Houthi Mengamuk, Mocha dan Pulau Perim Jatuh Hanya 36 Jam, Saudi-AS Dituding Kecolongan - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kelompok-milisi-Houthi-melancarkan-serangan-udara-masif-ke-fasilitas-vital-di-Arab-Saudi-selatan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kelompok Houthi dilaporkan berhasil merebut kota pelabuhan Mocha dan Pulau Perim dalam rentang sekitar 36 jam.
- Dua wilayah tersebut bukan sekadar titik di peta, tetapi memiliki nilai strategis karena berada di sekitar Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.
SERAMBINEWS.COM – Peta kekuatan di pesisir barat Yaman berubah drastis dalam waktu kurang dari dua hari.
Kelompok Houthi dilaporkan berhasil merebut kota pelabuhan Mocha dan Pulau Perim dalam rentang sekitar 36 jam. Dua wilayah tersebut bukan sekadar titik di peta, tetapi memiliki nilai strategis karena berada di sekitar Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.
Keberhasilan cepat Houthi kini memicu pertanyaan serius terhadap kesiapan pasukan anti-Houthi serta koordinasi antara Yaman, Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Mocha Jatuh Setelah Bantuan Udara Tak Kunjung Datang
Serangan besar terhadap Mocha disebut dimulai pada Kamis pagi.
Menurut seorang sumber senior militer Yaman yang dikutip CNN, Houthi mengerahkan kekuatan besar dalam serangan tersebut, termasuk gelombang pasukan, rudal balistik dan berbagai jenis persenjataan.
Di tengah tekanan serangan, komandan militer Yaman disebut telah meminta dukungan udara dan menghubungi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Baca juga: Pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain Hancur Lebur Diserang Iran, Washington Pikirkan untuk Pergi
Rekomendasi Untuk Anda
Sumber tersebut mengklaim mendapat jaminan bahwa situasi sedang dipantau dan dukungan udara dari Arab Saudi akan segera diberikan.
Namun, menurut sumber yang sama, bantuan udara yang diharapkan tidak kunjung tiba.
"Namun dukungan udara tidak pernah datang. Dan Mocha sekarang telah jatuh," kata sumber tersebut.
Tidak lama setelah Mocha dikuasai, Houthi kembali bergerak.
Kali ini sasarannya adalah Pulau Perim, pulau strategis yang berada di sekitar pintu masuk Bab al-Mandeb.
Jatuhnya dua lokasi dalam waktu singkat membuat kekhawatiran terhadap kemampuan Houthi mengendalikan atau mengganggu aktivitas pelayaran di kawasan tersebut kembali mencuat.
Mengapa Pulau Perim Sangat Penting?
Bab al-Mandeb merupakan jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, sekaligus menjadi bagian penting dari rute pelayaran menuju Terusan Suez.
Artinya, setiap gangguan serius di kawasan tersebut berpotensi berdampak jauh melampaui Yaman.
Houthi sendiri selama ini telah menggunakan kemampuan rudal dan drone untuk mengancam kapal-kapal di sekitar Laut Merah.
Dengan posisi yang semakin kuat di pesisir barat Yaman, kelompok tersebut berpotensi memperoleh daya tawar tambahan terhadap lalu lintas maritim.
Amr Al-Bidh, pejabat senior Dewan Transisi Selatan Yaman, bahkan memperingatkan bahwa Houthi tidak memerlukan persenjataan berteknologi tinggi untuk mengganggu Bab al-Mandeb.
"Mereka tidak perlu menggunakan senjata canggih untuk menutup Bab al-Mandeb. Mereka bisa menggunakan meriam di atas mobil," ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa rentannya jalur sempit tersebut jika konflik kembali meluas.
Saudi dan Trump Disebut Terlibat dalam Pembicaraan Darurat
Di tengah perkembangan tersebut, muncul laporan mengenai komunikasi tingkat tinggi antara Riyadh dan Washington.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman disebut berbicara dua kali dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis.
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan itu, Mohammed bin Salman meminta Trump melakukan serangan langsung terhadap Houthi.
Namun, Trump dilaporkan tidak menyetujui intervensi langsung tersebut.
Gedung Putih kemudian menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap berkepentingan menjaga keamanan nasional dan kebebasan navigasi di Laut Merah, tetapi mendorong negara-negara kawasan mengambil peran lebih besar dalam menangani keamanan regional.
Situasi tersebut menambah tekanan terhadap Riyadh dan pemerintah Yaman untuk menjelaskan mengapa dua posisi strategis dapat jatuh dalam waktu begitu singkat.
Masalah Besar Justru Ada di Tubuh Pasukan Yaman
Kekalahan di Mocha disebut tidak semata-mata berkaitan dengan kekuatan Houthi.
