0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Spesial

    China Ubah Sikap, Pilih Tengahi Konflik AS-Iran: Jika Perang Terus Berlanjut, Tak Akan Ada Pemenang - Tribunnews

    8 min read

     

    China Ubah Sikap, Pilih Tengahi Konflik AS-Iran: Jika Perang Terus Berlanjut, Tak Akan Ada Pemenang

    China memposisikan diri sebagai kekuatan besar, yang berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi dengan semua pihak guna mengampanyekan perdamaian.



    Ringkasan Berita:
    • Sebelumnya China tak mau ikut campur dan memilih menahan diri dalam konflik, setelah dapat jaminan dari Iran kapal tanker mereka bisa melewati Selat Hormuz dengan aman
    • Namun situasinya kini berbeda setelah meningkatnya eskalasi perang di Timur Tengah yang dinilai makin mengkhawatirkan. China siap jadi penengah untuk meredakan konflik
    • Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menambahkan bahwa gencatan senjata dan dialog adalah satu-satunya jalan keluar

     

    TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah China resmi mengambil langkah proaktif sebagai mediator dalam konflik yang tengah memanas antara Amerika Serikat dan Iran

    Langkah ini diambil Beijing guna mencegah eskalasi lebih lanjut yang dinilai dapat mengancam stabilitas keamanan serta investasi infrastruktur energi global di kawasan Timur Tengah.

    Utusan Khusus Pemerintah China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, menegaskan bahwa China akan memposisikan diri sebagai kekuatan besar, yang berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi erat dengan semua pihak guna mengampanyekan perdamaian.

    "Selama konflik masih berlanjut, upaya mediasi diplomatik kami tidak akan berhenti. Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China akan menjaga komunikasi dengan seluruh pihak untuk meredakan ketegangan," ujar Zhai Jun dalam jumpa pers di Beijing, seperti diberitakan Asia Times.

    Baca juga: Analis: AS Klaim Negosiasi Jalan, Iran Tegas Membantah, Siapa Mainkan Narasi di Balik Perang?

    Fokus utama mediasi China adalah membujuk Teheran agar membuka penuh Selat Hormuz bagi jalur perdagangan internasional.

    Langkah ini dipandang krusial untuk mengakhiri gangguan pasokan minyak global sekaligus memberikan ruang bagi diplomasi antara Iran dan pemerintahan Presiden Donald Trump.

    Zhai Jun memperingatkan bahwa perang yang meluas di Iran akan mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan bagi pasar energi dan kemanusiaan.

    "Jika pertempuran terus berlanjut, tidak akan ada pemenang, dan pada akhirnya rakyat di kawasan itulah yang akan menderita," tegasnya.

    Pergeseran Strategi Beijing

    Keterlibatan aktif China ini menandai pergeseran sikap Beijing terhadap konflik AS-Israel dan Iran.

    Sebelumnya, China cenderung menahan diri setelah mendapat jaminan keamanan dari Iran bagi kapal tankernya untuk melewati Selat Hormuz. 

    Namun, serangan balasan Iran terhadap fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi pada pertengahan Maret, sebagai balasan atas serangan Israel ke fasilitas minyak mereka, memicu kekhawatiran serius akan dampak sistemik terhadap kepentingan ekonomi global.

    Menindaklanjuti hal tersebut, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, melakukan pembicaraan telepon dengan Menlu Iran, Seyed Abbas Araghchi, pada Selasa (24/3/2026).

    Dalam percakapan tersebut, Iran kemudian menyatakan komitmennya untuk menjaga keamanan Selat Hormuz bagi kapal-kapal internasional, kecuali bagi negara-negara yang sedang berperang dengannya.

    Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menambahkan bahwa gencatan senjata dan dialog adalah satu-satunya jalan keluar.

    China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer demi mencegah konflik yang lebih luas.

    "China sangat prihatin dengan eskalasi yang terus berlanjut. Kami menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk segera kembali ke jalur perdamaian dan dialog," kata Lin Jian.

    Upaya diplomatik China ini juga mendapat sinyal positif dari negara kawasan lainnya, termasuk Pakistan yang menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah perundingan antara AS dan Iran guna mendukung inisiatif damai tersebut.

    Namun, situasi sempat menjadi sangat rumit karena pada 21 Maret, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz sepenuhnya dalam waktu 48 jam. 

    Sebaliknya, Iran bersumpah akan membalas dengan menargetkan infrastruktur penting di seluruh Timur Tengah dan menutup Selat Hormuz sepenuhnya.

    Tensi mendadak sedikit turun setelah Trump mengatakan dalam sebuah postingan media sosial, bahwa ia akan menunda selama lima hari berkait rencananya menyerang infrastruktur energi Iran.

    Penundaan itu seiring klaim yang digambarkannya sebagai “percakapan yang sangat baik dan produktif” antara pihak AS dan Iran.

    Tidak jelas apakah Beijing telah berperan dalam perubahan nada Trump yang tiba-tiba menjadi lebih lunak.  

    Yang jelas perubahan sikap China dalam konflik tersebut tak lepas karena Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab adalah sumber utama impor minyak mentah dan gas alam cair. 

    Ketiga negara teluk tersebut juga benteng strategis, di mana perusahaan-perusahaan China berinvestasi selama bertahun-tahun.

    "Kehadiran China di negara-negara Teluk ini telah melampaui perdagangan dan menjangkau kemitraan yang lebih dalam di proyek-proyek minyak, gas, dan energi terbarukan," kata seorang kolumnis asal Henan yang menulis dengan nama pena Yi Benge seperti dikutip Asian Times. 


    Komentar
    Additional JS