0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Kesehatan Spesial Thailand Virus Nipah

    Hati-hati! Thailand Masuk Zona Risiko Tinggi Penularan Virus Nipah - Viva

    4 min read

      

    Hati-hati! Thailand Masuk Zona Risiko Tinggi Penularan Virus Nipah

    Jakarta, VIVA Thailand saat ini dinilai berisiko tinggi terhadap penularan virus Nipah yang ditularkan melalui kelelawan pemakan buah. Virus ini bukan ancaman baru, namun ahli menilai pola penularan dan gejalanya terus berkembang. Sehingga meningkatkan kewaspadaan negara-negara tetangga.

    Fatalitas Tinggi hingga 75 Persen, Ini Gejala Awal Virus Nipah yang Patut Diwaspadai

    Melansir laman Bangkok Post, Senin 26 Januari 2026, Kepala Pusat Keunggulan Virologi Klinis dari Universitas Chulalongkorn, Prof. Yong Poovorawan, menyebut bahwa penyakit akibat virus Nipah pertama kali terdeteksi pada 1998–1999. Saat itu terjadi wabah terbesar sepanjang sejarah, yang dilaporkan di negara bagian Perak, Malaysia, sebelum kemudian menyebar ke Singapura. Tercatat ada 265 kasus, dan 108 di antaranya meninggal dunia.

    Menurut Prof Dr Yong, gejala yang muncul saat itu berupa demam tinggi dan ensefalitis atau peradangan otak. Penelitian membuktikan bahwa kelelawar pemakan buah merupakan pembawa virus tersebut. Buah yang terkontaminasi air liur kelelawar jatuh ke kandang babi, lalu virus menular antar babi dan selanjutnya dari babi ke manusia. Wabah tersebut tidak sampai masuk ke Thailand.

    Belum Ada Obatnya, Seberapa Mematikan Virus Nipah bagi Manusia?

    Wabah-wabah dalam skala lebih kecil kemudian dilaporkan sejak 2002, terutama di Asia Selatan dan paling banyak terjadi di Bangladesh.

    Berbeda dengan kasus di Malaysia, penularan pada periode ini terjadi langsung dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau minuman jus, khususnya jus dari kurma segar. Penularan juga bisa terjadi dari manusia ke manusia. Wabah pun muncul dalam kelompok kecil, termasuk kasus terbaru yang terjadi di India.

    Virus Mematikan Nipah Guncang India, 1 Perawat dalam Kondisi Kritis

    Gejalanya juga mengalami perubahan, tidak hanya demam tetapi juga pneumonia berat. Penyakit ini dapat menular dari manusia ke manusia, serta dari babi ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh.

    “Namun peluang penyebarannya tidak sebesar penyakit saluran pernapasan seperti influenza dan Covid-19 yang bisa menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.

    Ia menjelaskan bahwa meski hingga kini Thailand belum menemukan kasus infeksi virus Nipah pada manusia, terdapat banyak faktor risiko di negara tersebut yang memungkinkan terjadinya penularan dari hewan ke manusia.

    Virus Nipah secara alami hidup pada kelelawar pemakan buah yang ada di seluruh Thailand, terutama di wilayah permukiman, area kuil, dan kebun buah, di mana risikonya relatif lebih tinggi akibat lingkungan dan makanan yang terkontaminasi air liur serta urine kelelawar, ujarnya.

    “Thailand memiliki beberapa faktor pertanian dan kebiasaan konsumsi yang dapat meningkatkan risiko penularan. Misalnya kebun buah yang berada dekat dengan permukiman, kebiasaan mengonsumsi buah segar atau minum jus segar, serta konsumsi makanan mentah atau setengah matang di beberapa daerah,” tulis Prof Dr Yong.

    Ia juga menyoroti industri peternakan babi yang besar di Thailand. Jika hewan ternak terinfeksi, maka babi itu bisa menjadi inang perantara yang memperkuat penyebaran virus, katanya.

    “Meski risiko wabah saat ini masih rendah, jika benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat serius bagi kesehatan masyarakat dan perekonomian,” tegas Prof Dr Yong.

    Oleh karena itu, ia merekomendasikan pengawasan aktif dan kesiapan sejak dini untuk menghadapi kemungkinan terjadinya wabah.


    Komentar
    Additional JS