunjungannya, Pistorius membawa serta para pimpinan perusahaan alutsista Jerman. "Khususnya pada masa-masa ini, di mana tatanan berdasar aturan berulang kali ditantang, dipertanyakan, atau diabaikan begitu saja, maka semakin penting untuk hadir menjadi mitra yang andal di dunia yang semakin tidak dapat diandalkan," jelas Pistorius perihal hubungan kerja sama tersebut.
Memastikan keamanan jalur perdagangan dan navigasi maritim
Pistorius menekankan bahwa keamanan jalur perdagangan dan kebebasan navigasi layaknya konflik yang meruncing di Selat Hormuz menjadi prioritas vital bagi Jerman sebagai pengekspor utama Eropa dan bagi Singapura sebagai pusat maritim dan teknologi di Asia Tenggara.
Kehadiran petugas Jerman di Pusat Fusi Informasi Singapura sejak 2020 memungkinkan pemantauan situasi secara real-time dan penyusunan laporan situasi yang akurat, sehingga memastikan kesiapsiagaan strategis bersama.
Singapura juga merupakan mitra utama Jerman dalam latihan militer Indo-Pacific Deployment 22 dan 24, yang melibatkan kolaborasi angkatan laut dan udara. Sebelumnya, pada tahun 2021 dan 2024, Jerman telah mengirim dua fregat ke kawasan Indo-Pasifik sebagai bagian dari kehadiran maritimnya.
Penempatan dan pengarahan kapal perang tersebut bertujuan untuk menunjukkan dukungan Jerman terhadap negara mitra sekaligus memperkuat perlindungan tatanan internasional berbasis aturan, baik di Mediterania, Teluk Benggala, maupun Laut Cina Selatan, dengan fokus pada kebebasan navigasi dan keamanan maritim.
Angkatan Laut Singapura sejauh ini mendapat tambahan satu lagi kapal selam tipe 218SG dan tengah memesan kapal tambahannya serta persenjataannya dari Jerman. Singapura sedang mempertimbangkan pembelian pesawat maritim P-8 Poseidon untuk patroli maritim dan pengawasan, mendeteksi hingga menyerang kapal selam musuh serta melakukan pengintaian. Singapura dilaporkan telah mengoperasikan armada besar tank tempur utama Leopard 2 dan melatih para prajuritnya di Jerman.
Sehari sebelum kunjungan Menhan Jerman ke Singapura, Menteri Pertahanan Jerman dalam kunjungannya di Jepang menyatakan stabilitas kawasan Indo-pasifik erat kaitannya degan keamanan Eropa.
Meski terpisah jarak geografis, Jerman dan negara mitra strategisnya sepakat mempererat kerjasama militer dan pertahanannya di tengah ketegangan global. Kerjasama yang disepakati meliputi kerjasama latihan militer, dukungan logistik operasi atau latihan militer (ACSA), hingga kerjasama proyek bersama industri pertahanan.
Rodion Ebbighausen turut berkontribusi dalam artikel ini
Editor: Ayu Purwaningsih