Ancam Serang AS dan Israel Tanpa Batasan, Pejabat Iran Sebut Trump Disetir Netanyahu - Tribunnews
Teheran menegaskan tidak akan lagi membedakan target militer Amerika Serikat dan Israel jika serangan terhadap Iran kembali terjadi.
Tayang:
NETANYAHU DAN TRUMP - Foto yang diunggah PM Israel Benjamin Netanyahu di Instagram pribadinya pada 28 Juli 2026. Teheran menegaskan tidak akan lagi membedakan target militer Amerika Serikat dan Israel jika serangan terhadap Iran kembali terjadi.
Ringkasan Berita:
- Pejabat senior Iran menegaskan akan memperlakukan target AS dan Israel secara setara tanpa membedakan jika timbul agresi baru.
- Iran menilai keputusan Donald Trump banyak dipengaruhi oleh Benjamin Netanyahu, yang memicu ketegangan dan perbedaan pandangan di internal pemerintahan AS sendiri.
- Wapres AS JD Vance mengakui adanya kegagalan mendasar dan kesalahan penempatan pasukan AS dalam penanganan perang melawan Iran menyusul jatuhnya korban dari militer Amerika.
TRIBUNNEWS.COM - Seorang pejabat senior keamanan dan politik Iran memberikan peringatan keras bahwa Teheran tidak akan lagi membedakan antara kepentingan Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam agresi militer apa pun di masa depan.
Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa seluruh target potensial AS dan Israel kini dianggap sebagai target sah tanpa batasan.
Menurut pejabat tersebut, kendala dan keinginan yang sebelumnya diberlakukan oleh Iran tidak akan berlaku lagi.
Dukungan bentuk apa pun dari Washington terhadap serangan Israel ke wilayah Iran akan ditanggapi dengan balasan luas yang menyasar kedua belah pihak secara setara.
Lebih lanjut, pejabat tersebut menyoroti kuatnya pengaruh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump, mengutip Al Mayadeen, Jumat (23/10/2026).
Ia menilai Trump bersedia mengambil langkah ekstrem demi menyelamatkan Netanyahu dari kekalahan politik.
Baca juga: Iran Ancam Sasar Pusat Data dan Infrastruktur AI AS di Timur Tengah jika Perang Kembali Pecah
Meskipun langkah tersebut menimbulkan penolakan dan keraguan dari figur-figur kunci di dalam pemerintahan Washington sendiri.
Perbedaan pandangan internal di tubuh pemerintahan AS kian terlihat setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, secara terbuka mengakui adanya banyak kesalahan dan kegagalan mendasar dalam penanganan konflik dengan Iran.
Saat berbicara dalam acara diskusi publik CBS News, Vance menanggapi kritikan publik terkait kerugian ekonomi dan korban jiwa dari pihak militer AS.
“Saya tahu ada beberapa masalah, misalnya di mana pasukan ditempatkan di tempat yang kami sadari sebagai kesalahan besar. Dan kami telah memodifikasinya,” katanya.
Kesalahan yang dilakukan termasuk terbunuhnya enam tentara Cadangan Angkatan Darat AS di Kuwait pada akhir Februari lalu.
Vance mengakui adanya kelemahan signifikan pada penempatan pasukan serta alur informasi militer AS.
Meski mengklaim bahwa AS telah meraih kemenangan dalam beberapa aspek, Vance mengakui situasi di lapangan tetap ditentukan oleh respons dan tindakan balasan dari pihak lawan.
Ketika ditanya mengapa Washington belum meraih kemenangan telak meskipun Presiden Donald Trump awalnya mengatakan demikian, Vance mengklaim bahwa AS dalam beberapa hal telah menang secara telak.
Vance juga mengakui bahwa hasilnya juga bergantung pada tindakan Iran.
“Musuh juga mendapat hak suara di sini,” katanya.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/NETANYAHU-DAN-TRUMP-Foto-yang-diunggah-PM-Israel-Benjw.jpg)