Donald Trump Resmi Rilis Pedoman Makan Baru Warga AS Diminta Menjauhi Makanan Ini - VIVA
Donald Trump Resmi Rilis Pedoman Makan Baru Warga AS Diminta Menjauhi Makanan Ini
- Reuters
Amerika Serikat, VIVA – Rabu 7 Januari 2025 waktu setempat, pemerintahan Donald Trump mengumumkan pedoman pola makan terbaru. Pedoman makan itu merekomendasikan masyarakat Amerika untuk mengonsumsi lebih banyak protein dan lebih sedikit gula dibandingkan anjuran sebelumnya. Pedoman ini juga menyarankan agar konsumen menghindari makanan yang sangat diproses demi mencapai pola makan yang sehat.
Pedoman tersebut merupakan bagian terbaru dari agenda Make America Healthy Again (MAHA) milik pemerintahan Trump, yang diambil dari nama gerakan sosial pendukung Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. Bersama sejumlah pejabat lain, termasuk Menteri Pertanian Brooke Rollins, Kennedy telah mendorong berbagai kebijakan MAHA, seperti pembatasan vaksin anak dan upaya membatasi akses terhadap makanan tidak sehat bagi penerima bantuan pangan.
Kennedy dan Rollins sebelumnya berjanji akan menyederhanakan pedoman gizi serta menghilangkan apa yang mereka sebut sebagai pengaruh berlebihan industri makanan dalam penyusunan rekomendasi.
Pedoman pola makan ini diterbitkan setiap lima tahun sekali oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) serta Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).
Dalam versi terbaru ini, beberapa perubahan yang dijanjikan Kennedy mulai diterapkan, termasuk anjuran tegas untuk mengurangi konsumsi makanan yang sangat diproses dan gula tambahan. Kennedy dan para pendukung MAHA menilai tingginya konsumsi gula dan makanan olahan dalam pola makan masyarakat Amerika turut memicu meningkatnya angka penyakit kronis.
“Hari ini, pemerintah kita menyatakan perang terhadap gula tambahan,” kata Kennedy dikutip dari laman Reuters, Kamis 8 Januari 2026.
Sementara itu, rekomendasi untuk memprioritaskan konsumsi buah, sayur, dan biji-bijian utuh, serta membatasi asupan lemak jenuh maksimal 10 persen dari total kalori harian, tetap tidak berubah.
Kennedy mengatakan bahwa kepatuhan terhadap pedoman ini akan membantu menekan biaya layanan kesehatan, isu yang menjadi perhatian penting bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu 2026.
“Pedoman baru ini menegaskan bahwa makanan utuh yang padat gizi adalah jalan paling efektif menuju kesehatan yang lebih baik dan biaya perawatan kesehatan yang lebih rendah,” ujarnya.
Komisi MAHA yang dipimpin Kennedy juga menyebutkan dalam laporan strategi September lalu bahwa USDA dan HHS berencana mereformasi proses penyusunan pedoman gizi ke depan, termasuk struktur dan keanggotaan komite penasihat yang memberikan rekomendasi isi pedoman. Sejumlah kelompok advokasi selama ini mengkritik komite tersebut karena dinilai terlalu dipengaruhi industri makanan. Komite yang memberi masukan untuk pedoman tahun ini sendiri ditunjuk pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden.
Lebih Banyak Protein, Lebih Sedikit Gula
Pedoman pola makan ini menjadi dasar bagi program nutrisi federal, termasuk makanan sekolah yang dikonsumsi hampir 30 juta anak, serta menjadi rujukan nasihat medis dan upaya pencegahan penyakit nasional.
Dalam pedoman terbaru, orang dewasa dianjurkan mengonsumsi protein sebanyak 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan per hari, meningkat dari rekomendasi sebelumnya sebesar 0,8 gram.
Pedoman ini juga mendorong konsumsi produk susu penuh lemak, sebuah perubahan dari anjuran lama yang selama puluhan tahun menyarankan produk susu rendah lemak demi mengurangi risiko kesehatan akibat diet tinggi lemak. Kelompok industri susu menilai kebijakan yang melarang atau membatasi susu penuh lemak merugikan para peternak.
Selain itu, pedoman baru tidak lagi mencantumkan rekomendasi lama yang membatasi konsumsi alkohol hingga satu atau dua gelas per hari. Sebagai gantinya, hanya disebutkan bahwa orang dewasa sebaiknya mengonsumsi lebih sedikit alkohol demi kesehatan secara keseluruhan.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pedoman ini didasarkan pada ilmu pengetahuan yang kuat dan diyakini akan mendukung hasil kesehatan masyarakat yang lebih baik saat diterapkan.
“Asosiasi Medis Amerika mengapresiasi pedoman gizi baru ini karena menyoroti makanan yang sangat diproses, minuman berpemanis, dan kelebihan natrium yang memicu penyakit jantung, diabetes, obesitas, serta penyakit kronis lainnya,” kata Presiden AMA, Bobby Mukkamala, dalam pernyataan tertulis.
Sementara itu, School Nutrition Association menyatakan bahwa menu makanan sekolah saat ini sudah mencakup buah, sayur, dan makanan sehat lainnya sesuai pedoman federal, namun mereka membutuhkan pendanaan dan pelatihan tambahan untuk memperluas masakan segar dari dapur sekolah.
Pedoman tersebut menegaskan bahwa “tidak ada jumlah gula tambahan atau pemanis non-nutritif yang direkomendasikan atau dianggap sebagai bagian dari pola makan sehat dan bergizi.” Jika dikonsumsi, gula tambahan tidak boleh melebihi 10 gram per kali makan.
Pedoman sebelumnya masih memperbolehkan penambahan gula dalam jumlah kecil pada makanan sehat untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi, asalkan tidak melampaui 10 persen dari total kalori harian.
Pedoman baru juga menyarankan agar masyarakat menghindari makanan yang sangat diproses serta makanan dan minuman yang mengandung perisa buatan, pemanis rendah kalori, dan pewarna sintetis. Sejumlah perusahaan makanan mulai menghapus bahan-bahan buatan sejalan dengan prioritas pemerintah.
Produsen minuman bersoda seperti Coca-Cola, PepsiCo, dan Mondelez pembuat biskuit Oreo menjadi sorotan Kennedy. Produsen pangan besar asal Eropa seperti Nestlé dan Danone juga terdampak oleh perubahan kebijakan yang didorong Kennedy.
Namun, Asosiasi Minuman Amerika menyatakan bahwa hampir 60 persen minuman yang dijual di AS tidak mengandung gula. Menurut mereka, upaya mengurangi konsumsi minuman bebas gula justru tidak praktis dan bertentangan secara logika.
Pedoman ini belum secara spesifik membahas makanan ultra-proses, yang definisinya masih menjadi perdebatan sengit di kalangan industri makanan. HHS dan USDA menyebutkan bahwa pemerintah sedang menyusun definisi federal untuk makanan ultra-proses.
Para ilmuwan dari berbagai negara telah lama memperingatkan bahwa makanan ultra-proses yang umumnya mengandung bahan tambahan dan komponen industri berkaitan dengan risiko kesehatan yang lebih buruk, seperti diabetes tipe 2 dan obesitas.