Angka Kelahiran Korea Selatan Kian Parah, 4.000 Sekolah Tutup dan Ribuan Guru Kena PHK - Viva
Angka Kelahiran Korea Selatan Kian Parah, 4.000 Sekolah Tutup dan Ribuan Guru Kena PHK
- Eleven Media Group
VIVA – Krisis angka kelahiran di Korea Selatan mulai menunjukkan dampak nyata terhadap sistem pendidikan nasional. Lebih dari 4.000 sekolah di seluruh negeri terpaksa ditutup seiring menyusutnya jumlah siswa akibat penurunan populasi usia sekolah.
Data Kementerian Pendidikan Korea Selatan yang diperoleh anggota parlemen Jin Sun-mee mencatat sebanyak 4.008 sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas telah ditutup karena rendahnya angka pendaftaran siswa. Informasi tersebut dilaporkan oleh media asal negeri Gingseng, Korea Herald.
Penutupan paling banyak terjadi di jenjang sekolah dasar (SD) dengan total 3.674 sekolah, disusul 264 sekolah menengah pertama dan 70 sekolah menengah atas. Penutupan sekolah bukan pertama kali dikalukan oleh pemerintah Korsel, sebanyak 158 sekolah telah berhenti beroperasi dalam lima tahun terakhir.
"Lebih banyak sekolah diperkirakan akan ditutup akibat terus menurunnya jumlah siswa,” ujar Jin Sun-mee dikutip dari VnExpress International pada Minggu, 4 Januari 2026.
Sekolah di Korea Selatan kembali dibuka, Rabu, 20/5, sejak pandemi corona
- Korea Herald
Dilansir dari Korean Timea, setidaknya 107 sekolah diproyeksikan akan tutup dalam lima tahun ke depan seiring terus menurunnya jumlah murid.
Wilayah di luar kota besar menjadi kawasan paling terdampak. Provinsi Jeolla Utara diperkirakan mencatat penutupan terbanyak dengan 16 sekolah, diikuti Jeolla Selatan sebanyak 15 sekolah, Gyeonggi sebanyak 12 sekolah, dan Chungcheong Selatan sebanyak 11 sekolah.
Data ini mencerminkan penurunan populasi yang lebih tajam di daerah pedesaan dan nonmetropolitan. Fenomena ini tidak terlepas dari krisis angka kelahiran yang telah lama menghantui Korea Selatan.
Berdasarkan data Statistics Korea (KOSTAT), tingkat fertilitas total (total fertility rate/TFR) Korea Selatan pada tahun 2024 hanya 0,748. Angka ini jauh di bawah standar di level 2,1 yang guna menjaga keseimbangan populasi di suatu negara.
Selain penutupan ribuan sekolah, dampak lanjutan dari krisis angka kelahiran juga terlihat dari banyaknya fasilitas pendidikan yang terbengkalai. Setidaknya ada 376 lokasi belum dimanfaatkan kembali, sebanyak 266 sekolah telah kosong lebih dari 10 tahun dan 82 sekolah lainnya terbengkalai selama lebih dari 30 tahun.
Krisis ini turut berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan tenaga pendidik. Kementerian Pendidikan mengumumkan telah memangkas 1.289 guru SD dan 1.700 guru SMP.
Sebagai langkah sementara, kantor pendidikan provinsi dan metropolitan menerapkan sejumlah kebijakan darurat untuk mengatasi krisis murid sekolah. Mulai dari mengurangi jumlah siswa per kelas menjadi 10 hingga 15 orang sampai menambah jumlah kelas guna menyerap kapasitas berlebih di sekolah yang masih beroperasi.
Menteri Pendidikan Jin Sun-mee turut mendorong pemerintah menyusun rencana jangka panjang untuk mengalihfungsikan bangunan sekolah kosong agar dapat dimanfaatkan sebagai aset komunitas lokal.