0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Gaza Spesial

    Anak Gaza Menantang Peluru di Sekolah Tenda - Viva

    5 min read

     

    Anak Gaza Menantang Peluru di Sekolah Tenda

    Selasa, 6 Januari 2026 - 19:59 WIB
    Oleh :
    Anak-anak di Gaza tetap belajar meskipun digempur oleh hujan peluru
    Sumber :
    • https://www.nationalheraldindia.com/international/gaza-children-brave-sniper-fire-to-attend-makeshift-tent-schoolsnationalheraldindia
    Photo Mini 1
    Share :

    PalestinaVIVA Mindset – Beit Lahiya, Palestina – Di tengah puing-puing bangunan dan dentuman tembakan yang tak jauh dari pemukiman, puluhan anak di Jalur Gaza terpaksa bersekolah di tenda darurat yang berdiri tak jauh dari zona yang disebut “zona kuning”, area rawan tembakan sniper dan peluru nyasar pasukan Israel.

    Baca Juga :

    Tenda-tenda berkanvas tipis itu menjadi ruang kelas sementara setelah hampir seluruh sekolah di wilayah itu hancur akibat serangan berkepanjangan, memaksa keluarga dan relawan menjadikannya satu-satunya tempat bagi anak-anak untuk kembali belajar. ​

    Seorang ibu bernama ibu Tulin menggambarkan setiap pagi mengantar putrinya berusia tujuh tahun ke sekolah sebagai perjalanan yang selalu diiringi rasa cemas, karena jalur menuju tenda penuh reruntuhan dan berada dekat garis kontak dengan militer Israel.

    Baca Juga :

    “Sampai anak saya tiba di sekolah, rasanya seperti berjalan dengan jantung di tangan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari laporan Al Jazeera yang dimuat National Herald India.

    Sang ibu mengaku berkali-kali secara refleks mengikuti langkah putrinya dari kejauhan, meski menyadari ancaman tembakan tetap mengintai di sepanjang jalan.

    Baca Juga :

    Di dalam ruang kelas berkanvas, para siswa belajar dalam kondisi serba kekurangan dengan perlindungan hampir nol dari potensi tembakan.

    Guru setempat menceritakan kepada Al Jazeera, dilansir National Herald India, bahwa setiap kali terdengar suara tembakan atau letupan senjata, anak-anak diminta segera tiarap mengambil “posisi tidur” di lantai tanah sambil sang guru berdoa agar tidak ada peluru yang menembus kain tenda.

    “Lokasinya sangat dekat dengan pasukan pendudukan.

    Saat tembakan dimulai, kami hanya bisa berharap tidak ada yang terluka,” kata sang guru, menegaskan bahwa di tengah kebijakan yang ia sebut mendorong kebodohan, mereka justru menjawabnya dengan tekad untuk terus menuntut ilmu.

    Di antara para murid itu ada Ahmed, seorang bocah yang kehilangan ayahnya dalam konflik, namun tetap memaksakan diri menempuh perjalanan pergi dan pulang di bawah bayang-bayang peluru.

    Ia mengaku sering berangkat dan pulang “dengan susah payah” karena suara tembakan yang sewaktu-waktu pecah di sekitar mereka, namun tetap berkeras sekolah demi mewujudkan cita-cita menjadi dokter, melanjutkan mimpi sang ayah yang gugur.

    Situasi yang tergambar di tenda-tenda Beit Lahiya hanya secuil dari keruntuhan menyeluruh sistem pendidikan di Gaza.

    Kazem Abu Khalaf, juru bicara UNICEF di Palestina, menyebut kondisi pendidikan di wilayah itu sebagai “salah satu bencana terbesar”, dengan sekitar 98 persen sekolah mengalami kerusakan dan 88 persen di antaranya memerlukan rehabilitasi menyeluruh atau pembangunan ulang total.

    Sekitar 638.000 anak usia sekolah dan 70.000 anak taman kanak-kanak kehilangan dua tahun ajaran penuh dan kini memasuki tahun ketiga tanpa pendidikan formal yang layak, membuat masa depan satu generasi berada dalam ketidakpastian.

    Sebagai langkah darurat, UNICEF bersama mitra lokal mendirikan 109 pusat belajar sementara yang menampung sekitar 135.000 anak di berbagai lokasi pengungsian.

    Namun tim di lapangan melaporkan gejala regresi perkembangan yang mengkhawatirkan: banyak anak menunjukkan kecemasan berat, gangguan tidur, dan kesulitan berkomunikasi setelah berbulan-bulan hidup di bawah serangan.

    Menurut laporan yang dikutip National Herald India dari wawancara dengan pejabat UNICEF, hampir seperempat dari anak-anak yang menjadi target program dukungan itu kini mengalami gangguan bicara, sehingga membutuhkan penanganan psikolog dan terapis wicara.

    Kendala lain yang memperparah krisis adalah blokade logistik terhadap bahan pendidikan sejak Oktober 2023.

    Abu Khalaf menjelaskan bahwa hampir tidak ada material belajar yang diizinkan masuk ke Gaza, sehingga guru dan relawan kesulitan menyediakan buku, alat tulis, bahkan materi dasar untuk kegiatan belajar mengajar.

    UNICEF merancang kampanye “Back to Learning” bagi sekitar 200.000 anak dengan fokus pada pelajaran bahasa Arab, bahasa Inggris, matematika, sains, serta aktivitas rekreasional untuk memulihkan kondisi psikologis sebelum kembali ke kurikulum normal, namun program tersebut sangat bergantung pada pelonggaran pembatasan oleh otoritas Israel agar bahan ajar dapat masuk. ​

    Meski dihadapkan pada reruntuhan, suara tembakan, dan keterbatasan fasilitas, anak-anak Gaza tetap bertahan di tenda-tenda rapuh yang mereka sebut sekolah, menggenggam buku seadanya dan harapan tipis akan masa depan yang lebih aman.

    Di antara kain kanvas yang diterpa angin dan ancaman peluru yang tak terlihat, orang tua, guru, dan murid sepakat bahwa bertahan untuk belajar adalah bentuk perlawanan paling sunyi terhadap perang dan penjajahan.

    Share :
    Komentar
    Additional JS