Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kasus Kesehatan Perancis Spesial Virus Shamonda

    Prancis Laporkan Kasus Virus Shamonda Pertama pada Manusia - detik

    3 min read

     


    Jakarta -

    Otoritas Prancis mengonfirmasi kasus infeksi virus Shamonda pertama yang diketahui pada manusia. Pasien tersebut merupakan seorang warga di Lyon yang meninggal dunia pada awal Oktober. Meski demikian, otoritas menyatakan hingga saat ini belum ditemukan risiko kesehatan bagi masyarakat umum.

    Virus Shamonda selama ini diketahui terutama menginfeksi sapi dan belum dianggap dapat menular ke manusia. Kasus di Lyon tersebut menjadi deteksi virus Shamonda pertama pada manusia yang terdokumentasi dan dilaporkan.

    "Ini merupakan kasus luar biasa yang melibatkan pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh yang sangat berat," kata otoritas setempat.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Virus Shamonda pertama kali terdeteksi di Eropa pada musim panas tahun ini. Virus tersebut termasuk dalam kelompok virus yang ditularkan melalui gigitan serangga kecil pengisap darah yang disebut biting midges.

    Selama ini, sapi diketahui menjadi inang utama virus tersebut di antara spesies hewan yang terinfeksi. Kasus infeksi sporadis pada hewan ruminansia kecil, seperti domba dan kambing, serta kuda juga dilaporkan di Prancis pada musim panas tahun ini.

    Kementerian Pertanian Prancis menyatakan pasien yang terinfeksi mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh yang sangat berat dan tengah menjalani pengobatan untuk penyakit serius di Hospices Civils de Lyon.

    European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), jenis spesies biting midges yang berperan dalam penularan pada kasus ini masih belum diketahui secara pasti.

    Otoritas Prancis menduga pasien terinfeksi melalui gigitan serangga, khususnya lalat kecil dari genus Culicoides, di wilayah Prancis bagian timur.

    "Berdasarkan penyelidikan yang telah dilakukan sejauh ini, komplikasi pada otak yang dialami pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh sebelum meninggal dunia sangat mungkin berkaitan dengan infeksi virus Shamonda," kata Kementerian Pertanian Prancis, dikutip dari Euronews.

    "Berdasarkan pengetahuan saat ini mengenai virus tersebut, hingga kini belum ditemukan risiko kesehatan bagi masyarakat umum," lanjut kementerian tersebut.

    Penyelidikan klinis, laboratorium, dan epidemiologis masih berlangsung untuk menentukan apakah virus Shamonda menyebabkan atau turut berkontribusi terhadap kematian pasien, serta bagaimana pasien tersebut tertular.

    Penyelidikan ini dilakukan bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ECDC.

    Pada sapi dewasa yang terinfeksi, gejala utama virus Shamonda meliputi demam, lesu, dan diare. Pada sapi perah, infeksi juga dapat menyebabkan penurunan produksi susu secara signifikan, menurut Sciensano, lembaga kesehatan masyarakat nasional Belgia.

    Virus Shamonda pertama kali terdeteksi di Nigeria pada pertengahan 1960-an. Sejak saat itu, kasus infeksi pada sapi dilaporkan secara sporadis di wilayah Afrika Barat, Afrika Timur, Afrika bagian selatan, serta Jepang.

    Pada musim panas tahun ini, virus tersebut untuk pertama kalinya terdeteksi di Eropa Barat. Kasus kemudian dilaporkan di Austria, Belgia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Liechtenstein, Luksemburg, Belanda, Portugal, Spanyol, dan Swiss, serta Pulau Jersey.

    (suc/suc)

    Komentar
    Additional JS