Houthi Rebut Pulau Zuqar di Selatan Laut Merah, Arab Saudi akan Respons Keras - Sindo news
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Kamis, 10 September 2026 - 19:41 WIB

Kelompok Houthi merebut Pulau Zuqar di selatan Laut Merah. Foto/anadolu
A A A
SANAA - Saksi mata mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa mereka melihat pasukan Houthi memasuki kota pelabuhan Mocha yang strategis pada hari Kamis (10/9/2026) sambil meneriakkan "mati bagi Amerika, mati bagi Israel". Kabar itu menunjukkan semakin memanasnya perang antara Houthi dan pasukan Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi.
Seorang sumber militer yang tidak disebutkan namanya mengatakan, “Kelompok Houthi merebut Pulau Zuqar di selatan Laut Merah setelah serangan roket dan serangan darat yang dilakukan menggunakan perahu pengangkut para petempur."
Pertempuran di Yaman sejak pekan lalu telah menewaskan 500 orang, sebagian besar adalah kombatan, menurut data AFP yang dihimpun dari berbagai sumber.
Hampir 20.000 orang telah mengungsi dari rumah mereka, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Analis kebijakan luar negeri Arab Saudi, Abdulaziz Alghashian, menggambarkan, “Kemajuan pesat Houthi di Yaman selatan sebagai hal yang mengkhawatirkan, mengecewakan, namun mungkin tidak terlalu mengejutkan."
“Penguasaan atas Mocha tidak serta-merta disebabkan oleh kekuatan Houthi, melainkan kemungkinan akibat kekacauan di kubu pasukan anti-Houthi," ujarnya kepada Al Jazeera.
Saat ditanya mengenai langkah selanjutnya bagi Arab Saudi, ia menjawab, "Menurut pandangan saya, ada dua hal dari sudut pandang Saudi. Pertama adalah bagaimana Saudi akan menyikapi serangan langsung Houthi terhadap wilayah Arab Saudi. Di sinilah menurut saya akan ada respons yang tegas, namun lebih terukur dan bersifat balasan setimpal. Saudi tidak ingin terlibat dalam kampanye militer yang berlarut-larut."
"Terkait keamanan maritim, di sinilah Saudi akan mulai bertindak dalam kerangka kerja multilateral," tambah Alghashian.
Kelompok Houthi memicu kembali permusuhan—setelah sempat terjadi ketenangan relatif selama bertahun-tahun—pada bulan Juli, ketika mereka mengizinkan pesawat penumpang Iran mendarat sebagai bentuk pembangkangan terhadap kendali Arab Saudi atas wilayah udara Yaman.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional membalas dengan menyerang bandara di ibu kota Sanaa. Serangan itu menurut Houthi dilakukan oleh pihak pendukung pasukan Yaman, yakni Arab Saudi.
Aksi saling serang yang terus berlangsung ini mengancam akan menyeret kembali Yaman ke dalam perang yang telah menewaskan ratusan ribu orang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia antara tahun 2015 hingga 2022.
Setelah merebut Sanaa dan memaksa pemerintah Yaman untuk pindah ke Aden di wilayah selatan, kelompok Houthi bertempur melawan koalisi pimpinan Arab Saudi sejak tahun 2015 hingga tercapainya gencatan senjata yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2022.
Baca juga: Houthi Rebut Kota Strategis al-Makha, Pukulan Telak bagi Pasukan Yaman yang Didukung Arab Saudi
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

Jet Tempur F/A-18 AS Seharga Rp1 Triliun Hilang di Laut Merah
Terpopuler
1
2
3
4
5





