Cara Iran Akali Sanksi AS demi Boyong Boeing 777 Terkuak, Berujung Skandal Korupsi - Kompas
TEHERAN, KOMPAS.com – Iran diduga memanfaatkan registrasi sementara di Madagaskar untuk membawa pulang lima pesawat Boeing 777 di tengah sanksi Amerika Serikat (AS).
Kelima pesawat tersebut kini terdaftar atas nama Mahan Air, maskapai Iran yang telah lama menjadi sasaran sanksi Washington karena dituduh terlibat dalam pengadaan dan pengangkutan drone serta senjata.
Menurut penyelidik Madagaskar, registrasi sementara di negara Afrika itu memungkinkan pesawat-pesawat tersebut melintasi wilayah udara internasional sebelum tiba di Iran pada Juli 2025.
Baca juga: Indonesia Batal Beli Jet Tempur F-15EX dari Boeing, Diduga karena Masalah Pembiayaan
Kasus ini kemudian menyeret sejumlah tokoh berpengaruh Madagaskar dalam dugaan korupsi yang kini diproses melalui persidangan di ibu kota Antananarivo.
BEGINU : Cerita Membuat Orang Belajar Tanpa Digurui
Persidangan kasus ini dimulai pada Selasa (20/10/2026) dengan pengusaha Madagaskar, Mamy Ravatomanga, sebagai salah satu terdakwa utama.
Diduga terima Rp 101 miliar

Lihat Foto

Lihat Foto
Ravatomanga diduga terlibat dalam pengurusan registrasi pesawat. Ia kini ditahan di Mauritius dan menghadapi tuduhan pencucian uang.
Menurut dokumen dakwaan yang diperoleh AFP, Singh Khushwinder, terdakwa yang dicurigai sebagai pemilik sebenarnya perusahaan yang digunakan untuk mendaftarkan pesawat di Madagaskar, mengatakan kepada penyidik bahwa Ravatomanga menerima 5 juta euro (Rp 101 miliar) dari operasi tersebut.
Namun, tim pengacara Ravatomanga mempersoalkan tuduhan itu karena dinilai memiliki sejumlah versi yang tidak konsisten. Dalam sidang permohonan jaminan di Mauritius, misalnya, nominal yang disebut adalah 5 juta dollar AS (Rp 90 miliar), bukan 5 juta euro.
Di sisi lain, lembaga antikorupsi Mauritius menyatakan penyelidikan bersama Biro Investigasi Federal AS (FBI) dan Komisi Kejahatan Keuangan Mauritius menghasilkan keterangan saksi, bukti digital, serta rekaman yang mendukung dugaan korupsi tersebut.
Jaksa juga merujuk pada foto-foto yang diduga diambil dalam sebuah pertemuan di Hotel Novotel, Antananarivo, yang disebut dihadiri Ravatomanga.
Menurut unit antikorupsi Madagaskar, pertemuan itu melibatkan Valery Ramonjavelo, yang saat itu menjabat menteri transportasi; Gervais Damasy, kepala otoritas penerbangan sipil negara tersebut; Khushwinder; serta Hamid Arabnejad, warga Iran yang diidentifikasi otoritas AS sebagai CEO Mahan Air.
Arabnejad sendiri telah berada di bawah sanksi AS sejak 2013. Washington menuduhnya mengawasi upaya Mahan Air menghindari sanksi serta menyediakan dukungan dan layanan bagi Pasukan Quds Garda Revolusi Iran.
Baca juga: Pesawat Kargo Boeing 737 Diduga Jatuh di Laut Arab, Bergerak Tak Biasa
Meski demikian, tim hukum Ravatomanga menyatakan foto-foto yang disebut sebagai bukti tersebut belum pernah diperlihatkan kepada klien mereka dan mempertanyakan keberadaannya. Saat dimintai tanggapan AFP mengenai foto-foto itu, FBI menolak berkomentar.
Dua sumber yang mengetahui perkara tersebut mengatakan bahwa sejumlah terdakwa telah diperiksa di Madagaskar oleh agen FBI yang datang ke negara itu.
Secara keseluruhan, terdapat 28 orang yang dituntut dalam kasus ini, termasuk sejumlah peserta pertemuan di Hotel Novotel dan mantan Ketua Senat Madagaskar Richard Ravalomanana.
Ravatomanga sendiri tidak hadir di kursi terdakwa karena melarikan diri ke Mauritius, negara pulau tetangga Madagaskar, beberapa hari sebelum kudeta militer menggulingkan Rajoelina pada Oktober 2025.
Bisnis Ravatomanga
Ravatomanga membangun Sodiat Group dari perusahaan transportasi yang didirikan pada 1990 menjadi konglomerasi dengan bisnis di berbagai sektor, mulai dari distribusi otomotif, penerbangan, keamanan swasta, media, konstruksi, layanan kesehatan, properti, perhotelan, hingga pariwisata dan perdagangan vanila.
Namanya juga pernah muncul dalam penyelidikan di Perancis terkait dugaan pencucian uang dan perdagangan kayu rosewood ilegal. Penyelidikan yang menyangkut kepemilikan properti di sekitar Paris itu dihentikan pada 2023 karena kurangnya bukti.
Penyelidikan terpisah di Perancis mengenai dugaan pelanggaran terkait ekspor leci Madagaskar ke Uni Eropa juga menyoroti Ravatomanga. Menurut seorang sumber yudisial kepada AFP, ia diperiksa di Mauritius tahun ini sehubungan dengan perkara tersebut.
Namun, pengacaranya, Khushal Lobine, menilai kliennya diperlakukan secara tidak proporsional selama menjalani penahanan praperadilan.
Pengadilan Mauritius sendiri telah menolak dua permohonan jaminan Ravatomanga. Penolakan terbaru dijatuhkan pada 12 Oktober karena kekhawatiran ia akan melarikan diri.
Baca juga: Digadang Akan Saingi Boeing dan Airbus, China Pamerkan Pesawat Comac
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
