Wapres Venezuela Akui Tak Tahu Keberadaan Nicolas Maduro | tempo.co
Wapres Venezuela Akui Tak Tahu Keberadaan Nicolas Maduro | tempo.co
3 Januari 2026 | 18.25 WIB
Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Shutterstock
VENEZUELA "tidak mengetahui" keberadaan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores kata Wakil Presiden Delcy Rodriguez pada Sabtu 3 Januari 2026 setelah serangan AS terhadap negara tersebut.
"Kami tidak mengetahui keberadaan Presiden Maduro," kata Rodriguez dalam rekaman audio yang diputar di televisi pemerintah seperti dilaporkan Anadolu.
Rodriguez menambahkan bahwa serangan AS telah merenggut nyawa para pejabat, personel militer, dan warga sipil di seluruh negeri.

Pernyataannya muncul setelah Trump mengklaim AS "berhasil" melakukan "serangan skala besar" terhadap Venezuela, mengklaim Maduro dan istrinya telah "ditangkap dan diterbangkan keluar negeri."
Venezuela menuntut dari Trump "bukti keberadaan Presiden Maduro," ia menegaskan.

Venezuela mengutuk "serangan brutal dan berdarah ini," katanya. "Pesan itu sangat jelas: instruksinya adalah untuk mengaktifkan pasukan keamanan warga negara kita dan keluar untuk membela rakyat kita."
"Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang telah ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara tersebut," kata Trump di platform Truth Social.
Dalam pernyataan tertulis singkat, Trump mengatakan bahwa operasi tersebut dilakukan "bekerja sama dengan penegak hukum AS."
Ia mengatakan detail tambahan akan dirilis kemudian. Ia juga mengumumkan bahwa konferensi pers akan diadakan pukul 11 pagi di kediamannya di Mar-a-Lago, negara bagian Florida, AS.
Pemerintah Venezuela menuduh Amerika Serikat menyerang instalasi sipil dan militer di beberapa negara bagian, dan mengecam keras "agresi militer" oleh Washington. Pemerintah Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu 3 Januari 2026 menyatakan keadaan darurat nasional menyusul serangkaian serangan tersebut.
Ledakan terdengar dan kepulan asap membubung di ibu kota Venezuela, Caracas, menurut laporan berita dan saksi mata, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Rekaman video yang diperoleh Al Jazeera menunjukkan bola-bola api dan asap tebal keluar dari sebuah bangunan di dekat perairan di Caracas pada Sabtu pagi 3 Januari 2026.
Mengutip sumber, Lucia Newman dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Santiago di Chile, mengatakan ledakan itu terjadi di dekat atau sekitar Fortuna, pangkalan militer utama di Caracas.
“Fortuna adalah pangkalan militer utama di sana. Serangkaian ledakan dilaporkan terdengar di seluruh area diikuti oleh pemadaman listrik,” kata Newman.
Ada “dugaan” bahwa AS terlibat dalam insiden tersebut.
“Kita belum tahu bagaimana ledakan ini terjadi. Ada juga kemungkinan bahwa ini adalah tindakan sabotase internal di antara elemen militer yang mencoba menggulingkan Presiden Nicolas Maduro,” kata Newman.
Sisi De Flavis, seorang jurnalis yang berbasis di Caracas, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia mendengar suara seperti truk besar yang menabrak diikuti oleh guncangan hebat di tanah.
“Langit mulai menyala. Kemudian ada bola api oranye yang berpijar. Anda masih bisa mendengar pesawat terbang di atas sekarang, meskipun tidak ada ledakan sejak saat itu,” kata De Flavis kepada Al Jazeera.
Kantor berita Associated Press melaporkan setidaknya tujuh ledakan dan pesawat terbang rendah terdengar di ibu kota.
Sebuah gambar yang diterbitkan oleh AP juga menunjukkan asap mengepul di bandara La Carlota setelah serangkaian ledakan di ibu kota.
Orang-orang di berbagai lingkungan bergegas ke jalan. Beberapa terlihat dari kejauhan dari berbagai daerah di Caracas.
“Seluruh tanah bergetar. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan pesawat di kejauhan,” kata Carmen Hidalgo, seorang pekerja kantor berusia 21 tahun kepada AP, dengan suara gemetar. Dia berjalan cepat bersama dua kerabatnya, pulang dari pesta ulang tahun. “Kami merasa seperti udara menerpa kami.”
Ledakan tersebut terjadi setelah berbulan-bulan ketegangan dengan Amerika Serikat, yang menuduh Presiden Venezuela Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba. Maduro membantah tuduhan tersebut.
Awal pekan ini, Trump juga mengungkapkan serangan terhadap area dermaga kapal-kapal narkoba Venezuela pekan lalu, yang merupakan serangan pertama yang diketahui di wilayah Venezuela dalam kampanye AS.
Presiden AS telah berulang kali mengancam serangan darat terhadap kartel narkoba di wilayah Amerika Latin, termasuk Venezuela, yang ia sebut sebagai "narkoteroris".
Ia mengklaim, tanpa memberikan bukti, bahwa Maduro dari Venezuela memimpin organisasi perdagangan narkoba yang bertujuan untuk menggoyahkan AS dengan membanjirinya dengan narkoba.
Pada Kamis, Maduro mengindikasikan bahwa ia terbuka untuk menegosiasikan kesepakatan dengan AS untuk memerangi perdagangan narkoba. AS telah melakukan lebih dari 20 serangan udara di laut dekat Venezuela sejak September, seiring dengan pemberlakuan sanksi dan peningkatan tekanan militer terhadap Caracas.
Dalam wawancara tersebut, Maduro juga mengklaim bahwa AS berusaha menggulingkan pemerintahannya dan mendapatkan akses ke cadangan minyak Venezuela yang melimpah melalui sanksi dan tekanan militer Washington yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Ketika ditanya secara langsung apakah ia mengkonfirmasi atau membantah serangan AS di wilayah Venezuela, Maduro mengatakan: “Ini bisa menjadi sesuatu yang akan kita bicarakan dalam beberapa hari ke depan.”
Maduro mengatakan pendekatan pemerintahan Trump memperjelas bahwa AS “berupaya memaksakan diri” pada Venezuela melalui “ancaman, intimidasi, dan kekerasan”.