Iran Cium Gerak-gerik AS, Serangan Baru Disebut Segera Terjadi: Negara Timur Tengah Ikut Diultimatum - Tribunnews
Iran Cium Gerak-gerik AS, Serangan Baru Disebut Segera Terjadi: Negara Timur Tengah Ikut Diultimatum
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/style/foto/bank/originals/Iran-sebut-AS-sedang-bersiap-menyerang-negaranya-lagi-ancam-bakal-membalas.jpg)
Ringkasan Berita:
- Iran memperingatkan adanya potensi serangan lanjutan dari Amerika Serikat dan mengancam akan membalas pangkalan militer di Timur Tengah.
- Presiden Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi mulai dari tindakan militer hingga diplomasi di Sidang Umum PBB.
- Teheran menetapkan syarat negosiasi termasuk pencairan dana yang dibekukan dan penghentian blokade angkatan laut di Selat Hormuz.
TRIBUNSTYLE.COM - Iran mengeluarkan peringatan baru di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Komando militer pusat Iran mengatakan telah menerima informasi bahwa Amerika Serikat sedang mempersiapkan serangan lanjutan terhadap negaranya.
Peringatan tersebut disampaikan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yang mengawasi angkatan bersenjata Iran, pada Minggu (20/9/2026), dikutip Tribun Style dari Aljazeera pada Senin (21/9/2026).
Informasi tersebut memunculkan kemungkinan pecahnya kembali pertempuran langsung antara Iran dan Amerika Serikat setelah konflik berskala besar sebelumnya mereda.

Teheran bahkan telah memperingatkan bahwa serangan baru dari Washington akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Iran juga mengingatkan negara-negara di kawasan agar tidak memberikan bantuan kepada Washington.
Baca juga: Strategi Iran Makan Korban: Stok Rudal Amerika Terkuras, Arab Saudi dalam Bahaya Besar
Komando militer Iran mengatakan negara mana pun yang memberikan wilayah atau fasilitasnya untuk mendukung serangan AS akan dianggap terlibat dalam konflik.
Negara-negara tersebut, menurut Iran, juga dapat menghadapi tindakan balasan.
Trump Buka Opsi Serangan hingga Diplomasi
Di tengah ancaman tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya masih berada dalam "mode pengambilan keputusan" terkait Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, Trump menyebut sejumlah pilihan yang sedang dipertimbangkan, mulai dari tindakan militer lebih lanjut hingga tekanan ekonomi dan kesepakatan.
Trump juga mengatakan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pekan ini.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah meninggalkan Teheran menuju New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Media pemerintah Iran melaporkan Araghchi juga akan melakukan persinggahan singkat di Qatar.
Pertemuan di New York tersebut menjadi salah satu peluang diplomasi di tengah meningkatnya kembali ketegangan kedua negara.
Iran Siapkan Kekuatan Militer Sebelum Diplomasi
Sikap Iran juga menunjukkan bahwa Teheran masih mengandalkan kekuatan militer sebagai bagian dari strateginya menghadapi Washington.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan pada Minggu bahwa Teheran harus menggunakan kekuatan militer untuk menghadapi lawan-lawannya sebelum beralih ke diplomasi.
Iran juga telah menyampaikan sejumlah syarat kepada mediator dari Qatar dan Pakistan untuk kembali memulai pembicaraan.
Baca juga: Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung Tegas Tolak Permintaan Militer AS Terkait Iran
Syarat tersebut antara lain penghentian perang dan serangan Amerika Serikat, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ghalibaf juga mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington memenuhi apa yang disebut Iran sebagai komitmennya berdasarkan kesepakatan sebelumnya.
Koresponden Al Jazeera di Teheran, Tohid Asadi, mengatakan para pejabat Iran sengaja mengirimkan pesan ganda.
Di satu sisi, Iran disebut masih membuka kemungkinan diplomasi. Namun di sisi lain, Teheran juga bersiap menghadapi kemungkinan pertempuran kembali pecah.
Qatar Jadi Penghubung Iran-AS
Qatar masih berupaya menjadi penghubung antara Iran dan Amerika Serikat.
Negara Teluk tersebut mengatakan para pejabatnya melakukan perjalanan antara kedua ibu kota serta bertukar proposal yang ditujukan untuk membuka kembali negosiasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan Doha telah menerima jaminan dari pejabat Amerika Serikat bahwa Washington menginginkan kesepakatan.
Namun, situasi di lapangan masih menunjukkan adanya ketegangan.
Konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat telah mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu jalur penting pengiriman energi dunia.
Data pelayaran menunjukkan hanya 12 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan. Jumlah tersebut turun dari 35 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Konflik sebelumnya disebut dimulai pada akhir Februari setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Baca juga: Trump Pertimbangkan Opsi Serang Iran di Tengah Tekanan Militer, Aset Militer Vital Hancur
Kesepahaman selama 60 hari yang dicapai pada Juni kemudian membantu mengurangi pertempuran berskala penuh. Namun, kesepahaman tersebut berakhir bulan lalu dan ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat.
Mark Pfeifle, ahli strategi Partai Republik dan mantan pejabat keamanan nasional Gedung Putih, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran dan AS saat ini "terjebak dalam konflik yang membeku".
Menurut Pfeifle, kedua negara sedang berupaya meningkatkan tekanan masing-masing menjelang kemungkinan diplomasi yang bertepatan dengan pertemuan di PBB.
Dengan adanya klaim Iran mengenai persiapan serangan baru AS dan ancaman pembalasan dari Teheran, situasi kini berada di antara dua kemungkinan: kembali menuju konfrontasi militer atau membuka jalan bagi perundingan baru. (Tribun Style)