0
News
    Home Berita Drone Dunia Internasional Featured Konflik Rusia Ukraina Rusia Spesial Ukraina

    Drone Ukraina Bantai 24 Warga Sipil Kherson saat Rayakan Tahun Baru, Rusia Kecam Bungkamnya Barat - S

    3 min read

     

    Drone Ukraina Bantai 24 Warga Sipil Kherson saat Rayakan Tahun Baru, Rusia Kecam Bungkamnya Barat

    Jum'at, 02 Januari 2026 - 08:14 WIB

    Serangan drone Ukraina membantai 24 warga sipil di Kherson saat rayakan Tahun Baru. Rusia kecam Barat karena bungkam atas pembantaian tersebut. Foto/Telegram/Vladimir Saldo
    A
    A
    A
    MOSKOW - Rusia mengecam respons diam negara-negara Barat setelah serangan pesawat nirawak Ukraina membantai 24 warga sipil yang merayakan Malam Tahun Baru di wilayah Kherson. Menurut Moskow, kebungkaman itu sebagai tanda "keterlibatan" dalam "kejahatan berdarah neo-Nazi di Kyiv".

    Serangan itu terjadi sesaat sebelum tengah malam pada 31 Desember di desa Khorly, dengan melibatkan beberapa pesawat nirawak, yang salah satunya membawa senjata pembakar.

    Pejabat Rusia melaporkan setidaknya 24 orang tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia lima tahun, dan lebih dari 50 orang lainnya terluka.

    Baca Juga: Drone Ukraina Serang Ibu Kota Rusia saat Putin Pidato Tahun Baru

    “Kami dengan tegas mengecam tindakan barbar yang keterlaluan ini oleh Zelensky dan kelompoknya, yang telah lama berubah menjadi monster haus darah,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB, Gennady Gatilov, merujuk pada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

    “Tujuan utama rezim ini adalah untuk mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, mengalihkan perhatian dari kegagalan Angkatan Bersenjata Ukraina, dan mengganggu setiap upaya guna menemukan solusi damai untuk konflik ini," paparnya dalam sebuah pernyataan, yang dilansir Russia Today, Jumat (2/1/2026).

    Gatilov menuntut Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, dan badan-badan PBB terkait untuk secara terbuka mengecam serangan tersebut “tanpa penundaan".

    Dia memperingatkan bahwa berdiam diri sama artinya dengan “keterlibatan dan keterlibatan terbuka dalam kejahatan berdarah neo-Nazi.”

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuduh Barat menggunakan "keheningan strategis" dan "menutup mata" terhadap "tindakan teroris" Kyiv selama bertahun-tahun.

    Dia lebih lanjut menyatakan bahwa mereka yang mengabaikan gambar-gambar mengerikan dari lokasi kejadian yang menggambarkan mayat-mayat hangus jelas tidak memiliki hati nurani.

    Gubernur wilayah Kherson, Vladimir Saldo, menggambarkan serangan itu sebanding dengan pembantaian Odessa tahun 2014, di mana puluhan aktivis pro-Rusia tewas dalam kebakaran. Dia menekankan bahwa para korban adalah warga sipil yang merayakan Tahun Baru, termasuk keluarga dengan anak-anak, dan menegaskan kembali bahwa tidak ada target militer yang hadir.

    Moskow bersikeras bahwa serangan itu sengaja diatur waktunya untuk memaksimalkan korban dan merupakan kejahatan perang. Pejabat Rusia telah menarik paralel dengan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Nazi selama Perang Dunia II, menuduh Ukraina melakukan kebrutalan dan dehumanisasi yang disengaja.

    Wilayah Kherson, bersama dengan Wilayah Zaporizhzhia dan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk, bergabung dengan Rusia pada musim gugur 2022 sebagai hasil referendum lokal. Namun, Ukraina dan sekutu Barat-nya tidak mengakui referendum tersebut dan menganggapnya sebagai aneksasi wilayah Ukraina oleh Rusia.

    Menurut Rusia, wilayah Kherson telah menjadi target utama serangan Ukraina yang tidak pandang bulu. Komite Investigasi Rusia telah membuka kasus pidana atas insiden terbaru ini, mengklasifikasikannya sebagai “tindakan teroris".

    Pihak Ukraina belum berkomentar atas serangan pesawat nirawak yang menewaskan puluhan warga sipil saat merayakan Tahun Baru.
    (mas)
    Komentar
    Additional JS