Pentagon siapkan pasukan darat gempur Iran di Pulau Kharg - IDN Financial
Pentagon siapkan pasukan darat gempur Iran di Pulau Kharg
Rencana militer yang dirancang di bawah ambang batas invasi penuh (full invasion) ini berpotensi melibatkan serangan kilat dari pasukan operasi khusus (special operations) dan infanteri konvensional ke Pulau Kharg serta sejumlah situs pesisir strategis di dekat Selat Hormuz (Strait of Hormuz).
Eskalasi mematikan ini berisiko menghadapkan personel militer AS secara langsung dengan persenjataan pesawat nirawak (drones), rudal, tembakan darat, hingga bahan peledak rakitan (improvised explosives) milik militer Iran seiring peperangan yang kini telah memasuki minggu kelima.
Seperti dikutip Al Jazeera (29/03/2026) berdasarkan laporan investigasi The Washington Post, persetujuan akhir dari Presiden Donald Trump atas rencana pengerahan pasukan ini masih diliputi ketidakpastian. Menanggapi bocornya laporan tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa manuver ini murni bentuk kesiagaan militer.
"Ini adalah tugas Pentagon untuk melakukan persiapan guna memberi Panglima Tertinggi keleluasaan opsi yang maksimal. Ini bukan berarti presiden telah membuat keputusan," tegas Leavitt.
Kendati demikian, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa sekitar 3.500 tentara tambahan dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 (31st Marine Expeditionary Unit) telah tiba di Timur Tengah pada 27 Maret menggunakan kapal serbu amfibi USS Tripoli. Selain marinir, pemerintahan Trump juga bersiap menerjunkan ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 (82nd Airborne) ke kawasan tersebut.
Diskusi internal pemerintah AS selama sebulan terakhir sangat menyoroti urgensi untuk merebut Pulau Kharg—yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran di kawasan Teluk—serta menghancurkan fasilitas senjata pesisir yang dinilai dapat mengancam pelayaran komersial dan militer. Sumber internal membocorkan bahwa operasi ini mungkin memakan waktu "berminggu-minggu, bukan berbulan-bulan".
Di tengah bayang-bayang invasi darat ini, Pakistan yang memiliki perbatasan sepanjang 900 kilometer dengan Iran kini tengah bermanuver memediasi konflik antara Washington dan Teheran, dengan menjadi tuan rumah pembicaraan dua hari yang dimulai pada hari Minggu dan melibatkan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, serta Mesir.
Merespons ancaman tersebut, jajaran elite Teheran langsung mengeluarkan peringatan keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding musuh diam-diam merencanakan serangan darat di balik kedok pesan negosiasi.
"Mereka tidak sadar bahwa orang-orang kami sedang menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya," ancam Ghalibaf, seraya menegaskan akan menghancurkan infrastruktur vital milik negara tetangga mana pun yang berani memfasilitasi operasi AS tersebut.
Sumpah pembalasan juga datang dari Kepala Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, yang memastikan akan membidik kapal induk USS Abraham Lincoln jika masuk ke dalam jarak tembak demi membalas dendam atas tenggelamnya kapal perang Dena pada 4 Maret lalu.
Lebih jauh, pemberontak Houthi di Yaman yang didukung penuh oleh Iran dilaporkan telah disiagakan untuk membuka front pertempuran baru di Selat Bab al-Mandeb (Bab al-Mandeb Strait) guna memberikan hukuman maksimal bagi Washington. (SF)
