0
News
    Home Amerika Serikat China Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Nuklir Rusia Spesial

    Trump Tolak Perpanjang Perjanjian Senjata Nuklir dengan Rusia, Tuntut China Dilibatkan - Viva

    5 min read

     

    Trump Tolak Perpanjang Perjanjian Senjata Nuklir dengan Rusia, Tuntut China Dilibatkan

    VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump angkat suara soal berakhirnya perjanjian nuklir AS-Rusia New START pada 4 Februari 2026, yang memicu kekhawatiran munculnya perlombaan senjata nuklir global yang baru. 

    Menlu Rusia Tegaskan Dewan Perdamaian Trump Tak Bisa Gantikan PBB, Singgung Ambisi AS

    Trump menolak memperpanjang kesepakatan New START dan menginginkan perjanjian nuklir yang baru -- yang lebih baik untuk menggantikan kesepakatan lama dengan Rusia yang baru saja berakhir.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Trump sebelumnya menolak tawaran Rusia untuk memperpanjang batasan jumlah senjata nuklir dalam traktat itu selama satu tahun. Ia menilai perjanjian tersebut dinegosiasikan secara buruk oleh AS di era kepemimpinan Demokrat -- Presiden Barrack Obama.

    Survei: Mayoritas Warga Jerman Anggap AS Ancaman bagi Perdamaian Dunia

    "Ketimbang memperpanjang ‘NEW START’… kita seharusnya menugaskan para pakar nuklir untuk mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi, yang bisa bertahan lama di masa depan," kata Trump di platform Truth Social miliknya.​​​​​​, Kamis, 5 Februari 2026.

    Trump juga bersikeras agar China dilibatkan dalam setiap perundingan pengurangan senjata nuklir di masa depan, meski negara itu belum menunjukkan kesediaan untuk menerima gagasannya itu.

    Trump Siapkan "Kejutan" Buat Iran saat Netanyahu Menuju AS

    China beralasan armada nuklirnya jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia, yang jumlahnya mencakup sekitar 90 persen dari total senjata nuklir dunia jika digabungkan.

    New START, perjanjian yang mengikat AS-Rusia ditandatangani pada 2010 dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011, mengatur langkah-langkah pengurangan dan pembatasan lebih lanjut senjata serangan strategis. 

    Perjanjian tersebut dirancang untuk meningkatkan keamanan dengan menetapkan batasan yang dapat diverifikasi terhadap persenjataan nuklir antarbenua, termasuk rudal balistik dan pesawat pembom berat.

    Perjanjian itu membatasi masing-masing pihak untuk memiliki paling banyak 1.550 hulu ledak nuklir terpasang, serta 800 peluncur — terpasang maupun tidak.

    New START juga membatasi 700 wahana pengantar senjata nuklir terpasang, termasuk rudal balistik antarbenua dan pengebom berat yang dilengkapi senjata nuklir.

    Pada 2021, beberapa pekan setelah Joe Biden menggantikan Trump sebagai presiden, AS dan Rusia sepakat memperpanjang perjanjian tersebut selama lima tahun hingga 4 Februari 2026.

    Portal berita AS, Axios, Kamis, melaporkan bahwa pejabat AS dan Rusia hampir mencapai kesepakatan untuk tetap mematuhi batasan New START setidaknya selama enam bulan.

    Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia pada Rabu, mengatakan pihaknya telah berupaya memperpanjang perjanjian itu, yang inisiatif terakhirnya diajukan pada 22 September. Saat itu, Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengusulkan agar pembatasan senjata terkait dalam perjanjian tersebut tetap diberlakukan setidaknya selama satu tahun setelah masa berlakunya berakhir. 

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Namun, kementerian itu mengaku belum menerima tanggapan resmi dari Amerika Serikat terkait inisiatif tersebut melalui saluran bilateral.

    "Dalam situasi saat ini, kami berasumsi bahwa para pihak dalam New START tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam kerangka perjanjian tersebut, termasuk ketentuan intinya, dan pada prinsipnya bebas memilih langkah selanjutnya," kata Kemlu Rusia.


    Komentar
    Additional JS