Aktivitas Riset Kapal China di Samudera Hindia jadi Pemicu Kekhawatiran Strategis - Tribunnews
Aktivitas Riset Kapal China di Samudera Hindia jadi Pemicu Kekhawatiran Strategis
aktivitas kapal survei China di kawasan Samudra Hindia, termasuk di sekitar Sri Lanka, yang dinilai memiliki implikasi strategis.
Ringkasan Berita:
- Investigasi Reuters soroti aktivitas kapal China di kawasan Samudera Hindia, termasuk sekitar Sri Lanka, berpotensi memiliki implikasi strategis terhadap keamanan regional.
- Meski diklaim sebagai penelitian oseanografi, data yang dikumpulkan (dasar laut, suhu, salinitas) dinilai penting untuk operasi kapal selam dan perang bawah laut.a
- Kehadiran kapal China di wilayah Sri Lanka dinilai dapat mengancam keamanan nasional, memicu ketegangan regional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Laporan investigasi kantor berita Reuters yang dirilis pekan ini menyoroti aktivitas kapal survei China di kawasan Samudra Hindia, termasuk di sekitar Sri Lanka, yang dinilai memiliki implikasi strategis terhadap keamanan regional.
Laporan berjudul “China mapping the seabed as it prepares for submarine warfare with the United States” tersebut mengungkap bahwa data yang dikumpulkan kapal-kapal China berpotensi digunakan untuk kepentingan militer, meskipun aktivitas tersebut secara resmi diklaim sebagai penelitian ilmiah.
Dikutip dari Asian News Post, Minggu (29/3/2026), Sri Lanka disebut menjadi salah satu negara yang terdampak.
Pengungkapan ini dinilai sebagai peringatan serius terkait implikasi keamanan di kawasan.
“Penelitian ilmiah” yang dilakukan oleh kapal-kapal China di wilayah Sri Lanka dinilai tidak lagi sekadar aktivitas akademis.
Sejumlah analis menilai hal tersebut berpotensi membawa implikasi terhadap keamanan nasional Sri Lanka.
Investigasi Reuters mengungkap bahwa data yang dikumpulkan kapal survei China dapat menjadi bagian penting dalam konflik bawah laut di masa depan.
Menurut laporan tersebut, kapal-kapal ini mengumpulkan data tentang dasar laut, suhu air, dan salinitas.
Meski Beijing menyebut misi tersebut sebagai oseanografi sipil, Reuters mencatat bahwa data tersebut sangat mendasar untuk navigasi kapal selam dan penyebaran sensor bawah laut.
Dalam konteks ini, sebagian analis menilai kehadiran kapal-kapal tersebut di pelabuhan atau Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Sri Lanka menimbulkan risiko strategis.
Dengan membuka akses perairan kepada aktivitas yang dikaitkan dengan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Navy/PLAN), Sri Lanka dinilai berpotensi memungkinkan pemetaan kondisi bawah laut yang memiliki nilai militer.
Laporan Reuters juga menyoroti bahwa Samudra Hindia menjadi arena utama bagi ambisi bawah laut China.
Sebagai negara kepulauan di jalur maritim penting, Sri Lanka disebut berada dalam posisi strategis dalam dinamika tersebut.
Artikel tersebut mengutip sejumlah ahli pertahanan yang menyatakan bahwa “batas antara penelitian sipil dan intelijen militer semakin sulit dibedakan dalam strategi maritim China”.
Dalam konteks ini, data yang dikumpulkan dinilai dapat mendukung operasi kapal selam, termasuk meningkatkan kemampuan untuk beroperasi tanpa terdeteksi.
Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan tantangan keamanan bagi Sri Lanka. Sejumlah pengamat menyebut bahwa keterlibatan dalam aktivitas tersebut dapat memengaruhi posisi negara itu dalam menjaga netralitas regional.
Selain itu, kehadiran kapal-kapal survei tersebut juga dinilai dapat meningkatkan sensitivitas hubungan dengan negara lain di kawasan, termasuk India, serta komunitas internasional yang lebih luas.
Sejumlah pihak menyerukan perlunya evaluasi terhadap kebijakan pemberian akses bagi kapal penelitian asing, terutama yang berpotensi memiliki implikasi militer.
Untuk menjaga stabilitas kawasan Samudra Hindia, beberapa analis menilai penting bagi Sri Lanka untuk mempertimbangkan kembali kebijakan terkait aktivitas penelitian asing di wilayah perairannya.