Kabut Asap di Malaysia Kian Pekat, Semua Sekolah di Johor Diliburkan Sepekan ke Depan - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kabut-asap-di-Melaka-Malaysia-OK.jpg)
Ringkasan Berita:
- Seluruh sekolah dan lembaga pendidikan di Johor ditutup selama lima hari (12–16 Oktober 2026) atas titah Pemangku Raja Johor
- Kebijakan darurat ini berdampak pada 1.198 sekolah dan 617.258 siswa, melengkapi penutupan dua hari yang sempat diberlakukan sebelumnya pada 8–9 Oktober
- Perpanjangan libur dipicu oleh ancaman polusi lintas batas terbawa angin dari Kalimantan pada 13–15 Oktober, akumulasi partikel halus, serta angka Indeks Pencemar Udara (API) yang stagnan di tingkat tidak sehat
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Negara Bagian Johor, Malaysia, mengambil langkah tegas menghadapi krisis pencemaran udara yang kian memburuk.
Hal ini bisa dilihat dari kebijakan yang dirilis oleh Pemerintahan Johor pada Sabtu (10/10/2026) waktu setempat.
Di dalam rilis tersebut, diumumkan bahwa seluruh sekolah dan lembaga pendidikan di wilayah Johor dipastikan akan tetap ditutup selama lima hari ke depan.
Penutupan tersebut terhitung mulai Senin (12/10/2026) hingga Jumat (16/10/2026).
Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Johor, Dr. Muhammad Naqib Md Ghazali, mengonfirmasi bahwa perpanjangan masa penutupan sekolah ini diambil setelah mencermati tren polusi udara di wilayahnya.
Keputusan ini menurutnya harus diambil karena risiko kesehatan yang mengintai para siswa dan tenaga pengajar.
Keputusan untuk merumahkan para siswa tersebut diambil atas arahan langsung pimpinan tertinggi di kerajaan setempat guna mengutamakan keselamatan warga dari paparan asap beracun.
“Keputusan ini dibuat demi menghormati titah Pemangku Raja Johor, Tunku Mahkota Ismail, yang senantiasa memprioritaskan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat Johor. Prioritas ini secara khusus menyangkut para siswa dan komunitas pendidikan mengingat kabut asap dan memburuknya kualitas udara yang melanda negara bagian ini,” tegas Dr. Muhammad Naqib dalam keterangan resminya pada Sabtu (10/10/2026) malam.
Baca juga: Seloroh Anwar Ibrahim soal Surplus APBN Malaysia: Bonus Buat Penanganan Kabut Asap Boleh?
Dampak Penutupan Sekolah
Kebijakan ini memperpanjang penutupan sekolah sebelumnya yang sempat diberlakukan selama dua hari pada 8 dan 9 Oktober.
Dampak dari kebijakan darurat ini melingkupi 1.198 sekolah dan sedikitnya 617.258 siswa, baik sekolah negeri di bawah Kementerian Pendidikan Malaysia maupun sekolah agama milik pemerintah negara bagian.
Salah satu faktor utama yang mendorong perpanjangan libur sekolah ini adalah perkiraan pergerakan angin.
Pemerintah Johor mengantisipasi adanya potensi polusi lintas batas yang terbawa aliran angin dari wilayah Kalimantan pada rentang 13 hingga 15 Oktober, yang diperkirakan akan memperparah kondisi udara di Johor.
“Selain itu, risiko meningkatnya dan tertumpuknya konsentrasi partikel halus di atmosfer, dikombinasikan dengan pergerakan udara yang lambat, dapat menyebabkan kabut asap bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama. Bacaan Indeks Pencemar Udara (API), yang tetap stagnan di antara 170 dan 180, juga menunjukkan bahwa kualitas udara masih berada dalam kategori 'tidak sehat',” ungkap Dr. Muhammad Naqib.
Imbauan untuk Orang Tua
Akibat penutupan ini, seluruh agenda evaluasi akademik serta ujian sekolah yang telah dijadwalkan pada pekan depan akan ditunda dan dijadwalkan ulang oleh Departemen Pendidikan Johor.
Kendati demikian, proses belajar mengajar tidak berhenti total.
“Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR) akan berlanjut jika memungkinkan untuk memastikan bahwa pembelajaran para siswa tidak terganggu,” lanjutnya seperti yang dikutip dari The Star.
Pemerintah setempat bersama instansi juga berjanji akan terus memantau pergerakan kualitas udara secara berkala.
Setiap keputusan terbaru mengenai pembukaan kembali sekolah akan diumumkan secara resmi setelah mengevaluasi perkembangan kondisi keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Di akhir keterangannya, Dr. Muhammad Naqib mengimbau para orang tua dan wali murid untuk membatasi aktivitas anak-anak di luar rumah, memastikan kecukupan konsumsi air putih, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala batuk terus-menerus, sakit tenggorokan, atau sesak napas.
“Pemerintah negara bagian menyadari bahwa keputusan ini membutuhkan pemahaman, kerja sama, dan penyesuaian dari berbagai pihak. Kendati demikian, keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan anak-anak Johor tetap menjadi prioritas kami dan tidak dapat dikompromikan,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/Bobby)