Rusia Klaim Sanksi Baru AS akan Persulit Kesepakatan Damai di Ukraina, Tekanan Ekonomi Meningkat - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/juru-bicara-Kremlin-Dmitry-Peskov-mengatakan-negosiator-AS-sedang-dalam-perjalanan-menuju-Rusia.jpg)
Ringkasan Berita:
- RUU sanksi AS menargetkan industri energi dan pertahanan Rusia, serta "armada bayangan" kapal tanker yang menghindari sanksi yang ada.
- Saksi AS untuk merampas pendapatan Moskow guna membiayai perang dengan Ukraina.
- Para pejabat Ukraina menyambut baik pemungutan suara di Dewan Perwakilan Rakyat AS mengenai paket sanksi yang menargetkan pejabat Rusia.
TRIBUNNEWS.COM - Kremlin mengatakan sanksi Amerika Serikat (AS) lebih lanjut terhadap Rusia akan mempersulit tercapainya kesepakatan perdamaian di Ukraina.
Diketahui, Dewan Perwakilan Rakyat AS telah mengesahkan paket sanksi besar-besaran yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Rusia atas perangnya di Ukraina, Rabu (16/9/2026).
DPR AS mengirimkan RUU tersebut kepada Presiden Donald Trump untuk ditandatangani menjadi Undang-undang.
RUU sanksi AS menargetkan industri energi dan pertahanan Rusia, serta "armada bayangan" kapal tanker yang menghindari sanksi yang ada, untuk merampas pendapatan Moskow guna membiayai perang dengan Ukraina.
RUU tersebut juga memberi wewenang kepada Donald Trump untuk mengenakan tarif hingga 100 persen pada China, India, dan negara-negara lain untuk mengurangi ketergantungan mereka pada minyak dan gas Rusia.
“Tentu saja, kami memantau perkembangan dokumen ini. Ini termasuk dalam kategori tindakan tidak bersahabat, dan tentu saja pemberlakuan sanksi tambahan oleh AS pasti akan mempersulit upaya untuk menemukan penyelesaian perdamaian di Ukraina,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov kepada wartawan, Kamis (17/9/2026), dilansir Al Arabiya.
Upaya yang dimediasi AS untuk mengakhiri perang Ukraina selama 4,5 tahun telah terhenti selama berbulan-bulan, tetapi Presiden Donald Trump mengirim dua utusan ke Moskow dan Kyiv awal bulan ini dalam upaya untuk menggerakkan kembali proses tersebut.
Di sisi lain, India telah memperingatkan AS bahwa langkah-langkah baru untuk mengenakan tarif atas pembelian minyak Rusia dapat berdampak pada hubungan bilateral.
Respons Ukraina
Para pejabat Ukraina menyambut baik pemungutan suara di Dewan Perwakilan Rakyat AS mengenai paket sanksi yang menargetkan pejabat Rusia dan sektor-sektor kunci perekonomian.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan langkah-langkah tersebut dapat meningkatkan tekanan pada Moskow dan membatasi sumber daya yang tersedia untuk membiayai upaya perangnya.
Mengesahkan RUU tersebut adalah upaya terakhir mendiang Senator Partai Republik Lindsey Graham.
“Justru RUU Senator Graham, bersama dengan langkah-langkah sanksi keras lainnya yang diambil oleh mitra kami terhadap sumber perang ini, Rusia, yang merupakan alat yang sangat ampuh yang dapat menghentikan perang teroris ini dan memaksa Rusia untuk mencari perdamaian,” tulis Zelenskyy di Telegram, seperti diberitakan AP News, Kamis.
Baca juga: Drone Rusia Hantam Gudang Kvartal 95, Jejak Karier Zelensky sebagai Komedian Ludes
Pada hari Kamis, Ukraina menerima jenazah 252 tentara sebagai bagian dari pertukaran yang sedang berlangsung dengan Rusia, demikian pernyataan badan pemerintah yang menangani tawanan perang di Telegram.
Rusia mengatakan jenazah tersebut adalah warga negara Ukraina, termasuk personel militer, kata kantor berita itu, menambahkan bahwa mereka akan diidentifikasi.
Serangan Rusia ke Ukraina
Serangan rudal dan drone Rusia yang menargetkan ibu kota Ukraina, Kyiv, dan wilayah sekitarnya melukai sedikitnya 19 orang hingga Kamis pagi, kata pihak berwenang.
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan pasukan Ukraina melakukan serangan terhadap target di Rusia, termasuk kilang minyak di Yaroslavl dan lapangan terbang militer di wilayah Rostov.
Upaya perdamaian untuk mengakhiri invasi skala penuh Rusia selama lebih dari 4 tahun telah terhenti, dengan masalah konsesi teritorial di Ukraina timur menjadi salah satu poin utama yang menjadi kendala.
Putaran-putaran pembicaraan yang dimediasi AS berturut-turut gagal menghasilkan terobosan.
Ukraina juga mencari jaminan keamanan dari para mitra untuk mencapai kesepakatan.
Baca juga: Serangan Rusia-Ukraina Menggila, Jenderal Rusia Tewas, Drone Hantam Bus hingga 5 Orang Tewas

Presiden AS Donald Trump mengklaim dalam sebuah unggahan di media sosial pada Senin (14/9/2026) bahwa Rusia dan Ukraina telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing, serangan yang telah menyebabkan masalah pasokan yang signifikan di kedua negara.
Dalam sebuah wawancara dengan CBS News pada Selasa, Zelenskyy membantah klaim Trump.
Zelenskyy mengatakan, meskipun gencatan senjata energi dibahas selama pertemuan baru-baru ini di Kyiv dengan perwakilan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ia hanya akan menyetujui perjanjian tersebut jika Rusia menghentikan serangannya terhadap fasilitas energi Ukraina.
Di sisi lain, sebuah drone Rusia menyerang kapal sipil berbendera Tanzania di Laut Hitam pada hari Kamis, menewaskan kapten kapal dan melukai tiga anggota kru, menurut Oleh Kiper, kepala regional di Odesa.
Struktur atas dan dek kapal mengalami kerusakan dalam serangan pagi itu, kata Kiper di Telegram.
Dia menuduh Rusia sengaja menargetkan pelabuhan Ukraina dan kapal dagang sipil.
Angkatan udara Ukraina mengatakan telah menghancurkan atau menekan 131 target udara Rusia selama serangan pada Rabu malam di wilayah Kyiv, Zaporizhzhia, dan Odesa.
Serangan itu melibatkan rudal balistik dan rudal jelajah, serta drone dan umpan.
Di Odesa, tujuh orang terluka, termasuk dua anak, menurut Layanan Darurat Negara Ukraina.
Apartemen di lantai 14 hingga 16 sebuah gedung apartemen mengalami kerusakan.
Sebuah gedung apartemen pribadi di Odesa juga hancur dan beberapa lainnya mengalami kerusakan.
Sementara itu, Zelenskyy mengatakan operasi Ukraina terhadap Kilang Minyak Yaroslavl dilakukan bersama oleh Dinas Keamanan negara, pasukan operasi khusus, intelijen militer, dan Dinas Intelijen Luar Negeri.
Ia menulis di Telegram bahwa dinas keamanan juga telah menyerang lapangan terbang militer di Rostov, merusak sebuah pesawat An-12, dua pesawat An-26, dan tiga helikopter.
(Tribunnews.com/Nuryanti)