Pentagon Perkuat Armada Tempur, Borong 850 Jet Siluman F-35 Senilai Rp1.4 T dari Lockheed Martin - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- AS sepakat memborong 850 jet tempur siluman F-35 dari Lockheed Martin selama 10 tahun, dengan nilai mencapai 78,2 miliar dolar AS
- Perusahaan mengalokasikan sedikitnya 7 miliar dolar AS untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat jaringan pemasok, serta memperluas fasilitas perbaikan dan pemeliharaan F-35.
- Lockheed Martin menaikkan proyeksi penjualan 2026 menjadi 80–82 miliar dolar AS, seiring tingginya permintaan terhadap amunisi, sistem pertahanan udara, dan pesawat militer.
TRIBUNNEWS.COM - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) sepakat memborong 850 jet tempur siluman F-35 Lightning II selama 10 tahun ke depan dari produsen senjata asal AS, Lockheed Martin, pada Kamis (22/10/2026).
Adapun pengumuman kesepakatan disampaikan Pentagon sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat (AS) memperkuat kapasitas produksi pesawat tempur di tengah meningkatnya permintaan terhadap sistem persenjataan akibat konflik geopolitik.
Meski demikian, kesepakatan tersebut belum merupakan pesanan penjualan final. Kerangka kerja ini masih memerlukan persetujuan Kongres AS sebelum dapat dilanjutkan menjadi kontrak pengadaan.
Namun bagi Lockheed Martin, kesepakatan tersebut menjadi peluang untuk mempertahankan produksi jet tempur F-35 dalam jangka panjang sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu kontraktor pertahanan terbesar di dunia.
Nantinya perusahaan juga berkomitmen menginvestasikan setidaknya 7 miliar dolar AS dari dana internal untuk mendukung keberlanjutan program F-35.
Investasi tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat jaringan pemasok, menambah peralatan, serta meningkatkan kemampuan perbaikan pesawat.
Presiden segmen aeronautika Lockheed Martin, OJ Sanchez, mengatakan investasi tersebut akan membantu perusahaan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat basis pemasok.
Menurutnya, peningkatan kapasitas tidak hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan produksi pesawat baru, tetapi juga untuk mendukung perbaikan dan pemeliharaan armada F-35 yang semakin besar.
Baca juga: AS Krisis Senjata, Stok Rudal Patriot dan Tomahawk Menipis: Habis-habisan usai Perang Lawan Iran
Hal ini menjadi perhatian karena semakin banyaknya pesawat F-35 yang beroperasi turut meningkatkan kebutuhan perawatan dan perbaikan.
Karena itu, sebagian investasi Lockheed Martin akan dialokasikan untuk membangun jalur perbaikan khusus di pabrik produsen peralatan asli.
Dengan adanya jalur perbaikan khusus, Lockheed Martin berharap proses pemeliharaan dapat berjalan lebih cepat dan tidak mengganggu kapasitas produksi pesawat baru.
Nilai Kesepakatan F-35 Bisa Tembus 78,2 Miliar Dolar AS
Lewat kesepakatan baru yang ditekan dengan Pentagon, Reuters memperkirakan kerangka kerja produksi F-35 mencapai sedikitnya 78,2 miliar dolar AS atau setara Rp1,4 Triliun.
Perhitungan tersebut mengacu pada harga varian F-35 paling murah yang mencapai sekitar 92 juta dolar AS per unit.
Jika dikalikan dengan target produksi 850 pesawat, nilai pengadaan tersebut mencapai sekitar 78,2 miliar dolar AS.
Namun, nilai akhir kontrak berpotensi meningkat seiring dengan inflasi, kenaikan biaya tenaga kerja, serta perubahan harga komponen.
Selain itu, komposisi pesawat yang akan diproduksi dalam kesepakatan tersebut belum diketahui secara pasti.
F-35 memiliki tiga varian utama yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan operasional berbeda dari masing-masing matra militer AS.
Varian F-35A merupakan pesawat yang dirancang untuk lepas landas dan mendarat secara konvensional. Pesawat ini menjadi varian yang paling murah dengan harga sekitar 92 juta dolar AS per unit.
Sementara itu, F-35B dirancang untuk lepas landas dalam jarak pendek dan mendarat secara vertikal.
Kemampuan tersebut membuat pesawat ini dapat digunakan oleh Korps Marinir AS dalam operasi yang membutuhkan fleksibilitas lebih tinggi.
Untuk harga F-35B diperkirakan mencapai sekitar 121 juta dolar AS per unit. Sedangkan F-35C varian yang dirancang untuk beroperasi dari kapal induk Angkatan Laut AS harganya mencapai sekitar 110 juta dolar AS per unit.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa nilai akhir kesepakatan sangat bergantung pada jumlah masing-masing varian yang akan diproduksi.
Lockheed Martin Naikkan Proyeksi Penjualan dan Laba 2026
Sebagai informasi kesepakatan produksi F-35 datang ketika Lockheed Martin mencatat peningkatan permintaan terhadap berbagai produk pertahanan.
Perusahaan tersebut menaikkan proyeksi penjualan tahun 2026 menjadi sekitar 80 miliar hingga 82 miliar dolar AS.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berada pada kisaran 79,75 miliar hingga 81,75 miliar dolar AS.
Lockheed Martin juga meningkatkan proyeksi laba per saham tahunannya menjadi 30,35 hingga 30,75 dolar AS.
Sebelumnya, perusahaan memperkirakan laba per saham berada pada kisaran 29,95 hingga 30,65 dolar AS.
Selain penjualan dan laba, Lockheed Martin turut menaikkan proyeksi arus kas bebas tahun 2026 menjadi sekitar 7,8 miliar hingga 8 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 7 miliar hingga 7,2 miliar dolar AS.
Peningkatan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memperkirakan permintaan terhadap produk pertahanan akan tetap tinggi.
Lockheed Martin tidak hanya memproduksi jet tempur F-35, tetapi juga memasok berbagai sistem persenjataan, termasuk sistem pertahanan rudal Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) dan pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).
Meningkatnya kebutuhan terhadap sistem pertahanan udara dan amunisi membuat perusahaan memiliki peluang untuk meningkatkan produksi sekaligus memperbesar pendapatan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap industri pertahanan AS meningkat seiring dengan berbagai konflik geopolitik yang terjadi di sejumlah kawasan.
(Tribunnews.com / Namira)