Bela Venezuela, Rusia Sebut AS Bandit Internasional yang Seret Dunia ke Era Kekacauan - SindoNews
3 min read
Bela Venezuela, Rusia Sebut AS Bandit Internasional yang Seret Dunia ke Era Kekacauan
Selasa, 06 Januari 2026 - 07:44 WIB
Dubes Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia, dalam sidang darurat DK PBB, mengecam tindakan AS menginvasi Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro. Foto/X @BestForBritain
A
A
A
NEW YORK - Rusia kembali mengecam keras penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika Serikat (AS) di Caracas pada Sabtu pekan lalu. Moskow bahkan menyebut Amerika sebagai bandit internasional yang menyeret dunia kembali ke era kekacauan dan ketidakadilan.
Kecaman ini disampaikan Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Vassily Nebenzia, dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB, pada hari Senin.
Menurutnya, serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela mencerminkan tatanan dunia yang ingin dibangun Washington.
Baca Juga: Maduro Muncul Pertama Kali di Pengadilan AS: Saya Diculik, Saya Tak Bersalah, Saya Pria Baik!
“Apa yang dilakukan Amerika Serikat hari ini menunjukkan wajah nyata tatanan dunia versi mereka, dan itu bahkan mengerikan bagi para pendukung Atlantik paling fanatik sekalipun,” ujar Nebenzia.
Kecaman ini disampaikan Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Vassily Nebenzia, dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB, pada hari Senin.
Menurutnya, serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela mencerminkan tatanan dunia yang ingin dibangun Washington.
Baca Juga: Maduro Muncul Pertama Kali di Pengadilan AS: Saya Diculik, Saya Tak Bersalah, Saya Pria Baik!
“Apa yang dilakukan Amerika Serikat hari ini menunjukkan wajah nyata tatanan dunia versi mereka, dan itu bahkan mengerikan bagi para pendukung Atlantik paling fanatik sekalipun,” ujar Nebenzia.
Amerika Serikat menginvasi negara Amerika Selatan yang kaya minyak tersebut pada Sabtu pekan lalu. Dalam operasi itu, Presiden Nicolas Maduro dan istrinya; Cilia Flores, diculik dan dibawa ke sebuah kapal perang AS, sebelum akhirnya diterbangkan ke New York.
Pada Senin waktu New York, Maduro dihadirkan di pengadilan Amerika Serikat dengan dakwaan konspirasi perdagangan narkoba. Di hadapan hakim, dia itu membantah tuduhan tersebut.
“Saya presiden Republik Venezuela. Saya di sini diculik. Saya ditangkap di rumah saya di Caracas, Venezuela,” kata Maduro dalam bahasa Spanyol sembari mengenakan headphone hitam untuk terjemahannya sebelum hakim menghentikan pernyataannya.
"Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah. Saya adalah pria yang baik, presiden negara saya," paparnya.
Nebenzia menegaskan bahwa Maduro sebelumnya telah berulang kali memperingatkan ambisi Washington untuk menguasai sumber daya alam Venezuela. Pernyataan tersebut, menurut Rusia, sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu, yang menyebut Washington ingin mengelola Venezuela agar dapat memanfaatkan potensi ekonominya.
Rusia menyebut tindakan Amerika Serikat sebagai bentuk “banditisme internasional". Nebenzia menilai upaya terbuka AS mengejar ambisi hegemonik di Amerika Latin dan keinginannya memperoleh kendali penuh atas sumber daya alam hanya akan mempercepat kebangkitan neo-kolonialisme dan imperialisme global.
Dia menyerukan agar komunitas internasional bersatu menolak kebijakan luar negeri agresif Amerika Serikat. Nebenzia juga memperingatkan bahwa dampak dari tindakan tersebut tidak hanya mengancam Venezuela, tetapi juga seluruh negara anggota PBB dan masa depan organisasi dunia itu sendiri.
“Mengabaikan ancaman Amerika Serikat terhadap sistem hubungan internasional sama saja dengan membenarkan pelanggaran hukum internasional dan mengabaikan prinsip-prinsip perilaku beradab dalam hubungan antarnegara,” tegasnya, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (6/1/2026).
Rusia bersama negara-negara BRICS sebelumnya telah secara tegas mengecam aksi Amerika Serikat tersebut. Moskow menuntut pembebasan segera Nicolas Maduro serta menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat Venezuela.
Sementara itu, respons negara-negara Barat terbilang lebih hati-hati. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, hanya menyerukan sikap menahan diri dan meminta semua pihak mematuhi Piagam PBB. Pernyataan bersama Uni Eropa yang ditandatangani seluruh negara anggota, kecuali Hungaria, tidak secara eksplisit mengecam maupun mendukung langkah Amerika Serikat.
(mas)