Salah satu sumber Barat yang mengetahui operasi militer tersebut mengatakan pasukan Yaman di Mocha mengalami kekurangan personel serius.
Bahkan, daftar personel disebut mencantumkan sejumlah nama yang secara administratif terdaftar sebagai anggota militer tetapi tidak benar-benar berada di medan tempur.
Akibatnya, kekuatan nyata pasukan disebut jauh lebih kecil dibandingkan angka yang tercatat secara resmi.
Sumber tersebut memperkirakan personel yang benar-benar tersedia di lapangan hanya sekitar 20 persen dari kekuatan yang tercatat di atas kertas.
Jika angka tersebut akurat, persoalannya bukan sekadar kekurangan senjata, tetapi juga masalah struktural dalam sistem pertahanan Yaman.
Kepergian UEA Memperburuk Situasi
Kondisi tersebut semakin rumit setelah Uni Emirat Arab menarik pasukannya dari Yaman.
UEA sebelumnya merupakan salah satu pemain penting dalam koalisi yang dipimpin Arab Saudi dan memiliki pengaruh kuat di wilayah selatan serta pesisir Yaman.
Setelah perselisihan dengan Riyadh, pasukan UEA yang tersisa disebut meninggalkan Yaman pada Januari.
Namun, menurut sumber yang dikutip dalam laporan tersebut, posisi dan pangkalan yang ditinggalkan tidak segera diisi kembali oleh Arab Saudi.
Amr Al-Bidh menilai kondisi tersebut memperlihatkan lemahnya perencanaan.
"Ini hanya menunjukkan kurangnya strategi dan buruknya manajemen," katanya.
Saudi Disebut Siaga, tetapi Komando Udara Dipertanyakan
Ironisnya, militer Arab Saudi disebut telah berada dalam status siaga tinggi selama sekitar tiga pekan.
Namun, sumber Barat yang mengetahui operasi tersebut mengklaim Riyadh tidak menempatkan personel penting untuk mengoperasikan komando udara di posisi yang diperlukan.
Akibatnya, ketika serangan Houthi meningkat, kemampuan untuk mengarahkan dan mengoordinasikan pesawat tempur disebut tidak optimal.
"Saudi melemparkan Yaman ke bawah bus," kata sumber tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan telah menempatkan lebih dari 100 penasihat militer di Arab Saudi untuk membantu urusan intelijen dan penargetan.
Seorang pejabat AS bahkan memperkirakan sekitar 200 personel Amerika berada di Arab Saudi.
Namun keberadaan penasihat tersebut tidak otomatis berarti Washington akan melakukan intervensi tempur langsung terhadap Houthi.
Houthi Diprediksi Belum Berhenti
Penguasaan Mocha dan Pulau Perim berpotensi memberikan Houthi keuntungan strategis baru.
Analis risiko Mohammed al-Basha memperkirakan kelompok tersebut kemungkinan akan melanjutkan pergerakannya ke wilayah timur.
"Saya pikir Houthi akan bergerak ke timur," katanya.
Menurutnya, citra satelit dan informasi sumber terbuka menunjukkan adanya indikasi pengerahan pasukan untuk operasi berikutnya.
Jika benar, jatuhnya Mocha dan Perim mungkin bukan akhir dari operasi Houthi, melainkan bagian dari fase baru untuk memperluas pengaruh mereka di pesisir Yaman.
Iran Sambut Kemajuan Houthi
Kemajuan Houthi juga mendapat sambutan dari Iran.
Seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran menggambarkan kemajuan Houthi di pantai barat Yaman sebagai sebuah "kemenangan yang jelas."
Bagi Teheran, menguatnya posisi Houthi memiliki arti strategis karena kelompok tersebut merupakan salah satu aktor penting dalam jaringan kekuatan regional yang berafiliasi atau dekat dengan Iran.
Jika pengaruh Houthi terhadap Bab al-Mandeb semakin besar, tekanan terhadap jalur perdagangan internasional juga dapat meningkat.
Dan di sinilah persoalan Yaman berubah menjadi persoalan dunia.
Satu perang lokal kini berpotensi mengancam salah satu jalur laut yang menghubungkan perdagangan Asia, Timur Tengah dan Eropa.
Jatuhnya Mocha dan Pulau Perim dalam waktu sekitar 36 jam karena itu bukan hanya cerita tentang kekalahan di medan perang.
Ini adalah ujian besar bagi strategi koalisi anti-Houthi—sekaligus peringatan bahwa perebutan kendali atas jalur laut strategis dapat mengubah konflik Yaman menjadi masalah ekonomi dan keamanan global.(*)