0
News
    Home Berita Epstein File Featured Jeffrey Epstein Spesial Vladimir Putin

    Nama Vladimir Putin Disebut Lebih dari Seribu Kali di Epstein File - Viva

    6 min read

     

    Nama Vladimir Putin Disebut Lebih dari Seribu Kali di Epstein File

    Rusia, VIVA –Berkas yang dikenal sebagai Epstein Files mengungkap bahwa mendiang pengusaha keuangan sekaligus terpidana pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, ternyata sangat terobsesi untuk menjalin kontak dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

    Jeffrey Epstein Pesan 6 Drum Asam Sulfat Benarkah Untuk Lancarkan Aksi Kejahatannya?

    Publikasi sekitar 3,5 juta halaman korespondensi yang terkait dengan Epstein membuka sisi baru ambisi internasionalnya. Dari jutaan dokumen tersebut, nama Putin tercatat muncul hingga 1.005 kali, angka yang terbilang mencengangkan.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Meski Beberapa hari lalu Kremlin sempat menertawakan dugaan adanya hubungan 'intelijen' antara Epstein dan Rusia. Namun, dokumen-dokumen ini menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun Epstein berusaha menembus lingkaran elite tertinggi pemerintahan Rusia. Fakta ini kembali memicu sorotan tajam terhadap dugaan kedekatannya dengan Moskow.

    Terbongkar! Ada 6 Nama Pria Berpengaruh di Dunia yang Ditutupi di Dokumen Epstein, Siapa Saja?

    Sejumlah analis menilai upaya Epstein ini tidak lebih dari sekadar ambisi sosial untuk mendongkrak statusnya. Namun, berkas-berkas tersebut menggambarkan Epstein sebagai sosok yang memposisikan diri sebagai perantara geopolitik kelas atas.

    Ia berupaya menjadi jembatan antara Barat dan Kremlin, menawarkan diri untuk menjelaskan dinamika politik Amerika Serikat khususnya kebangkitan Donald Trump sekaligus berjanji membantu membuka aliran investasi Barat ke Federasi Rusia.

    Momen Memalukan Raja Charles, Diteriaki Soal Adiknya Andrew dan Epstein Saat Kunjungan ke Lancashire

    Lantas apa isi dari dokumen itu? Melansir laman News 18, Selasa, 10 Februari 2026, dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman AS merinci upaya Epstein yang berulang dan gigih untuk mengatur pertemuan pribadi dengan Putin.

    Menurut laporan CNN Internasional, sejak Mei 2013 Epstein sudah memanfaatkan jaringan elite Eropa untuk melobi agar bisa bertemu Putin. Ia menulis kepada mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dengan mengklaim bahwa Thorbjørn Jagland yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Eropa dijadwalkan bertemu Putin di Sochi dan menanyakan apakah ia bisa ikut bertemu untuk menjelaskan bagaimana Rusia dapat menyusun kesepakatan guna mendorong investasi Barat.

    CNN Internasional juga melaporkan bahwa dalam emailnya kepada Jagland, Epstein menegaskan bahwa jika Putin bersedia menemuinya, pertemuan itu harus berlangsung minimal dua hingga tiga jam, tidak boleh lebih singkat. Epstein bahkan meminta Jagland memperkuat posisinya dengan mengatakan kepada Putin bahwa mereka dekat dan bahwa Epstein merupakan penasihat pendiri Microsoft, Bill Gates.

    Meski berbagai klaim tersebut dan upaya lanjutan untuk menjadwalkan pertemuan pada 2014 dan 2018, catatan yang ada tidak memberikan bukti pasti bahwa pertemuan tatap muka antara Epstein dan Putin benar-benar pernah terjadi.

    Walaupun gagal bertemu langsung dengan Putin, Epstein diketahui menjalin komunikasi rutin dengan sejumlah pejabat senior Rusia lainnya. Kontak utamanya selama bertahun-tahun adalah Vitaly Churkin, duta besar Rusia untuk PBB yang menjabat lama.

    Berkas-berkas itu menunjukkan keduanya kerap bertemu di New York, bahkan Epstein sempat menawarkan bantuan untuk mencarikan posisi di perusahaan manajemen kekayaan di Manhattan bagi putra Churkin, Maxim.

    Setelah Churkin meninggal mendadak pada 2017, Epstein disebut mengalihkan fokusnya ke Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov. Dalam email kepada Jagland pada Juni 2018, ia meminta agar Lavrov bisa mempertemukannya dengan Putin.

    “Saya rasa Anda bisa menyarankan kepada Putin agar Lavrov mendapatkan pandangan dengan berbicara kepada saya. Dulu Vitaly Churkin yang melakukannya, tetapi ia sudah meninggal,”demikian bunyi email itu.

    Nilai jual Epstein di mata Kremlin, menurut dokumen tersebut, adalah klaimnya atas pemahaman mendalam tentang kepresidenan Amerika Serikat. Merujuk pada pembicaraannya dengan mendiang duta besar Rusia itu, Epstein pernah mengatakan: “Churkin itu hebat. Setelah percakapan kami, ia memahami Trump. Sebenarnya tidak rumit. Trump harus terlihat mendapatkan sesuatu, sesederhana itu.”

    Bagaimana Dengan Klaim Sebagai “Aset Intelijen”?

    Rangkaian komunikasi ini memicu perdebatan sengit mengenai motif sebenarnya Epstein. Sebagian analis menilai dokumen tersebut hanya menunjukkan upaya Epstein untuk bergaul dengan tokoh-tokoh berpengaruh demi meningkatkan pamornya. Namun, pihak lain melihat pola yang jauh lebih mengkhawatirkan.

    Laporan menyebutkan bahwa Polandia secara resmi membuka penyelidikan untuk menelusuri kemungkinan Epstein bertindak sebagai aset intelijen Rusia.

    Kremlin sendiri dengan cepat membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Dmitry Peskov menyebut teori bahwa Epstein dikendalikan intelijen Rusia sebagai sesuatu yang tidak bisa dianggap serius, dan meminta para wartawan untuk tidak membuang-buang waktu.

    Namun, ketertarikan Epstein terhadap Rusia juga merambah wilayah abu-abu antara keamanan negara dan dunia keuangan kelas atas. Ia diketahui memiliki hubungan pertemanan yang sangat baik dengan Sergey Belyakov, lulusan Akademi FSB dan mantan kepala yayasan yang mengelola Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg.

    Epstein bahkan pernah menawarkan untuk memperkenalkan Belyakov kepada investor modal ventura Amerika, Peter Thiel. Dokumen-dokumen tersebut juga menyoroti hubungannya dengan Masha Drokova Bucher, seorang investor yang dikenal luas di Rusia sebagai mantan anggota kelompok pemuda pro-Putin, Nashi.

    Bucher, yang pernah terekam kamera mencium pipi Putin, bertindak sebagai humas Epstein pada 2017 dan mengakui bahwa Epstein memberinya ide dan pengetahuan untuk mendirikan dana investasinya sendiri. Ketertarikan Epstein terhadap Rusia tidak pernah surut hingga hari-hari terakhir hidupnya.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Bahkan ketika aparat federal mulai mendekat, pada Maret 2019 ia masih menanyakan kemungkinan memindahkan visa Rusia miliknya ke paspor baru hanya beberapa bulan sebelum akhirnya ditangkap atas tuduhan perdagangan seks.

     


    Komentar
    Additional JS