Menguak Sosok Maduro, Sopir Bus yang Jadi Presiden Venezuela dan Kini Ditahan AS - Viva
Menguak Sosok Maduro, Sopir Bus yang Jadi Presiden Venezuela dan Kini Ditahan AS
Jakarta, VIVA – Venezuela telah lama menjadi sorotan dunia karena ketegangan politik dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Di balik semua itu, satu nama selalu muncul, yaitu Nicolas Maduro, presiden kontroversial yang menguasai Venezuela lebih dari satu dekade.
Namun pada 3 Januari 2026, kekuasaannya tiba-tiba berakhir ketika pasukan Amerika Serikat menculiknya bersama istrinya, Cilia Flores, untuk diadili di AS atas tuduhan terkait narkoba dan senjata. Seperti apa sosok Maduro? Berikut informasi selengkapnya sebagainya dirangkum dari Al Jazeera, Selasa, 6 Januari 2026.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap
- Ist
Sejak muda, Maduro diketahui tumbuh dalam keluarga kelas pekerja di kawasan El Valle, Caracas. Ia lahir pada 23 November 1962.
Ayahnya, Nicolas Maduro Garcia, adalah seorang pemimpin serikat pekerja, sementara ibunya, Teresa de Jesus Moros, mengurus tiga saudara perempuannya.
Maduro banyak terpengaruh oleh politik ayahnya sejak kecil dan mengaku bahwa kakek-neneknya berasal dari keturunan Yahudi Sephardic, yang kemudian memeluk Katolik saat tiba di Venezuela.
Awal Karier dan Masuk Politik
VIVA Militer: Presiden Venezuela, Nicolas Maduro
- USA Today
Maduro sempat menggemari musik rock Barat dan sering mengutip John Lennon. Ia bersekolah di Liceo Jose Avalos, sekolah negeri di El Valle, aktif di organisasi siswa, dan tercatat pernah menjabat sebagai ketua serikat siswa, meski tidak ada bukti ia lulus.
Karier politik Maduro dimulai dari dunia buruh. Ia dipercaya bergabung dengan Liga Sosialis Venezuela, partai Marxis-Leninis, pada awal 1980-an. Pada usia 24 tahun, ia dikirim ke Kuba selama setahun untuk pelatihan politik di Escuela Nacional de Cuadros Julio Antonio Mella, yang dikelola oleh Union of Young Communists.
Setelah kembali ke Caracas, Maduro bekerja sebagai sopir bus di sistem metro, kemudian mendirikan dan memimpin SITRAMECA, serikat pekerja metro Caracas, pada 1991. Aktivitasnya dalam dunia buruh membawanya ke pusat kekuasaan melalui politik serikat pekerja. Sebuah dokumen Kedutaan AS di Caracas tahun 2006 mencatat bahwa Maduro pernah menolak kontrak baseball dari seorang pencari bakat Major League Baseball di AS.
Maduro terinspirasi oleh Hugo Chavez, kolonel Venezuela yang memimpin gerakan Bolivarian melawan sistem demokrasi dua partai “Puntofijismo” dan presiden saat itu, Carlos Andres Perez, karena alasan korupsi.
Maduro kemudian bergabung dengan sayap sipil MBR-200, membantu kampanye pembebasan Chavez dari penjara setelah kudeta gagal 1992. Ia bertemu dengan Cilia Flores, yang menjadi pengacara tim pembebasan Chavez, dan menikahinya.
Setelah Chavez terpilih menjadi presiden, Maduro duduk di Majelis Konstituante Nasional, kemudian menjadi menteri luar negeri. Pada Oktober 2012, ia diangkat menjadi wakil presiden ketika kesehatan Chavez memburuk. Pada Desember 2012, Chavez menunjuk Maduro sebagai penerus politiknya dalam pidato televisi.
Dalam pemilu pasca kematian Chavez, Maduro menang tipis pada April 2013. Ia memulai presidennya dengan mengusir diplomat AS, menyebut mereka “musuh sejarah” dan menuduh mereka meracuni Chavez. Ia menuding oposisi domestik sebagai “fasis” yang ingin memecah belah negara. Istrinya memegang beberapa posisi tinggi, termasuk jaksa agung dan ketua parlemen.
Maduro mewarisi kontrol atas institusi penting yang telah dibentuk Chavez, termasuk militer, Mahkamah Agung, dan media negara. Namun, ia menghadapi ekonomi yang runtuh dan oposisi yang menuntut protes, termasuk Maria Corina Machado, pemenang Nobel Perdamaian 2025.
Penindasan Maduro menewaskan puluhan hingga ratusan pengunjuk rasa, sementara ekonomi negara terus merosot, produksi minyak menurun drastis, dan warga menghadapi kekurangan kebutuhan pokok.
Setelah Trump kembali menjabat pada Januari tahun lalu, tekanan terhadap Maduro meningkat. Pemerintah AS memberlakukan tarif 25 persen terhadap Caracas, menaikkan hadiah untuk tangkapannya, dan menjatuhkan sanksi pada anggota keluarganya. Pasukan AS melakukan serangan terhadap kapal di lepas pantai Venezuela yang diduga terlibat “narko-terorisme”.
Puncaknya terjadi pada Sabtu, 3 Januari 2026, ketika Maduro dan istrinya diculik oleh pasukan khusus AS untuk menghadapi persidangan atas tuduhan yang diajukan di Amerika Serikat.