Rafah Dibuka Terbatas, Israel Tunggu Rampungnya Pencarian Jenazah Sandera - T
Rafah Dibuka Terbatas, Israel Tunggu Rampungnya Pencarian Jenazah Sandera
Israel menyatakan penyeberangan Rafah akan dibuka terbatas setelah pencarian jenazah sandera terakhir rampung.
Ringkasan Berita:
- Israel menyatakan akan membuka kembali penyeberangan Rafah secara terbatas setelah pencarian jenazah sandera terakhir selesai.
- Pembukaan hanya berlaku untuk lalu lintas orang dan berada di bawah pengawasan penuh Israel.
- Kebijakan ini menuai kekhawatiran karena dinilai tidak cukup untuk mendukung bantuan kemanusiaan dan berpotensi membatasi warga Gaza.
TRIBUNNEWS.COM - Israel menyatakan akan membuka kembali penyeberangan Rafah di Gaza secara terbatas setelah operasi pencarian jenazah sandera Israel terakhir di wilayah Palestina selesai.
Pengumuman tersebut disampaikan kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (25/1/2026) malam.
Dalam pernyataannya, kantor Netanyahu menyebutkan penyeberangan Rafah, yang menghubungkan Gaza dengan Mesir, hanya akan dibuka untuk lalu lintas orang dan berada di bawah mekanisme inspeksi penuh Israel.
Pembukaan ini dilakukan setelah pencarian jenazah petugas polisi Israel, Ran Gvili, dinyatakan tuntas.
Israel menegaskan langkah tersebut dikondisikan pada kembalinya seluruh sandera yang masih hidup serta pelaksanaan penuh upaya Hamas untuk menemukan dan mengembalikan jenazah sandera yang telah meninggal.
Militer Israel pada Minggu (25/1/2026) mengatakan tengah menggeledah sebuah pemakaman di Gaza utara dekat wilayah yang berada di bawah kendali Israel.
Langkah tersebut dilakukan berdasarkan sejumlah petunjuk intelijen terkait kemungkinan lokasi jenazah Gvili.
Hamas sebelumnya menyatakan telah menyerahkan informasi lokasi jenazah tersebut kepada mediator.
Hamas juga mengklaim telah memenuhi seluruh kewajiban sesuai perjanjian gencatan senjata.
Juru bicara Brigade Qassam, sayap bersenjata Hamas, menegaskan kelompoknya berkomitmen menuntaskan persoalan sandera secara permanen.
Ia menyerukan mediator internasional untuk memastikan Israel menjalankan kesepakatan yang telah disetujui.
Baca juga: Di Bawah Tekanan Trump, Israel Bersiap Buka Kembali Perlintasan Rafah
Penyeberangan Rafah merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk Gaza bagi lebih dari dua juta warga Palestina.
Sejak 2024, sisi Gaza dari perbatasan tersebut berada di bawah kendali militer Israel.
Dalam rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Rafah seharusnya dibuka dua arah pada fase awal gencatan senjata.
Namun, meski rencana tersebut menyerukan pembukaan penuh, Israel menegaskan akses akan dibatasi hanya untuk pejalan kaki.
Para analis memperingatkan kebijakan ini berpotensi mendorong pengusiran warga Palestina dari Gaza.
Kebijakan tersebut juga dinilai tidak akan cukup untuk memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar.
“Ada sejumlah besar warga Palestina di Mesir yang terjebak di sana dalam ketidakpastian selama dua tahun terakhir akibat genosida Israel,"
"Banyak dari mereka ingin kembali, atau sebagian ingin kembali, mungkin untuk membantu membangun kembali atau menemui keluarga mereka,"
"Tetapi yang diinginkan Israel adalah agar sejumlah besar warga Palestina pergi dan tidak kembali,” kata Anthony Lowenstein, penulis The Palestine Laboratory, sebuah buku tentang industri persenjataan dan pengawasan Israel.
“Saya khawatir jika penyeberangan ini dibuka kembali dan hanya dipantau oleh Israel, itulah tujuan jangka panjangnya," lanjutnya.
Lowenstein juga mencatat pembukaan kembali Rafah hanya untuk pejalan kaki tidak akan membantu memindahkan berton-ton pasokan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan dan terperangkap di gudang-gudang Mesir.
“Pada akhirnya, (ini hanya bisa terjadi) jika komunitas internasional mendesak Israel untuk mengizinkan bantuan masuk,” tambahnya.
Rami Khouri, seorang peneliti terkemuka di Universitas Beirut, menyuarakan sentimen serupa.
Baca juga: AS Desak Israel Buka Rafah, Akses Gaza Disebut Segera Normal Kembali
Khouri berpendapat pengumuman Israel mencerminkan strateginya untuk mengendalikan semua aspek kehidupan Palestina.
Ia berpendapat meskipun Israel telah menyetujui usulan gencatan senjata Trump dan Hamas telah memenuhi kewajibannya—membebaskan sandera, mengembalikan jenazah, dan mengakhiri serangan—Israel tidak memenuhi komitmennya sendiri.
“Jadi, mereka mempermainkan bantuan kemanusiaan, akses ke orang-orang, bahkan mereka yang sekarat dan mereka yang membutuhkan perawatan medis,"
"Terkadang mereka mengizinkan mereka keluar, terkadang tidak. Air. Makanan. Setiap dimensi kehidupan Palestina, mereka ingin kendalikan,” kata Khouri.
Sementara itu, serangan Israel di Gaza terus berlanjut.
Otoritas kesehatan setempat melaporkan sedikitnya tiga warga Palestina tewas dalam dua insiden terpisah pada Minggu.
Empat warga lainnya dilaporkan terluka akibat serangan drone Israel di Kota Gaza.
Sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober, serangan Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 480 warga Palestina di Gaza.
Konflik di wilayah tersebut telah berlangsung selama dua tahun.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Facebook-Zelenskyyy-23423.jpg)